MajalahKebaya.com, Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan layanan kesehatan global, nama Rismayani Puspita Sari atau akrab disapa Risma, menjadi salah satu profesional Indonesia yang berhasil menorehkan reputasi internasional. Saat ini, ia menjabat sebagai Head of Medical Concierge Asia Singapore, sebuah posisi strategis yang menghubungkannya dengan lebih dari 40 Rumah Sakit swasta di berbagai negara Asia, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, India, Korea, hingga negara-negara Indo-China.
Jejak Karier. Lulusan S1 Public Relations ini memulai kariernya di dunia korporasi. Risma pernah bergabung dengan Maybank Indonesia sebagai Marketing Eksekutive yang berkantor di Plaza Senayan, Jakarta. Setelah itu, ia beralih ke Sime Darby Group, sebelum akhirnya mendapat kesempatan besar untuk bekerja di luar negeri.
Karier internasional dimulai Risma ketika pindah ke Kuala Lumpur, mengikuti sang suami yang berkewarganegaraan Malaysia. Ia bergabung dengan KPJ Group (Kumpulan Perobatan Johor), jaringan Rumah Sakit besar dengan 29 cabang di Malaysia. Di sana, ia dipercaya sebagai Corporate Executive untuk Medical Tourism, dengan fokus mempromosikan Rumah Sakit Internasional Malaysia ke luar negeri, khususnya Indonesia.
“Di KPJ saya menangani segmen corporate, insurance, business-to-business (B2B), hingga business-to-government (B2G). Bentuknya bisa kolaborasi dengan bank, komunitas bisnis, perusahaan asuransi, hingga Pemerintah Daerah atau Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Dari KPJ, karier Risma berlanjut ke Prince Court Medical Center, salah satu Rumah Sakit top di Malaysia yang berada di bawah grup internasional IHH. Reputasi dan pengalamannya membuat ia semakin dilirik banyak pihak hingga akhirnya mendapat tawaran untuk bergabung dengan Medical Concierge Asia di Singapura.
“Kalau dulu saya hanya mengurus satu Rumah Sakit, kini saya berkoordinasi dengan lebih dari 40 Rumah Sakit di Asia. Jaringannya lebih luas, pilihannya lebih banyak, dan tentu memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien,” jelasnya.
Di Medical Concierge Asia, Risma tidak hanya menangani kerja sama dengan korporasi atau pemerintah, tetapi juga melayani klien VVIP seperti pejabat maupun sosialita.
Dijelaskan Risma, layanan konsultan medis yang ditawarkan Medical Concierge Asia bersifat gratis bagi pasien. “Pasien hanya perlu berkonsultasi, tidak ada biaya tambahan apa pun. Semua pembayaran langsung dilakukan ke Rumah Sakit, bukan melalui kami. Jadi, pasien bisa lebih tenang dan percaya,” terangnya.

Tanggapi Cibiran Secara Profesional. Bagi Risma, medical tourism bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah jalan panjang yang telah ia tekuni selama lebih dari 10 tahun yang tidak lepas dari tantangan. Selain harus menghadapi berbagai persaingan dengan perusahaan serupa, ia juga harus membagi perannya sebagai seorang ibu bagi kedua putri cantiknya, Raisha Zahra dan Rayna Safiya.
“Saat ini kami tinggal di Kuala Lumpur, dan kantor pusat Medical Concierge Asia (MCA) di Singapore. Ketika ada pekerjaan di Indonesia saya harus meninggalkan mereka. Untungnya, mantan suami sangat suportif dan bisa bergantian menjaga anak-anak,” katanya.
Selain itu, sebagai perempuan, ia sering merasa dianggap remeh. “Banyak yang berpikir pencapaian perempuan itu karena penampilan semata, bukan kemampuan. Saya sering di-underestimate karena dianggap muda atau hanya karena penampilan. Padahal saya sudah bertahun-tahun membangun pengalaman dan jejaring,” ujarnya jujur.
Demi menjawab cibiran negatif tersebut, Risma tak ragu untuk memberikan bukti nyata. “Saya buktikan lewat kerja nyata. Profesionalisme, detail, efektivitas dan jaringan yang luas adalah bukti bahwa saya punya kapasitas. Jadi bukan sekadar kata-kata.”
Dan dalam industri yang penuh persaingan ini, Risma percaya kunci utamanya adalah differentiation. “Saya punya pengalaman langsung di Rumah Sakit Malaysia dan jaringan pribadi dengan banyak dokter spesialis. Jadi, ketika pasien butuh second opinion atau tindakan cepat, kami bisa langsung hubungkan ke dokter tanpa harus menunggu jalur birokrasi. Bahkan beberapa dokter spesialis memberikan telekonsultasi gratis karena kedekatan tersebut,” jelasnya.
