Cover Story

Naomi Julia Soegianto, Menenun Ketangguhan dari Emas dan Kehidupan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Di balik kilauan emas yang dipajang di etalase butik-butik perhiasan, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang tak hanya menempa logam mulia, tapi juga menempa dirinya sendiridengan kerja keras, cinta keluarga dan keteguhan hati yang tak terukur nilainya. Dialah Naomi Julia Soegianto, CEO NJS Gold Manufacture, yang tak pernah menyangka bahwa hidup akan membawanya sejauh ini.

Perempuan yang akrab disapa Naomi ini, mengawali langkahnya di dunia bisnis sejak masa kuliah. Berbekal didikan ayahnya yang menanamkan nilai kemandirian sejak dini, Naomi sudah terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain. 

Namun hidup memberinya tantangan besar ketika ia baru saja menikah. Ayahnya wafat, meninggalkan beban besar bagi keluarga, termasuk perusahaan yang tidak bisa dipertahankan. Naomi yang baru saja hamil harus mengambil alih tanggung jawab penuh untuk menopang keluarganya. “Dari situlah saya sadar bahwa pekerjaan ini bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab penuh yang harus saya jalani,” kenangnya.

Bangkit dari Nol. Warisan yang ditinggalkan ayahnya bukanlah harta, melainkan staf-staf berpengalaman di dunia perhiasan. Naomi memilih untuk tetap bertahan bersama mereka, walaupun arah bisnis belum jelas. Dari situlah benih NJS Gold Manufacture mulai tumbuh. Ia memulai segalanya dari titik nol, tanpa modal besar, hanya dengan tekad dan semangat untuk bertahan.

Saat kedua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah mampu menjalankan toko perhiasan secara stabil. Tak hanya itu, ia juga aktif sebagai volunteer pengajar bahasa Inggris dan agama di sebuah sekolah dasar di Jawa Tengah, sambil menempuh pendidikan S2.

Awal Lahirnya NJS. Beberapa tahun sebelum NJS berdiri, Naomi memutuskan pindah ke Surabaya, bukan semata karena peluang bisnis, tetapi karena tanggung jawab keluarga. Sebagai anak sulung perempuan dalam keluarga besar, ia diamanahkan untuk membantu menjalankan perusahaan yang masih menyisakan saham almarhum ayahnya di Surabaya.

Perpindahan ke kota besar seperti Surabaya juga dipilih demi memberikan akses pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Namun tak lama, Naomi memutuskan berpisah secara profesional dari bisnis keluarga dan membangun jalannya sendiri di industri manufaktur perhiasan. Maka lahirlah NJS Gold Manufacture, delapan tahun lalu di Surabaya.

Meskipun ayahnya adalah pendiri salah satu pabrik perhiasan terbesar di Indonesia, Naomi tak mendapat fasilitas kemewahan dari warisan itu. Justru sebaliknya, ia bangkit dari dasar, mengandalkan pengetahuan dan pengalaman serta loyalitas tim kecil yang masih bersamanya sejak awal.

“Yang saya warisi bukan emas atau uang, tapi mentalitas dan integritas. Dan itu yang saya teruskan ke anak-anak dan tim saya hari ini,” tegasnya.

Hebat Tanpa Menggurui. Naomi tak pernah menyangkal bahwa menjadi perempuan yang ingin maju di Indonesia bukan perkara mudah. Terutama jika ingin lebih dari sekadar ‘biasa-biasa saja’.

Bagi Naomi, tantangan terbesar bukan hanya datang dari dunia kerja, tapi justru dari lingkup yang paling dekat, yakni keluarga dan masyarakat. Ia tumbuh dalam budaya yang kental dengan nilai-nilai patriarki, di mana perempuan diharapkan tetap ‘di belakang’ dan tidak terlalu vokal dalam ambisi.

“Di Indonesia, budaya patriarki itu masih sangat kuat. Kita perempuan bisa saja berprestasi, jadi leader, tapi tetap dipandang sebelah mata, apalagi di industri seperti manufaktur yang sangat didominasi laki-laki,” ujarnya.

Naomi paham betul posisinya. Ia tidak menuntut untuk diistimewakan, juga tidak merasa harus melawan. Bagi Naomi, kuncinya ada pada keseimbangan, tetap bisa maju sebagai perempuan, tanpa menghilangkan esensi sebagai istri, ibu dan pribadi yang menghormati laki-laki.

Membaca Pasar, Mendengar Pelanggan

Bagi sebagian orang, inovasi berarti teknologi mutakhir, sistem canggih, atau terobosan revolusioner yang mengubah wajah industri. Tapi bagi Naomi, inovasi justru bersifat personal, mendalamdan sering kali tidak terlihat mata. Karena baginya, setiap pelanggan adalah dunia yang berbeda.

“Kalau bicara inovasi, menurut saya itu tidak bisa digeneralisasi. Semua tergantung kasus per kasus. Setiap distributor punya gaya dan kebutuhan berbeda. Jadi pendekatannya juga harus beda,” terangnya.

