MajalahKebaya.com, Jakarta – Terdorong rasa peduli yang tinggi pada masa depan bumi yang lebih baik, serta kecintaan dan empati yang besar pada sesama, Stephanie Ade Irawan membangung Visola. Sebuah brand yang bukan saja berkiprah dalam dunia bisnis (fashion), tapi juga sebagai wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan.
Tiga fokus utama yang kini dikembangkan Stephanie, yaitu Visola – modest fashion brand yang memadukan penggunaan bahan berkelanjutan, inclusive design dan membuat dampak social baik untuk sekitar. Visola Active – activewear pertama dengan desain genderless (unisex) dan menggunakan bahan berkelanjutan dengan membangun komunitas baik untuk mengajak bergerak sehat bersama dan menjalin kebersamaan. Dan, Visola Voice of Hope, membangun dampak sosial untuk sesama yang membutuhkan dan pemberdayaan perempuan. Tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk donasi tapi juga dukungan moral dan harapan untuk tumbuh bersama dan tidak patah semangat.
Perpaduan yang luar biasa antara kreativitas dalam karya-karya inovatif, kepedulian sosial yang tinggi, menjaga kesehatan bumi, serta terus mendorong dan memberi support kepada perempuan agar semakin berdaya, berpartisipasi dan berkontribusi penting dalam pembangunan bangsa melalui upaya-upaya dan kegiatan pemberdayaan. Bukan retorika, tapi Stephanie benar-benar menjalankan dengan sungguh-sungguh dan memberikan bukti nyata.
Beberapa prestasi dan reputasi membanggakan diraihnya, antara lain, terpilih sebagai penerima beasiswa Executive MBA dari Quantic School of Business & Technology dalam 3 kategori yaitu Leadership, Impact dan Financial Aid, bentuk pengakuan dan dukungan terhadap perjalanan karier dan visinya; Diundang menjadi pembicara di forum global, termasuk SDG Summit di United Nations, MUFFEST dan konferensi bisnis di Eropa; Menjadi bagian dari kolaborasi strategis dengan pembuatan project sebagai fashion designer dengan Partai Politik dan komunitas besar, termasuk menciptakan koleksi yang memiliki dampak sosial melalui Visola Voice of Hope.
“Namun, prestasi yang paling membahagiakan adalah ketika saya melihat perempuan memakai Visola dan merasa lebih kuat, lebih percaya diri dan lebih mencintai dirinya sendiri,” ungkap wanita cantik kelahiran Sidoarjo,9 September, yang saat ini sedang menjalankan study S2-nya.

Perjalanan Karier
Berawal pada November 2023, Stephanie membangun brand Visola yang mula-mula sebagai wadah untuk donasi membantu meringankan warga Gaza di Palestina. Produk yang dikeluarkan dalam bentuk scarf tersebut 100% disumbangkan melalui Dompet Dhuafa.
Sebulan setelah itu, Stephanie mengeluarkan produk hijab untuk sehari-hari dengan timeless style yang berbeda dari brand lain pada umumnya. Bulan kedua setah Visola launching ia mendapat tawaran untuk mengikuti Indonesia Modest Fashion Week di Jakarta. Semenjak itu Visola terus berkembang tidak hanya dengan produk scarf tapi lebih luas dengan pakaian untuk pengguna modest fashion.
Pada Ramadhan 2024, Visola terpilih untuk mengikuti bazaar besar di Senayan City dengan brand-brand modest fashion besar lain serta diliput SCTV. Visola ikut terjun langsung menjangkau pasar. Melihat antusiasme para peminat yang besar pada produk-produk dan tampilan yang dibawakan Visola, Stephanie kemudian menerima tawaran pada bulan Juni 2024 dari Kreasi Mode Internasional untuk mengikuti Asean International Fashion Week di Marina Bay Sands Singapore. Bersama para fashion designer Asia termasuk Indonesia, Visola mengeluarkan koleksi Floral Reverie yang menggabungkan modern design dengan timeless style dan membawakan tas eksklusif berkelanjutan dari bahan canvas waterproof dengan desain khusus Visola untuk dipakai sehari-hari.
“Sampai di bulan Juli 2024 saya menjadi salah satu participant yang hadir dalam Forum SDG (Sustainable Development Goals) di United Nations, New York. Membahas fokus untuk pencapaian SDG bersama para panelis dari berbagai negara dengan sesi diskusi, inisiatif dan inovasi terkini yang ditampilkan. Semenjak itu makin memantapkan saya untuk membawa Visola tidak hanya mendukung dari penggunaan material berkelanjutan tetapi juga pemberdayaan perempuan dan membawa dampak sosial yang baik untuk sekitar,” bangga Stephanie yang juga aktif dalam organisasi politik, sebagai pembicara (narasumber), kajian dan kegiatan-kegiatan komunitas.
