MajalahKebaya.com, Jakarta – Perjalanan karier Nurul Husna penuh warna. Lulusan Magister Psikologi ini mengawali karier sebagai host acara Gowes di ANTV pada 2011, lalu pada 2012 masuk ke Metro TV lewat PH sebagai freelance host, memandu acara adventure “Meraih Akses Menggapai Dunia”. Kemudian berlanjut ke TVRI tahun 2013 – 2016 dan 2016 – 2025 kembali bergabung dengan Metro TV.
“Enam bulan pertama setelah lulus S1 Sarjana Psikologi saya mencoba berkarier sebagai HRD, tapi ternyata saya tidak betah bekerja di belakang komputer. Saya coba ikut casting di salah satu production house (PH) dan diterima di MetroTV di tahun 2011,” kenang wanita cantik yang akrab disapa Naila Husna ini.
Saat itu perempuan kelahiran Jakarta, 25 Agustus 1988 ini, sangat menikmati pekerjaannya sebagai freelance host di media televisi yang langsung terjun ke lapangan keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
“Setelah kontrak dari PH yang bekerja sama dengan MetroTV itu selesai, saya mendapat tawaran menjadi jurnalis di TVRI untuk program sport, softnews, maupun hardnews tahun 2013-2016,” tambahnya.
Di tahun 2016, Naila kembali mendapat tawaran dari MetroTV dan satu lagi dari Kompas TV. Ia pun memutuskan memilih kembali berkarier di MetroTV dengan segala benefit dan harapannya untuk bisa lebih mengembangkan diri sebagai jurnalis.

Terjun Sebagai Entrepreneur
Dua bulan lalu Naila memutuskan resign dari MetroTV. Ia melepas karier di media televisi dan mencoba tantangan baru sebagai entrepreneur. “Di media televisi saya berkarier selama 13 tahun, paling lama di MetroTV selama 9 tahun,” ujarnya.
Saat masih bekerja sebagai jurnalis, Naila juga mengambil kuliah S2 Psikologi. Setelah lulus di tahun 2023, ia memutuskan menjalankan bisnis day care dengan nama Bunnaya House yang eksis hingga saat ini. Bisnis day care ini menerima penitipan bayi sampai anak yang sudah masuk sekolah dasar. “Sejak 2 tahun lalu saya sudah menjalankan bisnis di bidang day care bersama teman-teman, yang sejalan dengan ilmu saya di bidang Psikologi,” ujarnya.
Naila melihat peluang besar usaha day care. Ia sendiri pernah menggunakan jasa day care untuk anaknya sejak usia 1-2 tahun. “Dulu saya sempat menitipkan anak saya di day care karena sebagai single mom saya juga bekerja. Akhirnya kita masuk sebagai investor yang memantau perkembangan operasional usaha,” jelasnya.
Interaksi Creative Production Wadah Edukasi
Keinginan untuk terus berkarya membuat Naila terinspirasi membangun PH sendiri dengan nama Interaksi Creative Production. “Production house ini juga bergerak di bidang media khususnya untuk podcast atau di Youtube. Ini baru 2 bulan berjalan, jadi saya putuskan untuk resign dulu dari MetroTV agar bisa fokus kembangkan PH yang saya rintis dari nol,” ucapnya bersemangat.
Di Interaksi Creative, Naila mengaplikasikan ilmu yang dimiliki di bidang Psikologi sesuai passion-nya. “Interaksi singkatan dari indepth, terkini, faktual dan psikologi. Pembahasannya khusus Psikologi yang luas banget ilmunya dari parenting, keuangan, itu perlu ilmu Psikologi,” jelasnya.
Naila merasa sudah cukup mendapat ilmu sebagai jurnalis, dan sekarang waktunya mengembangkan usaha sesuai passion di bidang Psikologi. Ia berharap bisa memberikan manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan masukan inovasi, edukasi dan berbagi ilmu terkait Psikologi.
“Selain materi tentunya saya senang kalau bisa berbagi ilmu yang dipelajari sejak kuliah diaplikasikan dalam konten edukasi yang bisa bermanfaat untuk banyak orang,” jelasnya.
Menurut Naila, PH Interaksi Creative memiliki kelebihan dibanding PH lain, terutama dengan adanya unsur terkait Psikologi. “Kita masih baru jadi perlu kejar tayang dulu, dan sejauh ini saya banyak punya link narasumber yang sesuai bidang Psikologi untuk podcast-nya. Kita juga banyak membahas unsur edukasi untuk orang tua supaya anak-anak tidak terpengaruh ancaman kekerasan seksual atau pelecehan seksual. Fokus kita memberikan edukasi, masalah banyaknya orang yang menonton itu urusan belakangan, yang penting niat kita sudah baik,” paparnya.
Selain fokus merintis PH, Naila juga mengembangkan konten sosial media miliknya (content creator) dan menjadi public speaker/public speaking coach. “Jadi sekarang saya menjadi formal news anchor, yang kerap diminta kalangan corporate untuk mengisi kelas public speaking. Saya juga masih aktif sebagai MC dan moderator,” jelas ibu dari Arshaka Al Slavik (Primary Grade 2) ini.
