MajalahKebaya.com, Jakarta – Bagi Ir. Emmy Noviawati, perjalanan karier adalah rangkaian proses panjang yang tidak hanya mengasah kemampuan, tetapi juga membentuk keteguhan hati. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang kaya, ia membuktikan bahwa konsistensi, passion, serta keinginan untuk terus belajar adalah kunci keberhasilan dalam mencapai puncak kesuksesan.
Perjalanan menuju puncak karier yang dilampaui Ir. Emmy Noviawati, tidak pernah instan. Lulusan Mikrobiologi IPB ini menapaki jalannya dengan penuh kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. Di awal menapaki dunia kerja, ia bahkan telah merasakan tantangan yang begitu besar. “Pada saat itu, cukup sulit bagi lulusan sarjana untuk mendapatkan pekerjaan,” kenangnya.
Hal inilah yang mendorong perempuan bersahaja yang akrab disapa Emmy ini memilih jalur sebagai Medical Representative di sebuah perusahaan farmasi asing. Meski sederhana, pengalaman ini justru menjadi fondasi kuat yang mengasah kemampuan komunikasi, strategi penjualan, hingga pemahaman mendalam tentang industri kesehatan.

Jenjang Karier. Pintu kesempatan semakin terbuka ketika Emmy mendapat tawaran bergabung dengan Rumah Sakit Mitra Keluarga Jatinegara sebagai Assistant Manager Public Relations dan Marketing. Di sana, Emmy tidak hanya belajar memasarkan layanan Rumah Sakit, mulai dari rawat jalan, rawat inap, medical check-up, hingga mamografi, tetapi juga memahami bahwa layanan kesehatan bisa dikemas layaknya sebuah produk bernilai tinggi.
Namun, krisis moneter mengubah arah langkahnya. Dengan keberanian, ia mendirikan klinik yang fokus pada layanan kesehatan, bukan estetika. Klinik tersebut berkembang stabil, tetapi Emmy merasa dirinya masih perlu belajar. Ia kembali ke industri farmasi, kali ini di sebuah perusahaan Jepang dan mendalami bidang Product Management. Dari sinilah ia memahami bagaimana “memberi jiwa” pada sebuah brand serta membangun strategi agar tim mampu mencapai target besar.
Perjalanan berikutnya membawa Emmy memasuki dunia yang kini sangat dekat dengan dirinya, yakni estetika. Kesempatan itu datang saat ia bergabung dengan Senopati Skincare, berkolaborasi dengan dokter-dokter senior yang namanya melegenda di bidang dermatologi dan estetika. “Saya merasa sangat beruntung bisa belajar langsung dari mereka,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 12 November ini.
Pertemuan dengan berbagai tokoh, termasuk sosok yang kemudian membawanya masuk ke dunia distribusi, akhirnya mengantarkan Emmy memimpin PT Regenesis Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini tumbuh menjadi salah satu distributor alat-alat kecantikan terbesar di Indonesia, menghadirkan berbagai merek kelas dunia seperti Candela Laser (USA), Inmode (USA), Softwave (USA), Indiba (Spain), Isispharma (France), Uriage (France), Neauvia Filler (Italy), Alma (Germany) dan sebagainya.
Bagi Emmy, kesuksesan bukanlah sekadar pencapaian jabatan, melainkan proses panjang dari setiap tahap yang dilalui. “Saya percaya, seseorang yang ingin sukses harus memulai dari bawah, benar-benar memahami proses bisnis dari hal yang sederhana sampai yang kompleks. Hingga saat ini pun saya masih terus belajar, karena dunia sales, marketing, dan estetika selalu berkembang dan penuh tantangan.”
Menembus Dunia Digital. Di tengah perkembangan dunia yang serba digital, Emmy menyadari bahwa tantangan terberat bukan hanya soal teknologi, tetapi juga pola pikir. “Menurut saya, dalam bertindak kita tidak boleh hanya melihat lurus ke depan. Artinya, kita harus memiliki pikiran yang terbuka (open minded) dan selalu punya keinginan untuk belajar, bahkan dari mereka yang usianya lebih muda,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari generasi yang kerap dicap “gaptek”, Emmy justru membuktikan bahwa kemauan belajar mampu menembus batas usia. Dengan mendengarkan dan menerima perspektif baru, ia perlahan memahami cara kerja dunia digital yang semakin kompleks.
Dalam posisinya saat ini, Emmy menekankan pentingnya peran seorang pemimpin sebagai penyeimbang antara kreativitas dengan aturan. “Hal ini penting karena di dunia kesehatan terdapat kode etik yang harus selalu dipatuhi,” jelasnya.