Hal ini membuat layanan yang ditawarkan lebih trusted dan seamless. Tidak hanya membantu pasien menjadwalkan konsultasi, bersama tim ia juga mengurus detail lain mulai dari hotel, transportasi, perpanjangan visa, translator, hingga penukaran uang. Bahkan untuk klien VVIP, layanan khusus seperti pick-up dari gate pesawat hingga pendampingan di Rumah Sakit disediakan.
Prestasi Membanggakan. Lebih dari satu dekade berkiprah di dunia medical tourism membuat Risma memiliki rekam jejak yang tidak bisa dianggap biasa. Menariknya, hampir seluruh kesempatan karier yang ia dapatkan bukan melalui proses melamar, melainkan karena dipinang langsung oleh perusahaan.
“Sejauh ini saya tidak pernah melamar kerja. Selalu ada saja tawaran datang, baik dari Rumah Sakit besar maupun perusahaan multinasional. Mungkin karena pengalaman, kredibilitas dan jaringan yang sudah terbangun, jadi mereka percaya untuk menawarkan posisi strategis,” ungkapnya dengan rendah hati.
Bagi Risma, hal ini adalah bentuk pengakuan yang membanggakan. Meski belum mengantongi penghargaan formal atau award bergengsi, kepercayaan untuk langsung direkrut di level internasional adalah prestasi tersendiri. Apalagi, ia bertahan di industri yang relatif masih jarang ditekuni orang Indonesia.
“Biasanya posisi-posisi ini diisi orang lokal. Ada juga orang Indonesia yang sempat masuk, tapi kebanyakan tidak bertahan lama. Saya bersyukur bisa bertahan lebih dari 10 tahun, membangun jaringan, sekaligus membuka jalan bagi pasien Indonesia untuk mendapat akses kesehatan terbaik,” jelas Risma yang sudah mengantongi sertifikasi dari International Marketing Malaysia (IMM) Certified Professional Marketing(CPM) Asia Level.
Memanfaatkan Era Digital. Sebagai profesional di bidang medical tourism, Risma menyadari betul pentingnya memanfaatkan teknologi digital. Hampir seluruh aktivitas bisnisnya kini berjalan secara online, mulai dari promosi hingga interaksi dengan klien.
“Biasanya kami promosi lewat media sosial seperti Instagram, TikTok dan YouTube, dengan membagikan testimonial maupun aktivitas terbaru. Kami punya tim khusus untuk mengelola sosial media, membuat appointment, mencari feedback hingga meluncurkan promosi baru. Semua serba digital,” jelasnya.
Tanpa kantor fisik di Jakarta maupun Kuala Lumpur, Medical Concierge Asia beroperasi lincah dengan basis di Singapura. “Daily activity kami cukup lewat WhatsApp, Zoom, atau Google Meet. Jadi lebih efisien, tidak membuang waktu untuk bertemu fisik. Kalau pun nanti ada kantor, sifatnya lebih untuk formalitas atau tempat menyimpan materi promosi,” tambahnya.
Tidak hanya untuk pekerjaan, teknologi digital juga menjadi sarana penting bagi Risma untuk menjaga kedekatan dengan keluarga. “Setiap hari saya video call dengan anak-anak. Jadi meski harus sering traveling, komunikasi tetap terjaga. Media sosial juga saya gunakan untuk berbagi aktivitas harian, sekaligus menjadi cara promosi agar orang tahu apa yang kami kerjakan,” katanya.
Dengan cara ini, Risma mampu menyeimbangkan antara profesi, keluarga, dan eksistensi sosial di era digital.

Networking, Kunci Menjalin Kepercayaan
Dalam pekerjaannya, Risma berhubungan dengan berbagai pihak dari lintas negara, mulai dari Rumah Sakit, perusahaan asuransi, komunitas bisnis, hingga pemerintah. Untuk itu, baginya networking menjadi kunci utama untuk menjaring klien sekaligus menjaga kepercayaan.
“Biasanya kami lebih banyak melakukan pendekatan ke corporate, seperti bank atau perusahaan asuransi, serta tim pemerintah. Cara kami meyakinkan mereka adalah dengan menunjukkan testimonial dari program atau kerja sama yang sudah berjalan, lalu menampilkan rekam jejak aktivitas terakhir yang sudah kami lakukan,” jelas Risma.
Salah satu strategi efektif adalah melalui event dan health talk. Medical Concierge Asia kerap menghadirkan dokter spesialis dari luar negeri untuk memberikan seminar kesehatan di Indonesia. “Kami tidak hanya meeting, tapi juga membuat edukasi publik lewat seminar dan kemudian masuk ke media lokal. Itu yang membuat orang lebih percaya,” tambahnya.
Indonesia, Pasar Utama Medical Tourism
Menurut Risma, Indonesia adalah pasar terbesar untuk medical tourism di Asia. “Sekarang Rumah Sakit di Indonesia sudah banyak yang bagus, tapi seringkali sangat penuh atau biayanya lebih tinggi. Karena itu, banyak orang mencari second opinion ke luar negeri,” terangnya.
