Cover Story

Olivia Putihrai, Berikan Kontribusi Terbaik bagi Bangsa

MajalahKebaya.com, Jakarta – Pengalaman traveling bersama orang tuanya sejak kecil menjadi pengalaman berharga bagi Olivia Putihrai dalam menapaki kariernya saat ini. Banyak nilai yang ditanamkan orang tua, untuk mencapai kesuksesan harus kerja keras, fokus pada tujuan, disiplin, memiliki wawasan yang luas, smart, tahu cara berinteraksi baik dengan partner usaha maupun karyawan, hingga cara memimpin dan menentukan jalannya perusahaan.

“Setiap liburan ayah mengajak saya sejak usia 8 tahun pergi ke luar negeri bersama keluarga untuk mempelajari keindahan kota dan design hotel, gedung, dan tata kota. Beliau juga membawa saya datang ke proyek -proyek yang sedang beliau kerjakan. Jadi sejak kecil saya sudah melihat konstruksi bangunan dan bagaimana ayah saya berinteraksi kepada pekerja proyek. Ini hal yang saya tidak sadari telah membekas di jiwa raga saya. Pengalaman awal yang tidak bisa dilupakan,” kenang wanita cantik yang akrab disapa Lady Olivia, kelahiran Singapore, 24 Agustus.

Meskipun lahir dari keluarga konglomerat, Lady Olivia dididik ayahnya, almarhum Omar Putihrai, untuk belajar dan bekerja keras. Prestasi gemilang diraihnya saat menimba ilmu di beberapa universitas dengan meraih gelar Master Architecture Theory, Harvard Graduate School of Design, predikat magna cumlaude Bachelor Architecture Association (AA School of Architecture) validated by Royal Institute of British Architecture (RIBA), Architecture Registration Board (ARB):  magna cumlaude high pass in Technical Study, Unit Skyscraper with Prof Mark Hemel and Nate Kolbe, lecturer Zaha Hadid, Richard Roger and REM Kolhaas.

Lady Olivia juga meraih gelar Diploma in Art and Design from Central Saint Martins College of Art and Design, University of the Arts, London dan Royal School of Music Certificate Piano Exam by  Royal School of Music by the Her Majesty Queen Mother, Queen of Elizabeth II.

Selepas lulus kuliah, orang tua  mendorong Lady Olivia untuk berkarier. Di usia 16 tahun ia mendapat pekerjaan pertamanya di California Pizza Kitchen, Singapura  sebagai waitress. “Itu merupakan pendapatan summer job vacation saya pertama. Kebahagiaan saya yang pertama karena mendapatkan pekerjaan itu tanpa bantuan orang lain,” ucapnya bangga.

Di California Pizza Kitchen, ia pun banyak belajar mengenai kedisiplinan hingga customer care. Salah satunya cara menangani komplain dari customer. Lady Olivia juga membiasakan diri untuk menabung dari hasil jerih payahnya.

Sebagai heiress (ahli waris) dari Tamara Group yang bergerak di bidang pengembangan property dan investasi, kini Lady Olivia menduduki jabatan sebagai Komisaris Tamara Group Holding, Head of Global Business Development of Tamara Group. Ia juga merupakan Founder of Indonesia Tourism Investors Club (ITIC), partner of the government of Indonesia.

“Di ITIC kami mengundang investor domestik maupun internasional untuk  berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%. Kami mengundang para investor untuk bergabung menjadi anggota dan berinvestasi di Indonesia di proyek-proyek yang telah kami kurasi. Baik dari segi return on investment (ROI) dan merupakan proyek-proyek solusi untuk Indonesia. Kami juga memberikan kesempatan bagi para pengusaha untuk mendapatkan investor dalam proyek-proyek di skala nasional. Jika ada yang tertarik menjadi anggota ITIC, info selanjutnya di website www.indonesiatourisminvestorsclub.com,” paparnya.

Lady Olivia juga mendirikan YAPPI Foundation (Yayasan Arsitek Pemuda dan Perempuan Indonesia). YAPPI Foundation berfokus pada pengembangan desain, riset, teknologi, dan pelestarian kebudayaan Indonesia, seperti batik. YAPPI aktif mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia di kancah internasional melalui acara seperti London Festival of Architecture.

