MajalahKebaya.com, Jakarta – Profesi sebagai seorang pilot membutuhkan kemampuan teknis dan soft skill atau keterampilan non-teknis yang tidak mudah dikuasai. Antara lain: pengetahuan aerodinamika, navigasi, sistem pesawat, kemampuan berhitung cepat, berpikir kritis dan problem solving, fisik dan mental yang kuat seperti tenang di bawah tekanan dan percaya diri, serta keterampilan komunikasi dan kepemimpinan. Masa belajarnya pun tidak singkat. Namun bagi Yustissia Nurul Afia, semua itu adalah tantangan yang memacu semangatnya untuk meraih impian sejak ramaja, menjadi seorang pilot.
Bisa menerbangkan pesawat, berkelana dari satu kota ke kota lain bahkan ke berbagai negara di dunia, merupakan suatu hal yang menakjubkan dan mengagumkan terutama bagi wanita. Meskipun tantangan membawa ‘burung raksasa’ itu tidak kecil terlebih saat cuaca sedang tidak bersahabat, ditambah stigma yang masih kuat di masyarakat yang meragukan kemampuan wanita untuk menerbangkan pesawat. Namun tekad dan semangat Tissia telah membuktikan dirinya sebagai perempuan mampu dan bisa sejajar dengan pilot-pilot pria. Kini ia menjadi salah satu pilot terbaik di Air Asia, dengan jam terbang yang terbilang tinggi.
“Saya masih mendengar celotehan, ‘..perempuan nyetir mobil saja tidak bener, bagimana mau mengemudikan pesawat..?’ Bahkan ada juga yang bilang, ‘..perempuan baca map saja tidak becus, bagimana mau bawa pesawat..’,” ungkap Tissia. Menghadapi komentar-komenter itu, ia berusaha santai bahkan semakin bersemangat menjalankan profesinya.

Impian Sejak Remaja
Menjadi pilot merupakan keinginan Tissia sejak duduk di bangku SMA Dwi Warna Boarding School, Parung, Bogor, Jawa Barat. Saat itu ia diajak bepergian oleh kedua orangtuanya ke luar negeri naik pesawat terbang. Ia sempat kaget dan kagum karena yang menerbangkan pesawat yang ditumpanginya adalah seorang wanita, lantas mendadak terlintas di benaknya ingin menjadi seorang pilot.
“Langsung saja saya bilang keinginan saya itu ke Mama dan Papa, eh.. ternyata mereka suka dan langsung men-support saya,” ujar Tissia, putri bungsu dari 4 bersaudara pasangan Hj. Siti Nurhandiah dan Ir. H. Jaime Taguba, pemilik Istana Kerang Cirebon.
Mendengar cita-cita Tissia yang serius ingin menjadi pilot pesawat terbang, teman-teman sempat menatap aneh seperti tidak percaya. Begitupun gurunya. Mereka masih berpikir, apakah mungkin seorang wanita mengemudikan pesawat terbang? Tapi keinginan Tissia tak goyah, tetap ingin menjadi pilot.
Karena niat wanita kelahiran Cirebon, 9 Agustus 1999 ini sudah kuat untuk menjadi pilot, maka Tissia pun bersemangat untuk menekuni pendidikan pilot. Sejak kelas 2 SMA, ia sudah mencari berbagai info tentang sekolah penerbangan baik di dalam maupun luar negeri. Mencari informasi saat itu tak semudah seperti saat ini dimana media sosial begitu mudah menjangkau informasi apapun, di mana pun.
Beruntung Tissia berhasil mendapat info tentang sekolah pilot di Bali yang bernama Bali International Flight Academy (BIFA). Ia pun langsung mendaftar pendidikan pilot di Bali saat duduk di kelas 3 semester 1. ”Cita-cita saya memang sebelum lulus SMA, saya sudah harus diterima di sekolah pilot,” jelas Tissia antusias.
