MajalahKebaya.com, Jakarta – Dedikasinya terhadap pekerjaan begitu tinggi bahkan waktu kerjanya seminggu penuh tanpa libur karena ia ingin semua klien tertangani dengan baik. Meski ada asisten, namun tugasnya hanya sebagai administrasi. Bahkan klien yang mendaftar ia tangani sendiri melalui WA pribadi. “Bukan tidak percaya, tapi saya tetap ingin mengawal semua kasus-kasus klien saya dari awal hingga akhir,” ujar Sani Budiantini Hermawan, S.Psi. Psikolog yang biasa disapa Sani, pemilik akun Instagram (IG) @sanibudiantini, saat ditemui di kediamannya daerah Kemang, Jakarta Selatan.
Padahal klien yang ditangani cukup banyak, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri, sehingga ada perbedaan waktu yang kadang cukup besar. Namun ternyata semua itu tak menjadi kendala. ”Yang penting klien puas dan merasa diperhatikan,” ujar Sani yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Daya Insani.
Sani sangat memperhatikan dan menerapkan profesionalitas dan kualitas dalam memberikan jasa pelayanan kepada semua klien, baik di dalam maupun luar negeri. Meskipun ia harus mengorbankan waktu istirahat, harus bangun tengah malam sekitar jam 1 atau 2 dini hari, karena perbedaan waktu dengan klien. ”Klien-klien luar negeri suka dengan Psikolog Indonesia karena dalam penanganan kasusnya tidak individual tapi ada pendekatan secara agama, culture, pendekatan kekeluargaan sehingga menimbulkan kenyamanan.”
Menjadi Psikolog adalah cita-cita Sani sejak kecil, padahal ia lahir dari keluarga yang rata-rata berprofesi sebagai dokter. Kedua orang tuanya dokter, kakak kandung juga dokter, bahkan saudara kembarnya, Santi, adalah Dokter Anak kenamaan di Amerika. Hanya adik bungsunya mengikuti jejaknya menjadi Psikolog yang juga Dosen dan Wakil Dekan di Universitas Indonesia. “Sebenarnya kedua orang tua saya maunya saya jadi dokter juga, tapi saya bilang, tidak, saya maunya jadi Psikolog!” ujar Sani.
Ketertarikan Sani pada bidang psikologi karena ia tidak harus berurusan dengan medical seperti dokter. “Dunia Dokter dan Psikolog sama-sama membantu orang, bedanya Dokter lebih memakai medikasi, sedangkan Psikolog memakai psikoterapi dan tidak berurusan dengan obat. Saya lebih memilih Psikologi karena sama-sama membantu pasien tanpa medikasi, melalui psikoterapi. Psikolog lebih pada membangun character building seseorang, melakukan pendekatan, penelusuran masalah, dan sebagainya yang justru menarik bagi saya,” ujar Sani, yang juga aktif sebagai Ketua Yayasan Insani At Taqwa (@yayasaninsaniattaqwa) dan Advisor Sadari_Diri.

Masalah Kejiwaan Makin Marak
Diakui oleh Sani, hari-harinya cukup sibuk dan banyak menyita energi, namun ia merasa senang mengerjakan apalagi dukungan keluarga sangat kuat. Suaminya, Ir Hermawan Sarwono, MM., Direktur PT Insani Daya Kreasi, sangat mendukung profesi Sani, begitupun sebaliknya. Sementara putri pertamanya yakni Hersa Aranti, M.Psi, Psikolog dan anak mantunya Bima Sastra Gordhi (S2 dari UK) juga sangat mendukung. Putrinya seorang Psikolog dan CEO Sadari_Diri (mental health service) sehingga bukan hanya sebagai anak tapi juga partner dalam kerja. Begitupun dengan putra kedua, Aryudha Hermawan Sarwono, SH yang aktif di Social Media Agency Owner, dan putra ketiganya Armadya Hermawan Sarwono, S.Kom yang menjadi Konsultan IT, keduanya sangat membantu, kompak dan saling mendukung pekerjaan masing-masing.