Lady Olivia juga aktif menjadi modeling untuk majalah-majalah di London, Jakarta, New York, menghadiri art events untuk mempromosikan artis pelukis dalam negeri ke dunia internasional.

Salah satunya di Vogue Magazine, ia bertemu dengan Anna Wintour di kantornya di Twin Tower, New York. Ia juga diundang acara makan pagi/breakfast, makan siang dan after party Vogue Event, melakukan photoshoot dan menjadi wakil dari Indonesia untuk para desainer lokal.

“Saya promosikan koleksi desainer lokal seperti Ivan Gunawan, Didit Hediprasetyo, Toba Tenun by Ibu Luhut oleh Kerri Na Basaria, putri dari Luhut Binsar Pandjaitan, Rinadi Chu, batik kain silk by Garis Nusantara,” paparnya bangga.

Lady Olivia juga berkontribusi dalam mempromosikan konde di zaman Kartini modern ini. “Sebagai wanita Indonesia konde adalah peninggalan dari nenek moyang kita yang harus dilestarikan di keseharian kita, baik di dalam negeri dan di dunia internasional,” ujarnya.

Beberapa terobosan dilakukan Lady Olivia dalam kariernya. Bersama dengan Indonesia Tourism Investors Club ia akan mengkurasi proyek-proyek dalam skala nasional yang bisa menjadi solusi bagi warga negara Republik Indonesia. Salah satunya adalah proyek National Water Taxi yang sedang dikurasi dan disetujui oleh Pemerintah.

“Kami juga mencari proyek-proyek yang  ingin diberikan investasi. Kami berfokus pada Net Zero Tourism Economy. Kita mengajukan special department di bawah kepemimpinan Presiden dan Menteri Pariwisata untuk mementingkan Clean Tourism dengan memberikan input dan peranan penting di Green Tourism Waste Management yang berujung dalam mencapai Green and Clean Tourism Align dengan UN SDGs Mission,” jelasnya.

Dengan kerja keras dan terobosan yang dilakukan, Lady Olivia sukses meraih prestasi yang paling membanggakan dan mampu berdaya saing di tingkat global. Ia tercatat menjadi satu-satunya orang Indonesia yang lulus dengan magna cumlaude di meja ujian dalam unit skyscraper dan salah satu dari 3 pelajar yang lulus dari negara Malaysia, sedangkan 15 pelajar lain  gagal dalam ujian yang di-validated dari Royal Institute of British Architecture. 

Lady Olivia juga menjadi diploma termuda di Inggris mewakili Indonesia untuk menjadi kurator yang membuat Pavillion Indonesia pertama di dunia di ajang London Festival of Architecture (LFA) dan Architecture Foundation berkolaborasi dengan British Council. Ia juga mendapatkan jajaran Top 6 dari 39 negara yang berpartisipasi termasuk Jepang dan lainnya. 

Kunci Sukses

Beberapa kiat sukses Lady Olivia dimulai dari mencintai diri sendiri karena dengan  bisa mencintai diri sendiri barulah kita bisa melakukan hal-hal lain. Selain itu melakukan perencanaan. “Saya selalu mempunyai note book dan pensil untuk mencatat meeting dan rencana saya dalam 1,5,10,20 tahun ke depan. Saya mempunyai schedule untuk melakukan progress besar maupun kecil  setiap hari,” jelasnya.

Pegangan hidup yang selalu dipedomani Lady Olivia adalah Know Thyself, artinya mengetahui siapa diri saya. Ini merupakan hal pertama yang ia terapkan dalam hidupnya. Mengenal diri artinya kesadaran diri dalam memahami emosi, keinginan, kekuatan, dan kelemahan diri sendiri.  Kedua, nilai dan keyakinan untuk menemukan prinsip-prinsip inti dan apa yang benar-benar penting bagi kita. Ketiga, pertumbuhan pribadi dengan menggunakan pengetahuan diri untuk meningkatkan pengambilan keputusan, mendorong pengembangan pribadi, dan membangun hubungan yang kuat. Tiga pedoman tersebut diterapkan untuk menjalankan hidup sehari-hari  menuju cita-citanya.

