MajalahKebaya.com, Jakarta – Dalam dunia rias pengantin dan upacara adat Jawa, nama Yenri Yulmistasari sudah tak asing lagi. Begitupun nama Taridonolobo yang merupakan sanggar rias pengantin milik keluarganya. Apalagi beberapa waktu lalu Yenri dipercaya menjadi perias utama di acara Ngunduh Mantu putra Presiden Joko Widodo: Kaesang Pangarep dan Erina Gudono di Solo, serta putra Achmad Dani – Maia Estianti dalam upacara adat siraman Al Ghazali.
Dunia merias pengantin memang merupakan bagian dari hidup Yenri, terutama merias pengantin adat Jawa. Dunia yang ditekuninya secara turun temurun dari ibunya almarhumah R.Ay. Tari Donolobo, seorang perias pengantin yang juga pelestari dan pelaku adat tradisi Yogyakarta. Selain itu juga eyangnya, R.Ay. Siti Rochaya Donolobo yang dikenal luas sebagai salah satu Empu paes pengantin di Yogyakarta.
“Saya memang ingin sekali melestarikan warisan budaya dan upacara adat Jawa secara professional dengan berkomitmen membangun reputasi sanggar Tari Donolobo sebagai pusat pelestarian, edukasi, dan inovasi tata rias pengantin Jawa yang konsisten dengan pakem, namun tetap relevan di era modern,” ujar Yenri yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta.
Selain merias pengantin, Yenri juga aktif di organisasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kebetulan suaminya, Muhammad Neil El Himam adalah Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, sehingga sebagai istri ia juga aktif di organisasi Dharma Wanita Kementerian.

Era Digital Memberi Banyak Keuntungan
Tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi yang sangat pesat, semua serba digital dan bergerak cepat, memberikan implikasi yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat. Beragam tantangan muncul pada semua bidang kehidupan, termasuk dunia kerja, keluarga, dan hubungan sosial, serta eksistensi budaya bangsa. Namun, di sisi lain era digital ini memberikan begitu banyak peluang dan keuntungan. Dan, Yenri merasakan banyak keuntungan dan kemudahan, baik dalam karier, usaha, maupun kehidupan keluarganya.
“Saya merasa bahwa era digitalisasi saat ini justru memberi banyak kemudahan dan peluang bagi saya, baik dalam karier maupun kehidupan keluarga. Kehadiran media sosial seperti Instagram memungkinkan saya untuk lebih mudah menjangkau klien-klien yang lebih luas. Saya bisa mempromosikan hasil karya rias pengantin dan upacara adat Jawa secara online serta membangun branding sanggar secara online,” ujar ibunda dari Noor Naila dan Nabil ini.
Begitupun dalam kehidupan keluarga, Yenri mengakui digitalisasi mempermudah komunikasi antara anggota keluarga. Meskipun ia sibuk dengan jadual pekerjaan yang padat, dan jarak cukup jauh, ia tetap bisa berkomunikasi bahkan tatap muka lewat video call dengan suami dan anak-anak kapan pun.
Selain kemudahan, Yenri juga mengakui era digitaisasi ini memiliki tantangan yang cukup berat, terutama yang terkait bidang yang digelutinya. “Tantangannya tidak kecil karena kita harus menjaga keaslian nilai budaya kita di tengah arus informasi yang begitu cepat. Namun dengan sikap adaptif dan selektif, saya lebih merasakan manfaat dan kemudahan era digital ini,” ujar Sarjana Ekonomi ini.
Menghadapi tantangan, Yenri selalu berupaya terus melakukan berbagai terobosan. ”Dalam hal ini kami harus menampilkan upacara adat Jawa baik Solo maupun Yogyakarta yang lebih menarik seperti siraman pengantin, upacara adat panggih dan uborampe/perlengkapan adatnya, sehingga audience menjadi senang dan tidak bosan, tanpa menghilangkan pakem. Demikian juga dengan aksesoris, busana pengantin yang kita gunakan adalah barang-barang yang berkualitas dengan model yang up to date,” jelas Yenri.
