MajalahKebaya.com, Jakarta – Sri Kumala Parahyang Sari, ST, M.PWK merasa hidupnya sangat diberkati sehingga ia bisa menjalankan profesi sebagai Guru Yoga sekaligus mengembangkan usaha dengan brand Good Vibes Health & Fitness Center. Ungkapan rasa syukur itu menjadi energi dan spirit yang sangat kuat untuk menjadikan dirinya berkat bagi orang lain melalui kegiatan yoga.
Perjalanan Kumala, sapaan akrab wanita cantik nan bugar kelahiran Purwodadi, 10 Juli ini, bermula dari pengalaman pribadinya setelah menjadi seorang ibu. Ia mengalami sendiri bagaimana yoga bisa menjadi sarana pemulihan—bukan hanya fisik, tapi juga mental dan emosional. Dari situ, ia memutuskan untuk memperdalam yoga secara profesional dan mengambil sertifikasi. Dan, seiring waktu, Kumala membuka sebuah gym yang juga menjadi ruang praktik yoga.
“Saya percaya bahwa yoga bukan sekadar gerakan fisik, tapi sebuah jalan untuk menyatu dengan diri, mengenali napas, pikiran, dan rasa. Komunitas yang terbentuk pun bersifat inklusif—terbuka untuk siapa pun yang ingin menemukan keseimbangan dan ketenangan dalam dunia yang serba cepat ini,” lulusan Magister Perencanaan Wilayah dan Kota ini dengan yakin.
Di tengah hiruk pikuk zaman yang serba cepat, adrenalin terpacu tiada henti dalam dunia kerja seperti perlombaan tak berujung, Kumala hadir menawarkan pitstop agar kita menarik diri sejenak dari kebisingan dunia untuk menjadikan hidup lebih berkualitas. Karena itu, meskipun sekarang semua serba digital, ia memilih untuk fokus pada interaksi langsung dan kehadiran nyata. “Tantangannya tentu ada dari sisi eksposur, promosi untuk menjangkau lebih banyak orang. Tapi saya percaya pada kekuatan hubungan personal dan energi yang tercipta dalam ruang fisik,” ucapnya.
Dengan demikian, kemajuan era yang serba digital saat ini, baginya yoga justru sebagai penyeimbang dan bukan tantangan. Memang diakuinya tantangan terbesar adalah dalam keluarga. Yaitu bagaimana menjaga ritme dan kualitas kebersamaan di tengah kesibukan. “Tapi justru di situlah yoga sangat membantu saya—untuk tetap sadar, hadir, dan tidak terjebak dalam autopilot.”

Kembali Mengenali Diri Sendiri
Kumala menyusun kelas-kelas dengan pendekatan filosofi yoga. Di kelas yang dibimbingnya, peserta tidak hanya diajak untuk bergerak, tapi juga merenung, mengenali napas, merasakan kehadiran. Kadang ia mengajak semua peserta mulai dengan refleksi atau ditutup dengan meditasi singkat.
Kumala juga membuka ruang untuk diskusi di kelas, karena ia percaya bahwa proses belajar dalam yoga itu dialogis dan personal. Ia juga memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan konten edukatif yang menekankan filosofi yoga dan pentingnya kembali mengenali diri sendiri.
“Saya bersyukur gym yang saya dirikan bisa menjadi ruang aman, nyaman dan inklusif bagi siapa pun yang ingin hidup lebih sehat dan lebih sadar. Saya senang bisa dipercaya sebagai fasilitator di acara terkait wellness, dan menjadi bagian dari gerakan yang mengedepankan kesehatan holistik (mental, emosional, sosial) bukan hanya sekadar penampilan fisik,” ucap istri dari Dikha Hutabarat ST, M.Eng.MGMT (Sr. Engineer PT. Pertamina Hulu Mahakam), serta ibunda tercinta dari Hamus Hutabarat (8 tahun) dan Jeeva Hutabarat (5 tahun) ini.
Kumala berharap, gym dan ruang yoga yang dikelolanya terus berkembang menjadi wadah untuk healing, tempat berpulangnya orang-orang dari kelelahan dan kepenatan. Ke depan ia juga ingin memperluas program berbasis filosofi yoga, termasuk kelas-kelas reflektif atau retreat kecil yang membantu orang menyatu kembali dengan dirinya dan Sang Pencipta. Serta membangkitkan kesadaran orang untuk berolahraga, weightlifting.
Kiat Sukses
Kesuksesan utama bagi Kumala bukan soal materi yang berlimpah, tapi kebahagiaan diri karena bisa memberi manfaat bagi banyak orang, bisa membuat orang lain sehat mental, emosional dan sosial. Baginya, siapa pun berhak dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan dalam hidup, terutama dalam usaha.
Beberapa kunci dan kiat sukses yang selalu menjadi pedomannya dalam merintis dan mengembangkan Good Vibes Health & Fitness Center antara lain: Mulailah dari niat yang tulus dan visi yang jelas; Jangan takut gagal, karena dari situlah kita belajar dan bertumbuh; Bangun jaringan dan komunitas yang positif; Rawat diri, karena kita tak bisa memberi jika kosong di dalam; Tidak perlu terburu-buru, karena proses itu berharga; Tetap belajar, bahkan dari hal-hal kecil; Jadikan hidup sebagai bentuk syukur, bukan perlombaan; dan Tahu arti “cukup”.
Selain nilai-nilai tersebut, Kumala juga banyak belajar dari orang-orang sukses dan inspiratif. Ia terinspirasi dari banyak orang, terutama dari mereka yang hidupnya memberi dampak positif, tanpa perlu banyak bicara.
“Orang tua saya adalah sosok yang penuh kasih dan tangguh, menjadi inspirasi saya. Mereka mengajarkan bahwa hidup adalah soal memberi, tidak selalu mendapat balasan namun pasti dapat berkatNya. Suami saya adalah sosok yang punya pikiran luas dan terbuka sehingga dapat melihat kejadian dalam hidup dari “POV” (point of view) lain secara positif,” ujar wanita yang hobi menyanyi, main piano, dan baca buku ini.