Pekerjaan sebagai seorang Psikolog saat ini, menurut Sani, tidak seperti beberapa tahun lalu. Pemahanan banyak orang saat itu, mereka yang mendatangi Psikolog pasti mengalami gangguan jiwa atau gila. Tapi, saat ini pemahanan itu telah bergeser, orang sudah sadar bahwa kita menemui Psikolog bukan karena ada gangguan jiwa. “Mereka datang ke Psikolog ada yang karena tak bisa bicara di depan umum, lantas Psikolog berusaha membangun ketidakcemasannya dengan public speaking yang bagus sehingga tercapai apa yang diinginkan,” jelas penggemar traveling dan kuliner ini.
Menurut Sani, ke depan akan banyak sekali orang yang datang ke Psikolog terlebih dengan derasnya kultur Barat masuk ke Indonesia, begitupun dengan media sosial yang berpengaruh besar pada hidup seseorang. “Sekarang orang tak canggung lagi bilang ‘saya sudah having sex atau gadis usia 16 tahun bilang, ‘saya mau menggugurkan kandungan’, bahkan ada anak yang dendam sama temannya dan bilang pengen bakar rumah temannya itu. Bukankah ini sebuah pergeseran?,” ungkap Sani. Dan, semua itu adalah masalah-masalah kejiwaan yang butuh penanganan Psikolog.
Jadi, masalah kejiwaan itu makin banyak bermunculan. Terlebih anak muda sekarang yang mentalnya seperti buah strawberry, sekali pencet mudah pecah yang kita artikan mudah mengeluh, manja, mudah lelah, dan mudah frustrasi. Begitupun dengan teknologi digital di mana ada game addict, judi online, dan sebagainya.

All Out Tangani Pasien
Meningkatnya kebutuhan akan Psikolog di tengah kehidupan masyarakat, membuat pekerjaan Psikolog juga semakin meningkat. “Bayangkan saja, sekarang orang mau menikah saja butuh ke Psikolog. Umumnya mereka berkonsultasi bagaimana menghadapi pasangan, bagaimana kalau kelak punya anak, bagaimana caranya mendidik anak, dan sebagainya. Begitupun orang tua juga sering berkonsultasi mengenai anaknya yang mendapat bullying dari teman-temannya,” ujar Sani.
Tak hanya orang tua, anak pun juga ada yang mendatangi Psikolog. Ada yang konsultasi bagaimana menghadapi konflik keluarga, perpisahan orang tua, dan lainnya. Ini menunjukan bahwa anak pun sudah mulai aware dengan dirinya. Kondisi inilah yang membuat Psikolog tidak lagi menunggu pasien tapi ditunggu pasien. Bahkan tak jarang untuk bertemu dengan Psikolog saja harus waiting list. Hal itu dirasakan oleh Sani. Tak hanya pertemuan off line, banyak juga yang harus online.
“Meski sibuk dan banyak menangani kasus, saya tetap fokus dengan masalah yang dihadapi setiap pasien saya. Saya berusaha untuk tidak kehilangan waktu bersama mereka dan saya harus all out!” jelas Sani. Karena itulah waktu untuk bertemu klien tidak pernah libur, Sani selalu menyiapkan waktu dari Senin sampai Minggu.
Lantas kapan liburnya? Sani gunakan waktu liburnya untuk traveling dan kulineran bersama keluarga. Karena kuliner inilah ia beserta suami berencana membuka rumah makan. Selain itu, ke depan ia juga ingin mengembangkan Terapi Centre bekerja sama dengan Psikiater, tidak hanya Psikolog tetapi ada juga Psikiaternya. Jadi, pasien datang dengan berbagai masalah, bisa langsung ditangani di situ.
Kesibukan luar biasa dalam menjalankan profesi dan mengembangkan karier tidak membuat Sani kehilangan rasa empati dan welas asih terhadap sesama. Ia sangat terinspirasi sosok Bunda Theresa sehingga kegiatan berbagi dan sosial kemanusiaan menjadi bagian dari perjalanan dan panggilan hidupnya. “Saya terinspirasi dengan Bunda Theresa yang banyak menolong orang tanpa pilih kasih dan tulus,” ujar Sani yang mewujudkan niat tulusnya dengan mendirikan yayasan dan banyak melakukan kegiatan sosial.
