MajalahKebaya.com, Jakarta – Perjalanan panjang penuh pembelajaran dilalui Iva Fairouz Afrinadya, SH., MH. sebelum kini dipercaya menjadi Auditor Ahli Madya di Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI. Melalui konsistensi, pembelajaran berkelanjutan, dan kerja sama tim yang solid, diakuinya, ia bisa sampai pada posisi saat ini. Setiap fase dalam karier, diangga Iva – sapaan akrabnya, sebagai tangga pembelajaran, bukan hanya teknis, tapi juga tentang kepemimpinan dan integritas.
Karier Iva di Mahkamah Agung dimulai dari posisi sebagai staf tahun 2001 di Pengadilan Tingkat Banding. Seiring waktu, ia kemudian masuk ke Badan Pengawasan dan dipromosikan sebagai pejabat struktural pada tahun 2014. Dan, pada tahun 2019 Iva mengikuti ujian fungsional Auditor dan lulus sebagai Auditor Madya di Badan Pengawasan.
“Saya menekuni bidang pengawasan internal karena saya percaya pengawasan adalah jantung dari akuntabilitas lembaga,” ungkap wanita cantik kelahiran Tanjung Karang, 17 April 1975 ini.
Berkat ketekunan, komitmen, dan integritas, karier Iva pun terus meningkat. Ia kemudian diberi amanah untuk menangani reviu SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah), SPIP (Sistem Pengendalian Intern Pemerintah), hingga pembinaan Zona Integritas (ZI).

Reputasi dan Prestasi Membanggakan
Sebagai Auditor Ahli, Iva aktif mendorong integrasi antara sistem pengawasan dan sistem manajemen kinerja. Salah satunya, memperkuat peran SPIP sebagai budaya kerja, bukan sekadar dokumen. Ia juga menggagas pendekatan coaching dalam reviu Zona Integritas agar pengadilan tidak merasa diaudit, tapi dibina. Selain itu, Iva terlibat dalam pengembangan metode reviu berbasis risiko dan penyederhanaan dokumen evaluasi agar lebih relevan dan mudah dipahami Satker (Satuan Kerja).
Salah satu momen yang paling membanggakan dalam perjalanannya adalah ketika ia dipercaya memegang peran penting sebagai Pengendali Teknis Tim Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Mahkamah Agung RI. Kepercayaan itu bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa Penilaian Mandiri Maturitas Penyelenggaraan SPIP di Mahkamah Agung berjalan efektif, tepat sasaran, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam peran tersebut, Iva menjadi garda terdepan dalam mengawal pelaksanaan dan penerapan SPIP di seluruh lingkungan Mahkamah Agung. Ia memastikan setiap prosedur dan mekanisme pengendalian internal benar-benar berfungsi, bukan hanya tertulis di atas kertas. Semua itu dilakukan demi terciptanya tata kelola peradilan yang kredibel, transparan, dan akuntabel.
Kiprah Iva tidak berhenti di lingkup internal. Pengalaman dan keahliannya membuat ia kerap dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai forum nasional yang membahas SPIP Terintegrasi (New SPIP), Pembangunan Zona Integritas dan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Bagi Iva, setiap kesempatan berbagi pengetahuan adalah kontribusi nyata untuk memperkuat budaya integritas di instansi pemerintah, sekaligus menginspirasi generasi penerus agar terus menjaga profesionalisme.
Menurut Iva, kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada organisasi dan masyarakat. Dengan semangat itu, ia terus mengabdikan diri, memastikan setiap langkah dan kebijakan yang diambil berpijak pada prinsip akuntabilitas, integritas, dan pelayanan publik yang berkualitas.
Selain itu, Iva juga mendapat penganugerahan Satyalancana Karya Satya Dwiwindu dari Presiden RI menjadi penanda penghargaan atas perjalanan panjang pengabdiannya.
