Cover Story

dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc (HumRepro), MIGS, Dokter Perempuan Pertama di Tim Robotic-Assisted Gynecologic Surgery Indonesia

MajalahKebaya.com, Jakarta – Menjadi dokter kandungan awalnya bukan impian masa kecil dr. Sita Ayu Arumi. Justru, keputusan itu datang tiba-tiba, di masa perkuliahan kedokteran semester empat. Ketertarikannya muncul begitu saja, ketika materi tentang kebidanan mulai diajarkan. 

Padahal waktu itu saya belum banyak tahu tentang obgyn. Tapi saya merasa tertarik karena case-nya terasa seru. Rasanya seperti bisa menolong dua orang sekaligus, ibu dan anak,” ungkap dokter cantik yang akrab disapa dr. Sita ini. 

Lucunya, dahulu ia sangat takut darah. Ia bahkan sempat pingsan saat pertama kali melihat darah. “Saya sempat pingsan lihat darah waktu itu. Tapi seiring waktu, saya  belajar menghadapi ketakutan. Dari pingsan, menjadi pusing, hingga akhirnya terbiasa.  Ternyata fobia bisa diatasi kalau kita hadapi terus. Sekarang lihat darah, ya sudah biasa,” tuturnya.

Dan setelah menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Udayana, Bali, dr. Sita mantap melanjutkan pendidikan spesialis kandungan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2010.

 Lebih dari Sekadar Profesi. Karier dr. Sita sebagai spesialis kandungan, dimulai di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, lalu berlanjut ke rumah sakit swasta seperti RSIA Bunda Jakarta dan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Baginya, karier yang ia bangun saat ini lebih dari sekadar profesi. Menjadi dokter kandungan bagi dr. Sita adalah kehormatan, karena ia bisa hadir di tengah momen paling sakral dalam hidup seseorang, kelahiran. “Dulu saya pikir jadi dokter itu selalu tentang momen sedih, tapi ternyata di obgyn saya bisa hadir di momen bahagia. Itu yang membuat saya jatuh cinta dengan profesi ini,” ujar dr. Sita. 

Dedikasi pada Operasi Minimal Invasif. Fokus utama dr. Sita adalah pada bidang Minimal Invasive Gynecologic Surgery (MIGS), yakni teknik operasi dengan sayatan yang sangat kecil, hanya sekitar 0,5 hingga 1 cm, untuk menangani berbagai masalah organ reproduksi wanita. “Kecuali operasi sesar, ya. Karena tidak mungkin dilakukan dengan minimal invasif,” tambahnya.

Komitmen pada bidang MIGS, membawa dr. Sita hingga ke Belanda. Pada 2012, ia mendapatkan beasiswa untuk mengikuti program fellowship di bawah bimbingan Prof. Marlies Bongers, salah satu pionir operasi minimal invasif di Eropa. Sepulang dari sana, dr. Sita langsung bergabung dengan tim dokter di RSIA Bunda Jakarta yang tengah mengembangkan teknik operasi robotik.

“Sejak itu saya mulai belajar dan terlibat langsung dalam pengembangan operasi robotik di Indonesia. Itu salah satu pencapaian penting dalam karier saya,” ujarnya bangga

Perempuan Pertama di Tim Robotik Indonesia

Dalam catatan sejarah kedokteran kandungan dalam negeri, dr. Sita adalah pelaku langsung dalam sejarah perkembangan robotic-assisted gynecologic surgery di Indonesia. Ia bahkan menjadi dokter perempuan pertama dalam tim robotik Indonesia. “Saya bergabung sebagai dokter perempuan pertama dalam tim operasi robotik pada tahun 2013, di RS Bunda. Saat itu, robot ini baru ada di Indonesia sejak pertama kali dikembangkan di tahun 2012,” kenangnya.

Bersama dokter-dokter senior lainnya, ia ikut mengembangkan praktik bedah robotik untuk berbagai kasus kompleks seperti mioma multipel, kista dengan perlengketan, hingga endometriosis berat. “Robot ini bukan sekadar teknologi gaya-gayaan. Ia hadir untuk mengurangi penderitaan pasien, mempercepat pemulihan dan meningkatkan presisi tindakan dokter,” tegasnya. 

Teknologi yang Memanusiakan. Melalui pendekatan MIGS, dr. Sita telah membantu banyak pasien kembali pulih dengan cepat. “Kalau luka operasi hanya satu sentimeter, proses pemulihan bisa sangat cepat. Bahkan ada pasien saya yang tiga hari setelah operasi sudah bisa berangkat kerja ke luar negeri,” ceritanya bangga.

