MajalahKebaya.com, Jakarta – Di masa krisis moneter tahun 1998, Rahayuning Indit Pramesti atau biasa disapa Dok Ay mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. “Saat itu ekonomi Indonesia di titik rendah, banyak terjadi kerusuhan. Papa saya yang mendaftarkan saya masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta,” kenang wanita cantik kelahiran Jakarta, Februari, berusia 44 tahun ini.
Di tahun 2005, Dok Ay dinyatakan lulus menjadi Dokter Umum. Beberapa hari sebelum wisuda tiba-tiba berita mengejutkan datang. Papanya, H. Sutarman Hadi yang pada saat itu menjabat Camat Kemayoran meninggal dunia pada siang hari di Rumah Dinas.
Ia pun hampir kehilangan semangat untuk melanjutkan kuliah Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgin) setelah lulus dari Dokter Umum. Namun akhirnya Dok Ay memutuskan untuk tetap menjalani Dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Kalimantan Tengah, tepatnya di kabupaten Katingan.
“Selesai PTT tandanya saya sudah mengantongi persyaratan untuk mendaftar sekolah spesialis. Alhamdulillah di Januari 2008, saya mulai menjalani residensi Obgin di Universitas Sriwijaya, Palembang. Sejak lulus residensi Spesialis Obgin dan menjadi anggota Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia cabang Jakarta, saya tumbuh dan memulai pengabdian ke masyarakat, di RS Hermina Galaxy Bekasi sejak 2012 sampai saat ini,” paparnya.
Di masa pandemi, Dok Ay melihat peluang untuk membuka apotek yang diharapkan membantu rakyat yang membutuhkan pengobatan virus Covid-19. Suaminya, Erik Endriko, SH , mengelola pengembangan apotek di kawasan Summarecon Bekasi yang melayani kebutuhan masyarakat dan beberapa kali dipercaya oleh DPR RI dalam pendistribusi bantuan obat saat bencana. Di lantai atas terdapat praktik dokter bersama dan laboratorium untuk memberikan fasilitas kesehatan one stop solution. Ada juga pelayanan kesehatan untuk wanita hamil dan keluarga muda yang membutuhkan pemeriksaan dan nasehat keluarga sejahtera.
Profesi sebagai seorang Dokter Kandungan mendorong Dok Ay berupaya untuk memberikan kontribusi positif pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sebagai wujud bela bangsa. Khususnya di bidang kesehatan reproduksi dan kandungan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dok Ay menilai masih ada persoalan dan hambatan yang dialami dokter perempuan di Indonesia dalam mengurangi angka morbiditas dan kematian ibu dan anak, kesehatan reproduksi seperti gangguan infeksi, hormonal, kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual dan kanker reproduksi. “Dokter Kandungan dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran dan pendidikan kesehatan reproduksi masyarakat, terutama bagi remaja dan wanita,” ujarnya.
Prestasi Tertinggi Ketika Pasien Sembuh
Bagi Dok Ay prestasi tertinggi yang diraihnya adalah bisa menjadi berkah untuk orang lain. Ilmu dan teknologi dapat diimplementasikan dengan paripurna kepada pasien yang membutuhkan. Dalam menangani kelahiran ibu hamil tidak selalu dalam keadaan normal. Pasien dapat mengalami komplikasi kesehatan seperti hipertensi, penyakit jantung, tumor rahim dan ovarium, gangguan pada janin seperti janin melintang atau sungsang, pertumbuhan janin terhambat.
“Ada juga pasangan suami istri yang merencanakan kehamilan promil / program hamil, di kandungannya ada tumor seberat 5 kg. Saat ini saya juga berfokus untuk pengobatan wanita sudah menopause dengan kondisi turun peranakan. Semua tantangan medis ini dapat kami atasi dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami karena pasien telah berhasil sembuh dari penyakit yang dideritanya,” ucapnya bersyukur.