Selalu Cemas Saat Cuaca Buruk
Ternyata masuk sekolah pilot itu tidak mudah, berbagai tes harus dijalani baik fisik maupun psikis. “Mata saja ada batasan minusnya, gigi tidak boleh bolong, gigi harus rapi, tinggi badan ada minimalnya, berat badan ada batasannya, belum lagi tes Bahasa Inggris yang ternyata tidak umum dan itu dilaksanakan bukan dari pihak sekolah tapi dari pihak penerbangan Indonesia. Seluruh tes dijalani hingga 5 tahap dan harus lulus. Saya berhasil melalui semua itu dan lulus hingga akhirnya interview di BIFA,” kenang wanita cantik yang suka membuat konten di YouTube ini.
Pengalaman pertama belajar di sekolah pilot, tahap awal adalah ground school yang membahas masalah berbagai teori penerbangan setelah itu mulai menerbangkan pesawat yang didampingi instruktur. “Belajar mengemudikan pesawat kecil dulu, saya belajar landing dulu kemudian take off yang tempatnya di Banyuwangi. Kalau ujian baru ada checker-nya. Dalam mengemudikan pesawat kita tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun, misal kita mau switch,salah sedikit saja, nilai kita langsung berkurang,” cerita Tissia.
Setelah menekuni pendidikan di sekolah pilot sekitar 1 tahun 2 bulan, Tissia pun lulus pada tahun 2019, bersamaan dengan datangnya pandemi Covid 19 di penjuru dunia. Saat itu ternyata kebutuhan akan tenaga pilot di Indonesia tidak banyak atau berkurang. Sudah banyak slot yang terisi. Namun, keberuntungan agaknya berpihak pada Tissia karena ia justru diterima bekerja di perusahaan penerbangan Air Asia. “Allah memang sayang sekali sama saya jadi saya diterima bekerja di saat penerbangan di mana pun dan ke mana pun berkurang,” ujar Tissia dengan mata berbinar.
Tissia mulai menjalani training sekitar Maret 2020. Ia sempat tak terbang selama 6 bulan karena memang ada kebijakan tak boleh ada penerbangan, tapi setelah itu Tissia langsung terbang. Hingga saat ini Tissia sudah menjalani semua rute Air Asia, baik dalam maupun luar negeri.
Minta Doa Mama Papa Setiap Kali Terbang
Karena sudah menjadi passion, pekerjaan sebagai pilot dijalankan Tissia dengan sukacita. Ia sangat menikmati profesinya. Meskipun terkadang ada kecemasan, terutama ketika menghadapi cuaca akhir tahun yang buruk. “Ini beban terberat saya, semalam sebelum terbang saya sudah mulai mengira-ngira, besok terbang cuacanya bagus atau tidak ya? Meski sudah beberapa tahun kerja dan memiliki jam terbang, tetap saja ada kecemasan menghadapi cuaca buruk,” ungkapnya jujur.
Biasanya Tissia selalu minta doa Mama dan Papa setiap akan terbang agar penerbangan lancar dan selamat mengingat ia membawa banyak penumpang. Terlebih menghadapi perubahan cuaca yang kadang tak jelas. Misal saat take off di Jakarta cuaca cerah, namun saat menuju Hongkong cuaca berubah, terjadi hujan, petir, turbulance. ”Kalau sudah begini yang bisa kita lakukan berusaha tetap tenang dan berdoa agar Allah melindungi perjalanan ini,” lirihnya.
Dalam penerbangan posisi Tissia memang masih Co-Pilot, belum Kapten. Meski demikian saat terbang terkadang ia yang lebih dulu memegang kendali setelah itu diganti Kapten Pilotnya. Namun terkadang sebaliknya, Kapten duluan barulah Co-Pilot. “Jadi, dalam penerbangan tetap ada dua penerbang yang duduk di belakang kemudi,” ungkap Tissia, sambil menjelaskan untuk menjadi Kapten Pilot, ada tahapannya dan harus mengumpulkan jam terbang yang banyak.
Ke depan, ketika kontraknya di perusahaan penerbangan sekarang berakhir, Tissia berkeinginan pindah ke perusahaan penerbangan yang lebih besar di Timur Tengah seperti Emirates, Qatar, Etihad.