Dari modal yang dikumpulkan selama berkarier di media televisi, Naila berharap dapat mengembangkan beberapa bisnis tersebut dengan penghasilan jauh lebih besar dan membuatnya lebih berdaya bagi diri sendiri maupun banyak orang, hingga nantinya meraih passion bisa mempunyai passive income.
Naila merasakan banyak perbedaan antara dunia bisnis yang dijalani saat ini dengan karier sebelumnya sebagai karyawan. Ia pun sudah menyusun rencana bisnis jangka pendek dan jangka panjang supaya targetnya mencapai financial freedom sebelum usia 40 tahun tercapai.
“Makanya saya harus benar-benar fokus dan konsisten, ibaratnya kalau dulu berenang di kolam renang, sekarang di lautan. Banyak rekan saya yang bilang kok saya berani sekali resign dari media televisi, apalagi saya sudah senior. Hanya saja saya bisa merasakan panggilan hati untuk memutuskan resign,” yakinnya.
Bagi Naila, keberaniannya keluar dari zona nyaman sebagai jurnalis senior media televisi tak lepas dari perannya sebagai tulang punggung keluarga. Ia merasa tidak bisa terus menjadi karyawan dengan gaji tetap setiap bulan.
“Walaupun karyawan itu ditawari naik jabatan tapi ada batasan porsi penghasilan. Saya juga sudah cukup lama di media. Pasti setiap orang punya target dalam hidup. Sebenarnya sejak 2 tahun lalu saya mulai banyak pertimbangan yang mendorong saya untuk memantapkan diri resign,” ucapnya.

Kembangkan Personal Branding
Meskipun kesibukannya cukup padat, Naila masih meluangkan waktu untuk me time olahraga berkuda. “Dulu rumah saya masih di daerah Cibubur, jadi dekat dengan lokasi latihan berkuda di Gunung Putri, Bogor. Kalau sekarang rumah di Bintaro jadi cukup jauh. Sekarang saya juga lagi suka padel atau bersepeda,” ujar wanita yang suka liburan bersama keluarga ini.
Salah satu sosok yang menginspirasi Naila saat berkarier sebagai jurnalis adalah Najwa Shihab, yang terkenal dengan acara Mata Najwa di MetroTV. “Mba Nana (panggilan akrab Najwa Shihab) terkenal berani mengungkap fakta, dan ada senior saya di MetroTV namanya Mba Fifi Aleyda Yahya yang menjadi sosok perempuan karier sukses dengan rumah tangga yang harmonis, attitude-nya juga bagus dalam menyiarkan berita,” ungkapnya.
Naila keluar dari zona nyaman sebagai jurnalis dengan penuh pertimbangan. Ia pun terus mengembangkan personal branding supaya followers-nya semakin banyak.
“Sebenarnya saya sudah tahu audience saya siapa, followers saya tertarik dengan konten apa saja. Di TikTok saya kembangkan relationship dan di Instagram kembangkan personal look. Di TikTok saya bisa menjual e-book di TikTok berisi konten relationship. Kita juga bisa buka sesi curhat dan bisa bisnis digital,” jelasnya.
Dalam berkarya, Naila terus belajar dan menikmati prosesnya. Terkadang ia edit konten sendiri meskipun sudah ada editor untuk memastikan semua sesuai dengan konsep yang diinginkan.
Perempuan Harus Cerdas dan Terus Belajar
Di era digital ini, Naila melihat perempuan sudah mendapatkan ruang yang luas untuk berkarya. Di tengah pesatnya informasi, masyarakat harus pintar menyaring berita yang sesuai fakta.
“Masyarakat masih minim literasi. Apalagi saat ini banyak orang ingin meningkatkan engagement di media sosial dengan berita viral tapi tidak berdasarkan riset. Maka tugas kita yang sudah memiliki keahlian di bidangnya untuk mengedukasi dengan menghadirkan pakar yang tepat,” terangnya.
Tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini terutama disrupsi media di era digital sehingga masyarakat harus pintar memilih konten yang sesuai fakta. “Kita sudah merdeka, tapi tantangannya adalah bisa memilah informasi yang tepat,” ujarnya.
Edukasi yang dilakukan Naila di PH miliknya sama seperti saat ia masih menjadi jurnalis televisi. Penerapan prinsip-prinsip jurnalisme mendorong jurnalis lebih bertanggung jawab dalam menyajikan informasi, membuat jurnalis mampu menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Selain itu jurnalis dituntut untuk mampu menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta di lapangan, atau berdasar kebenaran data yang didapatkan.
Tantangan lain adalah situasi global saat ini yang menimbulkan ketidakpastian ekonomi global. Jika seorang individu memiliki resiliensi yang tinggi serta ketahanan mental untuk bisa bangkit kembali, maka kondisi ketidakstabilan ekonomi dapat ditangani secara kokoh. Bahkan bisa menjadikan kondisi yang sebelumnya terpuruk menjadi sarana untuk melangkah lebih baik lagi.