Di sinilah peran Medical Concierge Asia menjadi penting. Tim mereka membantu pasien Indonesia dalam setiap langkah, mulai dari memilih dokter, membuat treatment plan, menghitung estimasi biaya, hingga menentukan berapa lama pasien harus tinggal di luar negeri untuk menjalani perawatan.
“Dengan adanya tim dokter kami, pasien bisa mendapat rekomendasi perawatan yang sesuai prosedur dan lebih terukur, baik dari sisi medis maupun finansial. Semua itu membuat pasien merasa lebih siap dan tenang,” jelas Risma.
Ditambahkan Risma, meski fokus utama Medical Concierge Asia adalah membawa pasien Indonesia ke Rumah Sakit luar negeri, namun ia tidak menutup mata terhadap potensi dalam negeri. Risma menegaskan sudah ada kerja sama dengan beberapa Rumah Sakit besar di Indonesia, seperti Bali International Hospital dan Siloam Group.
“Untuk Bali International Hospital, memang target market mereka masih lebih banyak ekspatriat. Kalau pun pasien harus berobat ke luar negeri, biasanya ke negara-negara sekitar Bali seperti Filipina. Jadi sementara ini kami baru menandatangani MoU, tetapi menunggu tindak lanjut kerja sama yang lebih intens,” terangnya.
Ke depan, Risma dan tim memiliki rencana besar. Mereka berencana melakukan Join Venture (JV) dengan partner lokal Indonesia sehingga bisa membangun basis yang lebih permanen. “Rencananya akan ada perusahaan baru di Indonesia, bukan sekadar cabang, tapi seperti membuka headquarter tambahan. Targetnya di Jakarta atau Surabaya, supaya lebih dekat dengan pasien dan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat,” jelasnya.
Dengan langkah tersebut, Medical Concierge Asia tidak hanya ingin membantu pasien yang mencari pengobatan ke luar negeri, tetapi juga mendukung perkembangan Rumah Sakit dalam negeri. “Visi kami adalah membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih luas, terintegrasi dan profesional, baik untuk pasien yang ingin berobat ke luar negeri maupun yang memilih Rumah Sakit di Indonesia,” tegas Risma.
Harapan untuk Dukungan Pemerintah
Sebagai profesional yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang medical tourism, Risma memiliki pandangan tersendiri mengenai arah kebijakan dan dukungan Pemerintah Indonesia.
Menurutnya, Pemerintah sebenarnya cukup welcome terhadap perkembangan medical tourism. Hanya saja, sebagian besar klinik maupun Rumah Sakit luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia masih menghadapi tantangan infrastruktur. “Saat ini baru Bali yang sudah siap menjadi lokasi klinik luar negeri. Di kota besar lain, fasilitasnya masih belum memadai,” ungkap Risma.
Ia menjelaskan, selama ini organisasi profesi kesehatan di Indonesia lebih mendorong pada konsep studi banding Rumah Sakit luar negeri yang berinvestasi di Indonesia, bukan pasien yang berobat ke luar negeri. “Padahal, kehadiran klinik spesialis internasional di dalam negeri bisa memberi banyak pilihan bagi pasien, sehingga mereka tidak perlu repot ke luar negeri. Misalnya, untuk CT Scan kanker di Indonesia pasien bisa menunggu hingga sebulan, sementara di Malaysia layanan tersedia setiap hari,” jelasnya.
Meski demikian, Risma menegaskan bahwa kualitas dokter Indonesia sebenarnya tidak kalah. “Banyak dokter Indonesia yang sangat bagus. Hanya saja, karena jumlah pasien begitu banyak, waktu tunggu menjadi lama. Sementara pasien ingin cepat mendapat kepastian. Di luar negeri, pasien bisa mendapat konsultasi lebih detail dan bahkan second opinion dari beberapa dokter sekaligus,” tambahnya.
Risma berharap Pemerintah bisa lebih terbuka dalam membangun ekosistem medical tourism yang sehat. “Kalau Indonesia ingin mengembangkan medical tourism, mungkin masih butuh waktu lama. Tapi untuk saat ini, saya rasa tidak ada salahnya pasien mencari second opinion atau layanan terbaik di luar negeri. Justru dengan informasi yang lebih terbuka, masyarakat akan lebih sadar dan punya banyak pilihan,” katanya.
Ke depan, Risma juga berencana menjembatani lebih banyak kerja sama business-to-government (B2G). “Kami pernah diajak bekerja sama oleh sebuah korporasi Indonesia yang secara resmi menunjuk kami sebagai medical concierge team untuk merujuk anggotanya berobat ke luar negeri. Konsep seperti ini sangat baik untuk dikembangkan,” jelasnya.
Baginya, peran Pemerintah ke depan sangat krusial untuk menciptakan sinergi antara Rumah Sakit dalam negeri, klinik luar negeri, serta medical concierge sebagai pihak penghubung. Dengan demikian, pasien Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi bisa benar-benar menikmati layanan kesehatan kelas dunia tanpa hambatan.