“Saya percaya dengan selalu berusaha mempunyai prinsip Beautiful Mind Body Soul (BMBS). Beautiful Mind atau berpikiran positif dengan mendidik diri sendiri setiap hari untuk membaca buku dan lain-lain sehingga melatih otak dan pikiran. Body dengan menjaga kesehatan dan Soul dengan berusaha selalu dekat pada Tuhan,” paparnya. 

Ia juga belajar dari kesalahan, selalu berpikir critical thinking dan mempunyai jiwa semangat untuk terus melangkah ke depan. Sisanya diserahkan pada Tuhan Yang Maha Esa. “Setelah itu kita perlu melakukan introspeksi yaitu proses melihat ke dalam diri untuk memahami motivasi, pikiran, dan perasaan kita. Kenali diri sendiri dan membuat keputusan yang terinformasi karena pengetahuan diri membantu kita membuat pilihan yang selaras dengan jati diri kita,” jelasnya.

Selanjutnya, tambah Olivia, kita harus memahami apa yang benar-benar kita inginkan untuk mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan. Hal yang tak kalah penting adalah kecerdasan emosional dengan meningkatkan kemampuan untuk mengelola emosi dan memahami orang lain. Serta ketahanan dengan memberikan fondasi untuk menghadapi tantangan dan perubahan hidup. “Saya selalu berpegangan pada prinsip beautiful mind, body and soul yang harus berada di satu tempat di mana kita berada seperti di perjalanan, di tempat kita bekerja, dan bertemu dengan orang lain,” ungkap Lady Olivia yang sangat terinpirasi beberapa sosok hebat seperti Zaha Hadid, Anna Wintour, Coco Chanel, Victoria Beckham, Queen Elizabeth II.

Menurut Lady Olivia dalam meraih sukses kita harus memiliki tujuan yang jelas dan fokus pada pencapaiannya, kerja keras, disiplin, dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan. Selain itu, penting untuk membangun jaringan relasi, mengembangkan diri melalui keterampilan baru dan membaca, serta mengelola waktu dengan baik. Memiliki pola pikir positif, dan menjaga gaya hidup sehat juga berkontribusi besar pada jalan menuju kesuksesan.

Lady Olivia berharap bisa berkontribusi lebih besar lagi bagi bangsa khususnya dalam mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 8% dan membangun the image of Indonesia menuju 2045 dengan semangat gotong royong. “Visi misi ini merupakan pedoman bagi saya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang juga menjadi base concept untuk research dan development dalam proyek-proyek yang saya kerjakan di skala nasional,” tandasnya.

Jaga Keseimbangan Hidup dengan Me Time

Sebagai perempuan tentu kebutuhan me time sangat perlu. Lady Olivia berusaha tetap tampil bugar, cantik, dan awet muda dengan membagi waktu untuk diri sendiri. Ia pun rutin minum vitamin dari A- Z dan weight lifting, tenis dan yoga. Ia juga suka mendengarkan musik dari beberapa genre yang merupakan suatu terapi baginya.

“Saya selalu mengatur menu makanan. Kesehatan buat saya adalah nomor satu karena dengan kesehatan kita bisa mengerjakan hal-hal yang berguna bagi bangsa dan negara,” jelas wanita yang juga hobi berkuda, berenang, snorkeling, yachting, membaca, travelling, melukis, menggambar, hingga modeling. Ia pun berusaha meluangkan me time dan menerapkan pola tidur 8 jam sehari. Sisanya dihabiskan untuk bekerja dan olahraga.

Peran Multi Dimensi Perempuan di Era Gobal

Partisipasi dan kontribusi perempuan dalam pembangunan nasional, di berbagai sektor seperti sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, hingga politik, semakin meningkat dewasa ini. Namun tentu belum maksimal karena berhadapan dengan masih banyaknya tantangan dan kendala. 

Menurut Lady Olivia, kesetaraan gender sangat penting, artinya semua perempuan berhak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki dari segi kesempatan dalam berkarya, mendapatkan pendidikan, dan perlindungan hukum dan sosial. 

“Perempuan harus terus mendukung satu sama lain. Membangun bersama untuk kemajuan kita setelah apa yang telah diperjuangkan oleh Kartini. Kita adalah Kartini modern di zaman sekarang dan masa depan. Oleh karena itu kita harus mempunyai semangat gotong royong untuk menuju cita-cita tersebut,” terangnya.