Ajak Anak Muda Lestarikan Budaya Bangsa
Sebagai pencinta dan pelestari budaya bangsa, Yenri sangat ingin anak muda sekarang tidak melupakan akar budaya agar tidak punah. Untuk itulah ia merasa sangat senang ketika menjadi perias pengantin Kaesang Pangarep dan Erina Gudono beberapa waktu lalu. Juga saat dipercaya menjadi perias & pelaku upacara adat siraman Al-Ghazali & pre-wedding Al-Ghazali & Allyssa. “Melihat anak muda menggunakan adat istiadat kita saat mereka menikah, rasanya saya senang sekali,” ujar Yenri bahagia.
Sukses sebagai perias pengantin merupakan buah dari kerja keras Yenri selama ini. Kecintaan dan dedikasi diri pada budaya bangsa, adalah passion yang senantiasa menyemangatinya untuk terus berkiprah mempromiskan dan melestarikan budaya lewat karya-karyanya. Nama Yenri semakin banyak dikenal karena konsistensi dan kualitas dirinya yang mumpuni, tergambar dari hasil karya tangannya yang semakin banyak digandrungi masyarakat atau klien-klienya.
Yenri memang tidak mau setengah-setengah dalam memberikan yang terbaik untuk klien. Untuk itu ia terus memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan terkait bidang yang digelutinya. “Yang jelas, saya tidak sungkan belajar di mana saja kapan saja dan dengan siapa saja. Selain itu harus jujur, tepat waktu, konsisten dalam melestarikan nilai-nilai luhur warisan budaya, terus berinovasi dan menjadikan setiap peristiwa sebagai proses untuk bertumbuh. Jangan lupa selalu berdoa dan berharap kebaikan, kemudahan serta perlindungan kepada Allah untuk segala kegiatan yang kita lakukan sehari-hari,” bijaknya.

Jaga Keseimbangan dalam Hidup
Kesibukan yang cukup tinggi dan padat, tidak menampakan kelelahan di wajahnya. Untuk itu Yenri berbagi tips dan kiat agar selalu bisa tampil bugar dan cantik. “Yang jelas tetap menjaga semangat, kesehatan, serta penampilan kita. Semua harus seimbang. Saya rutin berolahraga ringan dan menjaga pola makan sehat, terutama mengonsumsi sayur dan buah,” ungkapnya.
Untuk melepas penat, mengembalikan energi, dan refreshing, Yenri selalu memanjakan diri dengan me time yang berkualitas. “Saya suka sekali menghabiskan waktu dengan traveling, food adventure, atau sekadar menikmati waktu santai menonton film favorit di Netflix. Perawatan kecantikan lebih saya tekankan pada merawat kulit wajah, menjaga kebersihan, serta sesekali melakukan relaksasi seperti spa atau pijat tradisional.”
Tidak kalah penting family time selalu diprioritaskan Yenri. Meskipun dengan kesibukan yang padat, ia tak ingin kehilangan kebersamaan dengan anak dan suami, untuk itu ia berusaha menyeimbangkannya dengan menekankan prioritas dan komunikasi. Yenri berusaha merancang jadwalnya sedemikian rupa supaya tetap bisa mendampingi keluarga, hadir di sanggar, technical meeting dan berkontribusi dalam organisasi di Dharma Wanita maupun di grup pengajian. “Saya memanfaatkan teknologi digital untuk efisiensi waktu, serta selalu berdiskusi terbuka dengan keluarga agar kebutuhan semua pihak bisa terpenuhi.”
Harapan dan Rencana ke Depan
Yenri sangat berharap Sanggar Rias Tari Donolobo senantiasa menjadi pusat edukasi dan pelestarian adat rias pengantin Jawa. Ia ingin mempromosikan produk-produk budaya bangsa melalui pendidikan digital, agar semakin banyak generasi muda Indonesia mengenal dan bangga terhadap warisan budaya sendiri.
“Ke depan, saya juga ingin berkontribusi lebih luas melalui pelatihan, menulis buku, dan membangun jaringan alumni sanggar yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tandas Yenri yang sangat terinpirasi oleh ibunya sendiri yakni R.Ay. Siti Lestari Donolobo. Keteladanan beliau dalam menjaga tradisi, ketekunan, serta kecintaannya pada budaya menjadi motivasi terbesar Yenri untuk terus mengabdi.