Meski sama-sama masuk dalam kategori minimal invasive surgery, dr. Sita menjelaskan bahwa operasi robotik memiliki sejumlah keunggulan dibanding laparoskopi konvensional. “Robot punya sistem pivot point yang mengurangi gesekan pada dinding perut, sehingga nyerinya jauh lebih sedikit. Selain itu, teknologi 3D yang sangat canggih membuat visualisasi jauh lebih presisi. Kita seperti masuk ke dalam tubuh pasien,” jelasnya antusias.

Dari sisi pasien, operasi robotik memungkinkan rawat inap yang lebih singkat, pendarahan minimal, serta waktu pemulihan yang cepat. Sedangkan dari sisi dokter, robot memungkinkan kontrol gerakan seperti tangan manusia, dengan posisi kerja yang ergonomis. “Kita mengerjakannya sambil duduk, lebih presisi, dan tidak cepat lelah. Ini sangat membantu untuk kasus-kasus yang kompleks.”

Lebih lanjut dijelaskan dr. Sita, robotic surgery bukan hanya untuk bidang kebidanan. Di RS Bunda sendiri tim yang dibentuk sudah lintas disiplin, terdiri dari dokter bedah umum, digestive, tumor, THT, hingga urologi. “Misalnya untuk kanker prostat, robotik jauh lebih efektif. Bahkan angkat tiroid juga bisa dilakukan dengan robotik. Ini teknologi masa depan yang sudah hadir hari ini,” katanya.

Sayangnya, keberadaan teknologi canggih tersebut memiliki banyak kendala untuk lebih dipopulerkan di Indonesia. Menurut dr. Sita, salah satu tantangan utama adalah biaya pengadaan alat yang sangat mahal karena seluruh perangkat mesin harus diimpor. “Bukan karena dokter atau rumah sakitnya yang mematok biaya tinggi, namun memang karena alat tersebut terbilang exclusive,” ujarnya.

Maka dari itu, dr. Sita berharap pemerintah bisa memberikan solusi, baik dari sisi pengadaan maupun regulasi agar masyarakat bisa mendapatkan layanan robotik dengan lebih terjangkau.

“Beberapa waktu lalu saya ikut diskusi dengan Kemenkes. Semoga ke depan, robotik bisa dihadirkan juga di rumah sakit pemerintah, minimal satu atau dua di tiap provinsi. Supaya tidak hanya yang mampu saja yang bisa merasakan,” harapnya.

Empati Pada Problem Kaum Perempuan. dr. Sita dikenal sebagai sosok dokter yang tak hanya andal dalam keahlian teknis, tapi juga penuh empati dalam pendekatannya kepada pasien. Ketertarikannya pada bedah minimal invasif atau Minimally Invasive Gynecologic Surgery (MIGS) bukanlah pilihan yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari keprihatinan mendalam terhadap perjuangan para perempuan yang menghadapi masalah kesehatan reproduksi.

Perempuan kelahiran Banyuwangi, 10 September ini melihat begitu banyak wanita yang harus menjalani operasi besar akibat tumor seperti miom, kista atau gangguan lain pada organ reproduksi. Problem tersebut banyak menimbulkan tekanan psikologis pada panderitanya, terutama bagi mereka yang belum memiliki anak. 

“Sebagai perempuan, apalagi di budaya Timur, tuntutan untuk memiliki keturunan sangat tinggi. Dan ketika ada masalah, yang disalahkan hampir selalu pihak perempuan. Padahal, tak jarang masalah kesuburan juga bisa datang dari pihak laki-laki. Namun stigma yang melekat membuat wanita sering kali menjadi pihak yang disalahkan dan menanggung beban emosional yang berat. Selain itu tak sedikit pasien saya yang mengalami trauma, tidak hanya karena penyakitnya, tetapi juga karena proses pengobatan yang menakutkan dan menyakitkan,” lirihnya.

Melalui pendekatan minimal invasive surgery seperti laparoskopi dan robotik, dr. Sita merangkul kaum perempuan untuk tidak lagi takut mengatasi permasalan kesehatan organ reproduksi mereka. 

“Inilah yang ingin saya berikan kepada perempuan Indonesia, pengobatan yang efektif, cepat pulih dan tetap menjaga harapan mereka untuk memiliki anak. Banyak yang mengira operasi itu harus selalu besar, menyakitkan dan lama pulihnya. Tapi lewat teknologi dan teknik yang tepat, itu bisa dihindari,” terang dr. Sita.

Edukasi untuk Kesadaran. Ketulusannya dalam membantu sesama, juga mengantar dr. Sita mengambil peran sebagai Edukator. Ia aktif menyampaikan pentingnya screening dan pemeriksaan dini agar penyakit tidak berkembang menjadi lebih serius. “Banyak yang takut ke dokter karena takut tahu penyakitnya. Padahal penyakitnya tetap ada, justru makin parah kalau dibiarkan,” tambahnya. 