Di era yang serba digital ini, lanjut Lady Olivia, ada beberapa tantangan dan rintangan dalam berkarier. Salah satunya adalah kesenjangan digital. Tidak semua perempuan memiliki akses yang sama ke teknologi, internet cepat, atau pelatihan digital.

Berikutnya adalah kompetisi kerja yang ketat. Era digital menuntut keterampilan baru (coding, data, AI, digital marketing), sementara banyak perempuan kesulitan mengejar karena keterbatasan waktu atau akses. Bias gender di dunia kerja digital juga menjadi tantangan tersendiri dimana masih ada stereotip bahwa bidang teknologi adalah dunia laki-laki.

Tantangan lain membuat work-life balance. Pekerjaan digital (remote, WFH) sering membuat batas waktu kerja dan pribadi kabur, yang meningkatkan risiko burnout. Selain itu masalah keamanan digital karena perempuan lebih rentan terhadap pelecehan online, peretasan, hingga doxing.

Tantangan di dalam keluarga juga cukup banyak, antara lain beban ganda semakin berat. Meski bekerja dari rumah lewat teknologi, tanggung jawab domestik (anak, rumah tangga) tetap dianggap beban utama perempuan. Waktu bersama keluarga berkurang karena aktivitas daring (meeting online, kerja fleksibel) sering memakan waktu lebih panjang dibanding kerja konvensional.

Selain itu tantangan mengawasi anak yang juga hidup di dunia digital (screen time, game online, media sosial, cyber bullying). Perempuan juga harus berperan ganda sebagai pendidik: selain pekerjaan, perempuan sering dituntut mendampingi anak belajar daring.

“Tantangan paling berat ada pada ketimpangan peran gender. Beban domestik tetap besar meski karier digital menuntut lebih banyak energi. Berikutnya akses dan keamanan digital, dimana tidak semua perempuan siap menghadapi risiko dunia maya. Dan terakhir tantangan work-life balance, karena sulit membatasi ruang kerja dan keluarga di era serba online,” paparnya.

Di era digital saat ini,  perempuan berperan penting, sebagai seorang ibu yang harus menjamin pendidikan dan karakter anak. Tantangannya antara lain anak tumbuh dalam dunia digital yang penuh distraksi (gadget, media sosial, game online), sehingga pendidikan karakter bisa terabaikan.

Peran ibu dalam hal ini menjadi role model dalam penggunaan teknologi secara sehat, menjaga keseimbangan antara kecerdasan digital (digital literacy) dan pembentukan karakter (integritas, empati, disiplin) dan mendampingi anak dalam belajar daring sekaligus menanamkan nilai moral, etika, dan spiritualitas.

Sebagai istri, perempuan menjadi manajer dalam keluarga. Tantangannya dinamika rumah tangga di era digital sering membuat komunikasi antar pasangan berkurang karena kesibukan online.

“Peran istri menjadi pengelola keuangan keluarga yang bijak, termasuk mengatur kebutuhan digital anak dan rumah tangga, menjaga keharmonisan dengan komunikasi terbuka, meski aktivitas digital sering menyita waktu dan menjadi penyeimbang untuk memastikan keluarga tetap memiliki waktu berkualitas offline,” jelasnya.

Perempuan juga berperan sebagai pekerja yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Tantangannya adalah dunia kerja digital menuntut adaptasi cepat, sementara beban domestik masih dominan. “Peran pekerja memanfaatkan peluang digital (pekerjaan fleksibel, wirausaha online, remote working), meningkatkan keterampilan digital agar tetap kompetitif, memberikan kontribusi ekonomi tanpa mengorbankan peran dalam keluarga, melalui manajemen waktu dan dukungan pasangan,” tambahnya.

Lady Olivia menegaskan di era digital, perempuan berperan multi-dimensi yaitu sebagai ibu yang menjadi pendidik karakter anak di tengah derasnya arus digital. Sebagai istri yang menjadi manajer keluarga yang menjaga keharmonisan dan keseimbangan. Dan sebagai pekerja yang menjadi motor ekonomi keluarga sekaligus agen perubahan sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top