Kunci Sukses
Dalam pandangan Dok Ay, untuk meraih sukses membutuhkan konsentrasi pemusatan pikiran pada proses perencanaan disertai tindakan kerja nyata. Ini akan membuahkan hasil maksimal yang kita harapkan, jangan tergoda oleh berbagai macam, karena bisa mengubah hasil yang diinginkan.
“Kita harus maju dan terus maju. Dari karier yang saya tekuni sekarang tentu saja saya mendambakan memiliki Rumah Sakit berkualitas international yang terintegrasi di seluruh negara yang bisa menolong orang banyak atas bantuan dari dokter-dokter muda berbakat dibantu oleh ahli ahli di bidangnya. Kami yakin dokter-dokter Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah dari dokter asing,” tuturnya.
Selain nilai-nilai hidup yang selalu dipedomaninya dalam meniti karier dan mengembangkan bisnis, Dok Ay juga banyak belajar dari tokoh-tokoh hebat yang menginspirasi. Baginya, tokoh inspiratif dibutuhkan untuk meneladani dan mengikuti jejak langkahnya. Ia pun terinspirasi oleh tokoh Prof.dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM. “Kebetulan beliau Pakde saya sendiri. Kemudian saya ikuti jejak langkahnya dan hasilnya saya nikmati seperti sekarang ini,” ucapnya bangga.
Perempuan Berperan Penting Membentuk Keluarga Harmonis Sejahtera
Dok Ay melihat saat ini tantangan yang dihadapi perempuan untuk berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan adalah kurangnya dukungan representasi dalam kepemimpinan, akses pendidikan kesehatan, dogma budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat.
“Hidup ini sepertinya tidak adil ya. Perempuan dituntut mendidik anak menjadi sukses, jadi manager dalam rumah tangga dan menjadi tulang punggung keluarga, sementara di sisi lain masih banyak batasan-batasan dan hambatan-hambatan bagi perempuan untuk mengaktualisasi dirinya secara optimal,” keluhnya.
Dok Ay menekankan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam membentuk keluarga harmonis sejahtera dan berkontribusi dalam dunia kerja dan masyarakat. Perempuan dapat menggunakan teknologi untuk memantau dan mengarahkan anak-anak dalam menggunakan media digital dengan bijak, memanfaatkan sumber daya online untuk mendukung pendidikan anak-anaknya. “Ayo kaum perempuan terus bangkit dan belajar, jangan salah pilih pasangan hidup dan circle pertemanan untuk bertumbuh. Kesuksesan akan berada di dalam genggamanmu,” ucapnya bersemangat.
Jaga Keseimbangan Hidup. Karier dan keluarga menurut Dok Ay bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Walaupun waktunya lebih banyak digunakan untuk pengabdian di RS, tetapi sisa waktu yang terbatas digunakan seefisien mungkin untuk membina keluarga. Beruntung suami mengerti tugas kemanusiaan harus didahulukan dari kepentingan pribadi.
“Bagaikan lingkaran waktu yang tidak berujung menghadapi urusan karier, urusan keluarga, dan aktivitas sosial. Dibutuhkan skala prioritas untuk setiap urusan supaya memberi hasil maksimal bagi setiap masalah. Setiap pelaksanaan dari eksekusi itu akan menjadi buah manis yang bisa dinikmati hasilnya di kemudian hari,” jelas ibunda dari Gina Rosinda, lulusan high school yang melanjutkan di bidang bisnis Culinary Pastry.
Dan, untuk urusan merawat diri, bagi Dok Ay, tampil bugar dan awet muda merupakan idaman setiap wanita. Di setiap kesempatan yang tersedia ia selalu coba untuk berjalan kaki menempuh jarak 5-10 kilometer. Di waktu luang ia gunakan untuk berwisata di alam terbuka yang kebetulan jadi hobi dengan suami. Perawatan kecantikan berfokus pada perawatan anti-aging juga rutin dilakukan sejak 10 tahun yang lalu.”Selain hiking, saya juga suka beres-beres rumah dan baking bersama bocil dalam wadah bisnis Jigaram Bakery @jigarambakery,” tambahnya.