Kembali dari New York Stephanie membawa inspirasi untuk koleksi terbarunya, ‘Metropolis Noir’ dengan menampilkan berbagai style urban modern perkotaan dengan busana yang menggunakan ‘upcycling method’ berkolaborasi dengan aksesoris tas UMKM lokal dari Jepara. Koleksi tersebut dibawakan ke panggung Modest Fashion MUFFEST (Muslim Fashion Festival) dan sukses membawakan warna baru dan inovasi pada modest fashion Indonesia.
“Dalam perjalanan, Visola akhirnya bergabung masuk ke dalam Zalora dan tepat pada ulang tahun pertama Visola mengeluarkan scarf yang terinspirasi dari kelembutan wanita dan kasih sayang seorang ibu untuk menyambut Hari Ibu dan produk sweater pertama Visola disambut baik dengan gathering komunitas. Visola terus berdiri dan berkembang lalu mengepakkan sayap ke produk activewear exclusive dengan Visola Active untuk berbagai kalangan dengan menggabungkan komunitas untuk dampak positif bersama hidup sehat tetap dengan gaya stylish yang membuat nyaman,” tutur wanita yang hobi art, fashion and textile design, olahraga, dan membaca buku ini.
Tantangan dan Kunci Sukses
Tantangan paling berat, yang paling dirasakan Stephanie di era yang serba cepat saat ini adalah waktu. Ia harus tetap tampil prima dan visioner di hadapan publik, padahal terkadang sedang lelah secara emosional sebagai manusia biasa.
“Teknologi mempercepat segalanya, tapi tidak selalu memberi ruang untuk merenung dan merasakan. Di situlah saya belajar untuk menata ulang prioritas, memilih dengan sadar, dan membangun sistem yang berkelanjutan, bukan hanya untuk karier, tapi juga untuk jiwa,” ungkapnya.
Stephanie percaya, menjadi perempuan di era digital ini, bukan soal bisa melakukan semuanya sekaligus, tapi bagaimana ia mampu mengatur ritme hidup dengan keberanian, keikhlasan, dan tetap terhubung pada nilai-nilai yang diyakini.
Menghadapi berbagai tantangan yang ada, sebagai Founder dan Creative Director Visola, Stephanie berusaha menciptakan karya yang bukan hanya cantik secara visual, tetapi juga mempunyai makna, dampak sosial dan berkelanjutan. Beberapa terobosan yang sudah ia lakukan adalah: Menerapkan konsep sustainable fashion dengan mengedepankan penggunaan bahan ramah lingkungan (katun, silk, tencel,dll), slow fashion dan proses produksi yang etis; Meluncurkan Visola Active, perpaduan antara kenyamanan, keberlanjutan dengan mengurangi produksi berlebihan, membangun komunitas hidup sehat dan menjalin kebersamaan; Membangun dampak sosial untuk sesama lewat Visola Voice of Hope.
Selain itu, Stephani menanamkan nilai-nilai juang yang selalu dipedomaninya dalam meraih kesuksesan. Antara lain: Konsisten dan sabar karena semua hal memerlukan proses; Berani berbeda, tidak takut untuk membawa warna sendiri di tengah dunia yang seragam; Selalu belajar dan berkembang dari berbagai sisi, baik dari buku, pengalaman, maupun orang lain; Mengapresiasi dan mencintai diri karena itu yang menjadi kompas saat dunia luar terlalu bising; Dan yang paling penting berani bermimpi, bermanfaat untuk orang lain namun tetap membumi.
Stephanie juga banyak belajar dan terinspirasi dari orang-orang hebat dan sukses lain.”Ibu saya adalah inspirasi terbesar saya. Ia bukan hanya seorang perempuan kuat, tetapi juga memiliki hati yang sangat lembut dan penuh kasih. Namun, inspirasi saya juga datang dari perempuan-perempuan di sekitar saya seperti ibu rumah tangga, pengrajin lokal, perempuan pekerja yang diam-diam menjalani hidup dengan luar biasa yang selalu berjuang tanpa batas. Mereka membuat saya ingin terus berkarya dengan hati dan pantang menyerah,” tegasnya.