Bagi Emmy, adaptasi digital bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan tetap berpijak pada etika dan tanggung jawab profesional.
Tak Sekadar Inovasi. Sebagai pemimpin, Emmy menyadari bahwa persaingan di industri estetika tidak bisa hanya mengandalkan produk. Harus ada added value yang membedakan. Inilah yang kemudian menjadi terobosan utama Regenesis. “Kami memberikan nilai tambah berupa Clinic Management kepada pelanggan. Di dalamnya terdapat berbagai aktivitas, mulai dari pembuatan business plan klinik, pengelolaan database, HR management, service excellent, hingga digital management. Inilah yang membuat Regenesis memiliki keunikan tersendiri dibanding perusahaan lain,” jelasnya.
Bagi Emmy, dunia estetika adalah bidang yang memberikan pengaruh terbesar dalam perjalanan kariernya. Tantangan selalu hadir, salah satunya kewajiban bekerja di akhir pekan yang membuatnya harus rela meninggalkan keluarga. Namun, ia percaya bahwa memiliki support system yang kuat adalah kunci agar semuanya tetap seimbang. “Apa pun yang saya lakukan selalu saya niatkan untuk keluarga dan mereka pun merasakan hal yang sama,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar inovasi, Emmy juga menekankan pentingnya peran pemimpin sebagai role model. Menurutnya, menjadi contoh berarti harus lebih dulu menjalankan apa yang diajarkan dengan konsisten. Pengalaman awalnya sebagai Medical Representative membuat Emmy paham betul arti penting seorang leader yang mampu memberikan pengarahan dengan baik. Dari sanalah ia belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir bukan hanya dari jabatan, tetapi dari teladan yang ditunjukkan sehari-hari.

Prestasi dan Reputasi. Dari perjalanan panjang yang dilaluinya, Emmy merasa bangga bisa membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Salah satu momen berharga adalah ketika ia diminta berbagi pengalaman dalam International Distributor Meeting, mewakili Indonesia di hadapan brand-brand besar dunia. Pada sesi tersebut, ia memaparkan strategi penetrasi pasar yang menjadi acuan banyak pihak dalam meraih target global.
Tak hanya itu, Emmy juga beberapa kali dipercaya menjadi pembicara di berbagai kongres internasional, khususnya dalam topik seputar business dan clinic management. Kesempatan ini menjadi bukti pengakuan internasional atas kapasitas, dedikasi, sekaligus reputasinya di industri kesehatan dan estetika.
Sosok Inspirasi. Emmy meyakini bahwasanya setiap orang yang ditemui membawa peran penting dalam membentuk dirinya hingga saat ini. Namun, yang paling berkesan tentu menjadi inspirasi baginya adalah kedua orang tuanya.
Sang ibu, yang berprofesi sebagai Guru TK, tetap menyempatkan diri mengurus keenam anaknya dengan penuh kasih, bahkan memasakkan menu kesukaan masing-masing anak di tengah kesibukannya. Dari beliau, Emmy belajar arti ketulusan dan dedikasi seorang ibu. Sementara itu, sang ayah yang berprofesi sebagai pegawai negeri mengajarkannya nilai idealisme dalam bekerja.
Dalam perjalanan karier, Emmy juga beruntung dipertemukan dengan sosok-sosok yang memberikan warna dan bekal berharga. Dari dr. Khouw Lip Swan, pendiri RS Mitra Keluarga, ia belajar disiplin, kreativitas, serta ilmu sales & marketing management di Rumah Sakit. Dari dr. Aryani Sudharmono SpKK(K), ia mendapatkan wawasan mendalam seputar dermatologi dan estetika yang melengkapi pengetahuan manajemen klinik.
Tak kalah penting adalah peran Ron Pirolo, mentor yang memperkenalkannya pada dunia negosiasi serta jejaring bisnis internasional. Dan tentu saja, sang suami, Ir. Dadi Heri Saptono, yang selalu mengingatkan untuk tidak hanya fokus pada dunia semata, tetapi menempatkan akhirat di depan agar kebahagiaan dunia mengikuti.
Sosok-sosok tersebutlah yang menjadikan Emmy pribadi yang tangguh, visioner, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur dalam setiap langkahnya.