Tantangan dan Kunci Sukses
Perkembangan dan perubahan zaman yang begitu pesat diiringi kemajuan teknologi yang sangat massif, membawa pengaruh dan damapak signifikan, positif maupun negatif, di semua segi kehidupan. Bagi Iva, digitalisasi justru membawa efisiensi, tapi juga menuntut kita untuk adaptif dan cepat belajar. Di sisi karier, lanjut Iva, tantangan terbesar adalah mengintegrasikan sistem pengawasan dengan pendekatan digital: misalnya e-audit, dashboard monitoring, atau pelaporan kinerja berbasis data.
Sementara di sisi keluarga, menurut Iva, tantangannya menjaga kehangatan relasi di tengah kesibukan dan dunia digital yang terus menyita perhatian. “Saya berusaha menjaga komunikasi yang hangat dan waktu berkualitas bersama keluarga, tanpa gangguan gadget,” ujarnya.
Meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan, Iva tetap yakin akan terus sukses dalam meraih jenjang karier yang lebih tinggi, karena ia senantiasa menerapkan nilai-nilai juang, sekaligus kunci sukses yang selalu dipedomaninya dalam berkarya. Yaitu, selalu menjaga integritas dalam keadaan apa pun; tiada henti belajar, baik dari atasan, rekan, bahkan bawahan; tidak pernah lelah memperbaiki diri; dan selalu rendah hati, tapi tidak ragu bersuara jika benar. Bagi Iva, sukses itu bukan hanya posisi, tapi juga kebermanfaatan.
Kesuksesan yang telah diraihnya, baik dalam karier maupun hidup, diakui Iva, juga karena kehadiran orang-orang hebat di sepanjang perjalanannya. “Ibu saya adalah teladan utama dalam hidup, beliau perempuan tangguh, sederhana, tapi penuh kasih. Sedangkan dalam karier, saya banyak belajar dari sosok-sosok pemimpin perempuan di MA dan kementerian lain yang menunjukkan bahwa menjadi perempuan tidak membatasi kontribusi, justru memperkaya pendekatan dalam menyelesaikan masalah.”
Harapan ke depan, terutama dalam karier, Iva bisa terus menjadi bagian dari transformasi pengawasan yang adaptif, transparan, dan berdampak. Ia juga ingin lebih fokus membina SDM Pengawasan yang andal dan berintegritas, karena ia percaya, pengawasan yang kuat bukan dari sistem semata, tapi dari manusianya.
Ke depan Iva berharap dapat memperkuat SDM Pengawasan dan terlibat lebih intens dalam pembangunan budaya integritas di lingkungan peradilan. “Karier bukan soal posisi, tapi seberapa jauh kita bisa memberi arti, dan sukses itu juga bukan tentang naik ke atas, tapi tentang tetap membumi saat dipercaya. Dan itu hanya bisa dicapai dengan integritas,” tegasnya.

Jaga Keseimbanga
Persoalan utama bagi wanita bekerja adalah bagaimana menjaga harmoni antara urusan karier/pekerjaan, keluarga, sosial, dan diri sendiri (me time). “Bagi saya, me time adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Saya menjaga pola hidup sehat, tidur cukup, dan seminggu sekali saya usahakan olahraga ringan seperti jalan pagi atau yoga. Saya juga senang merawat diri secara sederhana, tanpa berlebihan. Selain itu, membaca buku atau sekadar duduk minum kopi di sore hari adalah cara saya mengisi ulang energi. Hangout dengan anak dan saudara juga sesekali saya lakukan untuk menjaga kewarasan dan tawa,” ujar ibunda tercinta dari Nasywa Assegaf, yang juga punya hobi baca puisi dan menyanyi ini.
Agar semua berjalan sukses, Iva menerapkan prinsip skala prioritas dan tidak membawa pekerjaan ke rumah secara berlebihan. Di kantor, ia fokus pada target dan efisiensi. Di rumah, ia selalu berusaha hadir secara utuh sebagai seorang ibu, seperti memasak untuk anak. Dan, untuk kegiatan sosial, ia memilih yang benar-benar memberi nilai, seperti berbagi pengalaman dengan rekan auditor muda atau ikut kegiatan perempuan di lingkungan sekitar.