Ia berharap, perjalanan kariernya bisa menjadi inspirasi bagi semua kalangan bahwa semua orang bisa membangun sesuatu yang tidak hanya menciptakan keindahan namun bermanfaat, bermakna dan berdampak tanpa harus meninggalkan akar budaya dan nilai spiritual kita. “Ke depan, saya ingin membawa Visola dan Visola Active menjadi global sustainable fashion serta memperluas dampak sosial lewat Visola Voice of Hope. Lebih dari sekadar membangun brand, saya ingin membangun warisan: fashion tidak hanya gaya tapi untuk membawa dampak positif berkelanjutan untuk bumi dan budaya Indonesia di panggung dunia.”

Me Time dan Manajemen Diri
Setiap perempuan tentu membutuhkan me time, begitu pun dengan Stephanie. Baginya, me time adalah bentuk cinta dan penghargaan pada diri sendiri. ”Saya menjaga tubuh dengan sering berolahraga seperti yoga ,pilates atau padel dan menjaga pola makan seimbang. Tapi yang terpenting, saya mencoba terus merawat pikiran dan hati dengan meningkatkan spiritualitas kepada Sang Pencipta. Saya menunagkan pikiran dan suasana hati melalui design atau karya saya, musik, buku dan menikmati waktu bersama alam atau keluarga,” ujarnya.
Urusan kecantikan, Stephanie lebih memilih perawatan yang minimalis dan berkualitas, yang fokus pada hidrasi, vitamin, istirahat cukup, dan menjaga pikiran positif. Sesekali juga ia menikmati mini escape ke tempat tenang, hangout dengan sahabat, atau sekadar minum kopi sambil mendengarkan musik favorit.
Agar semua urusan bisa berjalan sukses, Stephanie menetapkan sistem kerja dan jadwal yang fleksibel tapi terstruktur. “Di pagi hari saya fokus pada keluarga, lanjut ke pekerjaan, dan malam hari saya luangkan waktu untuk diri sendiri atau mengakhiri malam dengan refleksi harian diri. Saya juga berkolaborasi dan mempercayai team untuk brand agar tidak semua harus saya tangani sendiri.”
Perempuan Kekuatan Utama di Balik Peradaban
Saat ini, menurut Stephanie, perempuan memiliki akses lebih luas di berbagai sektor namun bukan berarti tanpa hambatan. Beberapa persoalan utama yang masih dihadapi antara lain: Stigma dan stereotip gender yang membatasi ruang gerak dan pilihan karier perempuan; Perempuan seringkali diharapkan bisa sukses di ranah publik sambil tetap sempurna di ranah domestik; Akses yang belum merata terhadap pendidikan, pelatihan, dan peluang kepemimpinan, terutama di wilayah-wilayah terpencil; Minimnya dukungan terhadap kesehatan mental dan sistem support untuk ibu bekerja yang sangat penting dalam jangka panjang.
Solusinya, lanjut Stephanie, bukan hanya memberi ruang kepada perempuan, tapi juga membangun ekosistem yang berpihak seperti pendidikan yang inklusif dan komunitas yang mendukung. Karena di era digital ini, peran perempuan justru semakin strategis. Sebagai ibu, perempuan menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak di tengah dunia yang serba instan. Ini bukan hanya soal pendidikan akademik, tapi juga nilai, empati, dan integritas.
Sebagai istri, perempuan berperan sebagai manajer emosi, waktu, dan energi dalam rumah tangga. Ia tidak hanya mengatur keuangan, tapi juga menjaga harmoni dan semangat dalam keluarga. Sebagai pekerja atau entrepreneur, perempuan menjadi kontributor aktif dalam ekonomi, bahkan sering menjadi tulang punggung keluarga. Dengan akses digital, perempuan saat ini bisa bekerja dari rumah, membangun usaha, belajar, dan memperluas jejaring global tanpa meninggalkan perannya di rumah.
Namun, agar semua ini berjalan sehat, Stephanie menegaskan, perlu ada kesadaran kolektif bahwa perempuan tidak harus sempurna di semua peran. Yang terpenting adalah keberanian untuk terus tumbuh, belajar, dan menciptakan keseimbangan.
“Perempuan bukan hanya sebagai pelengkap pembangunan, mereka adalah kekuatan utama di balik peradaban. Kita tidak perlu menunggu waktu yang “ideal” untuk bersinar. Kita hanya perlu saling mendukung, menciptakan ruang aman, dan terus menyuarakan bahwa kesuksesan perempuan bukan ancaman melainkan salah satu aset bangsa. Saya percaya, ketika satu perempuan bangkit, ia bisa mengangkat banyak perempuan lainnya. Dan ketika perempuan diberi kesempatan yang setara, maka masa depan akan menjadi jauh lebih adil, indah, dan penuh harapan,” bijak Stephanie.