Balance of Life
Membagi waktu antara karier, bisnis, keluarga dan sosial, tentu tidak mudah untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Kumala mensiasatinya dengan cerdas, yaitu menerapkan prinsip prioritas dan jadwal fleksibel. Saat mengajar, ia fokus menjadi guru. Saat di rumah, ia berperan sebagai ibu dan istri. Ia juga belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna. Yang utama adalah kehadiran dan niat tulus.
Prinsip keseimbangan juga diterapkan Kumala dalam hal merawat diri. “Bagi saya, kecantikan adalah hasil dari keseimbangan dalam dan luar. Yoga, meditasi, serta waktu tenang. Perawatan diri saya sederhana – rutin tidur cukup, makan bergizi, rawat kulit, stress management. Saya juga menyempatkan latihan beban (weight training) dan membaca buku sambil ngopi – itu bentuk me time saya.”
Tantangan dan Peluang Bagi Perempuan
Menurut Kumala, perempuan hari ini dihadapkan pada banyak sekali peran yang harus dijalani sekaligus. Sebagai ibu, istri, pekerja, anggota masyarakat—semuanya datang dengan tanggung jawab yang besar. Beban ganda ini sering kali tidak terlihat, karena dianggap wajar. Hambatan lainnya adalah tuntutan sosial yang tidak selalu adil – standar kecantikan, ekspektasi menjadi ‘sempurna’, hingga keterbatasan ruang aman untuk mengekspresikan diri.
Era digital, lanjut Kumala, membuka banyak peluang, tapi juga membawa tantangan yang lebih halus. Sebagai ibu, kita dituntut untuk membentuk karakter anak di tengah banyak dan cepatnya penyampaian informasi. Sebagai istri, kita harus mampu menjadi pengatur keuangan, emosi, dan keharmonisan rumah tangga. Dan sebagai pekerja, kita dituntut profesional tanpa melupakan peran domestik. Teknologi bisa menjadi alat bantu, tapi tetap diperlukan kebijaksanaan, nilai-nilai kuat, dan dukungan sistem.
“Selain itu, banyak perempuan belum memiliki akses yang cukup pada pendidikan, kesehatan mental, atau kesempatan ekonomi. Bagi saya, tantangan terbesarnya justru ada dari dalam: Bagaimana perempuan bisa menyadari nilainya sendiri tanpa harus menunggu validasi dari luar. Karena begitu perempuan menyadari kekuatannya, ia bisa mengubah banyak hal – mulai dari rumahnya sendiri. Peran-peran ini tidak mudah, tapi bisa dijalani dengan kesadaran penuh. Saya pribadi belajar untuk hadir dengan utuh di setiap peran – bukan hanya secara fisik, tapi menjaga kehadiran batin. Dengan cara itu, kita tidak kehilangan arah, dan tidak mudah terbawa arus,” bijak Kumala.

Kumala percaya bahwa setiap orang – punya potensi untuk menjadi terang bagi sekitarnya. Tidak harus besar atau spektakuler. Cukup dengan menjadi diri sendiri yang sadar potensi, mau belajar, tulus dan tidak kehilangan nilai-nilai kebaikan di tengah dunia yang serba cepat ini.
“Yoga mengajarkan saya bahwa perjalanan kembali ke dalam diri itulah yang justru menguatkan langkah kita ke luar. Kita bisa menjadi ibu yang lebih bijak, istri yang lebih hangat, pemimpin yang manusiawi – bila kita terlebih dulu dapat berdamai dengan diri sendiri. Saya merasa hidup saya diberkati, dan karena itu saya ingin hidup saya menjadi berkat. Melalui yoga, saya tidak hanya mengajar gerakan, tapi membuka ruang bagi siapa pun untuk pulang ke dirinya, mengenali napasnya, dan menghargai hidup apa adanya,” tutupnya.