Kiat Sukses. Kesuksesan bagi perempuan yang hobi membaca, traveling, renang dan mendengarkan musik ini, tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari sikap konsisten, kerja dengan penuh passion dan kemauan untuk terus belajar. Ia percaya bahwa setiap kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju perbaikan diri. “Kegagalan itu bukan the end of the world, tapi kesempatan untuk belajar agar menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Selain itu, satu hal yang selalu ia pegang teguh adalah sikap respect terhadap orang lain. Bagi Emmy, penghargaan tidak hanya diberikan kepada atasan atau mereka yang lebih tua, melainkan juga kepada siapa saja yang berinteraksi dan berkontribusi dalam perjalanan kita. Sikap inilah yang menurutnya mampu membuka banyak pintu kesempatan, sekaligus membangun hubungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Harapan dan Rencana. Ke depan, Emmy memiliki visi besar untuk membawa Regenesis tampil sebagai perusahaan yang mampu menjadi market leader di Indonesia. Ia berharap Regenesis dapat menjadi rujukan utama bagi berbagai principals brand dunia yang ingin menjalin kemitraan di Tanah Air.
Bukan sekadar meraih posisi teratas, Emmy ingin Regenesis dikenal sebagai mitra terpercaya, berintegritas, dan inovatif dalam menghadirkan layanan serta produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan fondasi yang kuat dan komitmen untuk terus berkembang, ia optimis Regenesis akan mampu menembus batas, bahkan hingga kancah internasional.
Me Time dan Rahasia Tetap Bugar
Bagi Emmy, konsep “me time” tidak harus selalu identik dengan akhir pekan atau liburan panjang. Baginya, me time justru bisa dilakukan di sela-sela kesibukan, bahkan ketika harus bepergian untuk pekerjaan. “Seringkali saya harus traveling, baik ke dalam maupun luar negeri. Pada momen-momen itu biasanya saya mengajak anak, menantu, cucu, dan suami, sehingga perjalanan bisnis pun sekaligus menjadi waktu kebersamaan keluarga,” ujarnya.
Di bidang kecantikan, Emmy merasa sangat bersyukur karena bekerja di industri estetika. Ia memiliki kesempatan mencoba berbagai treatment kelas dunia yang tersedia di kantornya. “Yang sulit justru menemukan waktu untuk melakukannya,” candanya.
Untuk menjaga kebugaran, olahraga sederhana seperti jalan kaki dan berenang di akhir pekan menjadi pilihannya. Selain membuat tubuh tetap sehat, aktivitas ini juga menjadi sarana komunikasi yang hangat bersama keluarga. Dengan cara inilah Emmy menjaga keseimbangan, tetap bugar, tampil cantik, sekaligus merawat hubungan yang harmonis dengan orang-orang tercinta.

Bagi Waktu untuk Karier, Keluarga dan Sosial
Bagi Emmy, keluarga selalu menjadi prioritas utama di balik kesibukannya membangun karier. Saat anak-anak masih kecil hingga beranjak SMA, ia selalu meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput mereka setiap hari. “Momen itu menurut saya merupakan golden moment, karena bisa berinteraksi langsung dengan mereka sebelum dan sesudah beraktivitas,” tuturnya.
Bahkan, di tengah padatnya jadwal, Emmy berusaha menyelipkan waktu khusus agar tetap hadir di sisi keluarga.
Kini, ketika anak-anak sudah dewasa, berkeluarga dan tinggal berjauhan, pola interaksi pun berubah. Namun, kedekatan tetap terjaga dengan komunikasi yang menyesuaikan kesibukan masing-masing. “Terus terang, saya harus memilih prioritas dengan siapa saya spend time karena waktu yang terbatas. Pastinya, saya lebih memilih untuk berkumpul dengan keluarga. Bila ada waktu yang benar-benar luang, barulah saya memenuhi undangan kerabat dan teman dekat,” ujar Emmy.
Emmy membangun rumah tangganya bersama Ir. Dadi Heri Saptono, seorang pensiunan Bank Syariah Mandiri yang selalu menjadi pendamping setia dalam perjalanan hidupnya. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai lima orang anak yang kini telah meniti jalan masing-masing. Ada Andi Prakoso yang berkarier di APAc Regional Manager for AMWC (Monaco), Aldy Bagus Prabowo sebagai Adv Agency Consultant, Angela Chantiqa Pratiwi, yang berstatus sebagai Mahasiswi ITS Surabaya, Annisa yang menjadi Ibu Rumah, Tangga dan si bungsu Ikhwanul Mutaqin yang menjadi Marketing di Bank Syariah.
Harmoni inilah yang menjadi sumber kekuatan Emmy. Di tengah kesibukan sebagai Presiden Direktur dan Konsultan, ia tetap menempatkan keluarga sebagai pusat kebahagiaan, sekaligus alasan terbesar dalam setiap langkah yang diambilnya.