Sempat Kuliah di Tengah Padatnya Jam Terbang
Menjadi pilot wanita di perusahaan penerbangan ternama tentunya ada kebanggaan tersendiri terlebih jumlah pilot wanita tidak banyak. Saat pendidikan, belum tentu tiap angkatan ada wanitanya. Untuk perbandingan siswa laki-laki dan perempuan, biasanya 26 laki-laki, 4 perempuan. “Jadi, memang masih jarang sekali pilot perempuan terutama untuk domestik paling setiap maskapai hanya memiliki kurang dari 10 persen pilot perempuan,” jelasnya.
Tissia yang gemar berkuda dan memasak, dalam keseharian menjalankan tugas sebagai pilot selalu mengenakan hijab. Ini juga merupakan kendala terutama ada beberapa maskapai penerbangan yang masih tak mengijinkan pilotnya mengenakan hijab. “Tapi untungnya Air Asia mengijinkan sehingga saya merasa nyaman dan tak ada kendala saat bertugas,” tamban Tissia.
Sebagai pilot, Tissia memiliki jam kerja dalam sehari 14 jam kerja sedangkan jam terbangnya 8 jam setiap hari. Kenapa berbeda? “Karena kita harus sampai bandara 1,5 jam sebelum terbang. Misalkan untuk penerbangan dari Jakarta ke Singapura lalu Singapura ke Jakarta. Ketika sampai di Singapura kita berhenti dulu untuk menurunkan dan menaikan penumpang, maka itu masih masuk jam kerja bukan jam terbang. Tapi kalau pesawat itu kita mundurkan kemudian sampai berhenti di tempat tujuan maka itu jam penerbangan,” ungkap Tissia.
Peraturan kerja untuk pilot lumayan ketat, dalam seminggu ia harus terbang maksimal 30 jam terbang. Dalam sebulan maksimal 100 jam terbang, dalam setahun ada juga ketentuan maksimal terbangnya. Jadi, hari kerja dan jam terbang itu harus benar-benar dihitung, tidak boleh melebihi standardisasi yang sudah ditentukan. Untuk istirahat pun ada batasnya minimal harus12 jam. “Kalau malam ini saya pulang jam 9 malam maka tidak boleh ada penerbangan jam 5 pagi pada besok hari,” ujar Tissia.
Di tengah padatnya jam kerja, sebagai wanita muda, tentunya Tissia butuh kehidupan sosial. “Awalnya memang berat karena weekend pun kerja, memang berat karena tidak bisa kumpul sama keluarga juga teman-teman, tapi lama kelamaan setelah dapat ritmenya, tidak masalah. Apalagi jam kerjanya tidak nine to five jadi saya bisa mengatur kegiatan di luar jam kerja terutama menyalurkan hobi berkuda saya dan memasak,” ujar Tissa tersenyum senang.
Bahkan, Tissia masih menyempatkan diri untuk kuliah di Universitas Terbuka secara online, mengambil jurusan Manajemen. Ia merasa masih banyak yang ingin diraih, sehingga harus meningkatkan pendidikannya.
Tissia juga mencoba mengasah jiwa entrepreneurship-nya. Karena sering mondar-mandir ke berbagai kota dan negara, ia memanfaatkan waktunya untuk menerima jastip (jasa titip) dari teman-temannya. “Semua hal yang bisa dilakukan selama tidak mengganggu pekerjaan, saya akan lakukan,” ujar Tissia tersenyum senang.
Jiwa juang dan bisnis Tissia rupanya turun dari kedua orang tua, yang sekaligus sebagai sosok inspiratifnya. Ia sangat mengagumi ibunya yang merupakan pengusaha dan aktif di berbagai kegiatan. Tissia tahu bagaimana perjuangan kedua orangtuanya dalam membuka usaha, melihat ibunya diwawancaa media lantas mendapat penghargaan dari berbagai aktivitasnya. “Mama itu perempuan luar biasa, saya sangat mengagumi Mama,” ungkap pehobi baca novel ini tersenyuum.