Melalui mitra bisnis yang merupakan distributor perhiasan emas yang tersebar di seluruh Indonesia, Naomi belajar bahwa fleksibilitas dan sensitivitas terhadap kondisi pasar adalah bentuk inovasi tersendiri.

Alih-alih mengikuti teori besar atau strategi global semata, Naomi memilih untuk tetap hadir secara personal bagi mitra usahanya. Ia percaya, inovasi paling kuat justru datang dari empati dan kemampuan membaca situasi.

 “Intinya kita harus peka. Bukan hanya punya rencana besar, tapi juga harus punya pendekatan personal. Karena yang kita hadapi itu manusia, bukan sistem,” ucapnya bijak.

Perhatian Tanpa Kompromi

Di balik tiap koleksi perhiasan NJS, tersimpan rasa dan intuisi perempuan. Meski memiliki tim desain, Naomi dan putrinya tetap terlibat langsung dalam proses kreatif. Mereka memastikan setiap karya tidak hanya cantik secara visual, tapi juga membawa karakter khas NJS yang telah dikenal pasar, sederhana, elegan, dan berkualitas tinggi.

“Kami memang punya desainer, tapi saya dan anak perempuan saya juga ikut memberikan masukan. Kami tidak lepas tangan soal desain. Untuk orang-orang sudah terbiasa lihat produk kami, mereka bisa tahu mana produk NJS,” ungkap Naomi.

Material yang digunakan pun tak main-main. NJS mengolah perhiasan dalam berbagai kadar emas, mulai dari 22 karat hingga 8 karat, dan telah tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Namun satu hal yang tak pernah dikompromikan adalah kontrol kualitas.

“Kami pegang betul kualitas. Itu harga mati. Karena dari situ kepercayaan dibangun,” tegas Naomi, yang juga dibantu putra sulungnya di bagian produksi dan bersyukur atas karunia Tuhan yang menganugerahkan 2 orang putra-putri yang senantiasa mendukungnya. 

Menolak Terkekang dan Berani Berdiri Tegak

Bagi sebagian orang, kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan. Tapi bagi Naomi yang telah melalui banyak fase hidup, sebagai anak, istri, ibu, dan pemimpin bisnis, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih personal, mendalam dan kadang menyakitkan, bebas dari kendali orang lain atas hidup kita sendiri.

“Saya berpikir, Indonesia itu masih punya banyak perempuan yang belum merdeka. Bukan karena mereka tidak diizinkan, tapi karena masih terjajah oleh stigma, budaya patriarki yang kuat dan pola pikir yang mengikat,” ungkapnya pelan, tapi tegas. 

Kemerdekaan menurut Naomi, bukan soal melawan tradisi, tapi mengubah cara berpikir. Karena selama ini, banyak perempuan masih dibentuk untuk tunduk, untuk bergantung dan untuk tidak menjadi pusat dari keputusan-keputusan hidupnya sendiri.Padahal, jika diberi ruang, perempuan itu kuat. Bahkan sangat kuat.

“Kita ini multitasking. Kita bisa kerja, bisa urus anak, bisa ambil keputusan, bisa bangun bisnis. Tapi banyak yang masih dikekang cara berpikirnya oleh lingkungan,”ungkapnya, lirih.

Baginya, kemerdekaan dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni kemandirian finansial. Ia menegaskan bahwa perempuan yang merdeka secara finansial, akan punya lebih banyak pilihan hidup. Ia tahu betul rasanya tidak bergantung. Sejak muda, bahkan sebelum menikah, ia terbiasa mandiri. Bukan karena pilihan, tapi karena dibentuk oleh keadaan.

“Ayah saya itu keras. Saya cuma dikasih uang secukupnya. Tapi saya bersyukur. Karena itu yang membentuk saya. Saya pernah tidak punya uang, saya pernah harus menyesuaikan hidup dengan sangat sederhana. Tapi saya tidak merasa itu beban. Saya tahu cara hidup dengan kondisi apapun,” terang Naomi. 

Ia menyampaikan bahwa freedom of choice, hak untuk menentukan jalan hidup sendiriadalah bentuk kemerdekaan yang seringkali dirampas secara halus dari perempuan. “Bahkan di usia seperti saya saat ini, perempuan masih bisa dikontrol. Dan itu banyak dialami perempuan Indonesia. Karena kita sering dianggap tidak bisa menentukan sendiri apa yang terbaik untuk diri kita,” tambahnya. 

Dalam momen peringatan Hari Kemerdekaan, ia ingin mengajak perempuan Indonesia untuk tidak meremehkan dirinya sendiri. “Jangan pernah underestimate kekuatanmu. Kita ini luar biasa kuat. Tapi tetap harus melihat potret kita sebagai perempuan. Maknai hidup dengan rasa syukur. Lakukan apa yang kita bisa, selama kita bisa. Karena hidup ini singkat,” ujarnya penuh nasehat.

 

Wardrobe: Kebaya @dewangga__

Dress @jeantirtamarta

Info Lebih Lanjut:

Instagram @njsgold.official.
@naomijewels.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top