Dr. Sita memahami bahwa di daerah-daerah, akses terhadap layanan kesehatan, apalagi teknologi minimal invasif, masih sangat terbatas. “Di Jakarta mungkin teknologi sudah maju, tapi di daerah banyak yang tidak tahu opsi pengobatan yang lebih baik. Inilah pentingnya edukasi dan pemerataan informasi,” ujar dr. Sita. 

Ia juga menegaskan pentingnya edukasi yang merata dan kampanye kesadaran terhadap kesehatan perempuan. “Kita harus menciptakan budaya baru, budaya yang mendengarkan perempuan. Budaya yang menghormati tubuh dan keluhannya. Budaya yang mendukung mereka untuk sehat,” imbuh dr. Sita. 

Namun, dr. Sita mengingatkan bahwa kemajuan teknologi kesehatan harus diikuti dengan penyebaran informasi dan kesadaran yang merata. “Karena sebanyak apapun inovasi, kalau tidak diketahui masyarakat, ya percuma. Edukasi dan akses harus jalan bersamaan.”

Akses Kesehatan Tanpa Batas. Bukan hanya masalah fasilitas dan infrastruktur, persoalan kesehatan juga diperparah oleh pola pikir masyarakat. Dr. Sita melihat bahwa budaya patriarki masih sangat kuat di banyak daerah, di mana suara perempuan sering kali diabaikan. 

“Ketika perempuan mengeluh sakit, sering dianggap manja. Padahal perempuan itu tidak main-main kalau sudah bicara nyeri. Mereka itu kuat. Jadi kalau mereka mengeluh, berarti memang sudah tidak tahan,” tambahnya.

Lebih jauh, dr. Sita menyoroti bagaimana perempuan sering tidak mendapat dukungan saat butuh pengobatan. Hingga akhirnya membuat mereka ragu untuk memeriksakan diri. 

Di momen 80 tahun Indonesia merdeka, dr. Sita mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bagi perempuan adalah saat mereka bebas dari rasa takut akan stigma, sakit dan ketidakadilan. “Perempuan harus merdeka untuk mendapatkan akses kesehatan terbaik. Jangan remehkan keluhan mereka. Dukung istri, ibu, anak perempuan kita agar lebih peduli pada kesehatannya,” himbaunya.

Dengan semangat penuh cinta, ilmu, dan empati, dr. Sita terus mendedikasikan dirinya demi kesehatan dan kesejahteraan perempuan Indonesia. Karena ia percaya, saat perempuan sehat dan bahagia, maka keluarga, masyarakat, bahkan bangsa akan ikut kuat. “Kemerdekaan Sejati Adalah Ketika Perempuan Bebas Mengakses Kesehatan Tanpa Batasan. Tanpa takut dihakimi dan tanpa harus bertahan dalam diam,” katanya.

Dan sebagai dokter spesialis kandungan yang mengabdikan diri pada bidang minimal invasive gynecology, dr. Sita bertekad menjadi bagian dari perubahan. Ia percaya, saat perempuan diberdayakan untuk menjaga kesehatannya, maka keluarga, komunitas, dan bangsa pun akan ikut menguat.“Karena bagi saya, perempuan adalah jantung keluarga. Dan tidak akan ada kemerdekaan yang utuh jika jantungnya terus diabaikan,” tekannya. 

Hidup adalah Pilihan. Sudah menjadi rahasia umum jika pendidikan kedokteran bukan hanya membutuhkan biaya yang besar, tapi juga kemampuan akademis yang tinggi dan mental yang tangguh. Dan setelah gelar sebagai seorang dokter dikantongi, berbagai tantangan juga menunggu untuk ditaklukan. 

Seperti yang dialami dr. Sita, yang dituntut untuk bisa menyeimbangkan peran sebagai profesional dan istri. “Dulu sebelum menikah, saya bisa pergi ke mana pun, ikut kursus ke luar kota atau luar negeri. Tapi setelah menikah, tentu saya harus menyesuaikan dengan keluarga,” ungkapnya.

Beruntung, sang suami yang juga seorang dokter sangat mendukung. Namun ia menyadari, tidak semua perempuan mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang. “Kalau perempuan hanya diminta di rumah saja, nanti pasien wanita siapa yang tangani?” ujarnya, sembari menekankan pentingnya keberadaan dokter perempuan terutama dalam spesialisasi sepertinya.

Apalagi, kini semakin banyak pasien yang memilih untuk ditangani oleh tenaga medis perempuan, baik karena alasan agama maupun kenyamanan pribadi. “Banyak pasien yang memang secara khusus minta dokter perempuan. Bukan hanya yang berhijab, tapi juga yang merasa malu jika harus diperiksa oleh dokter laki-laki,” jelasnya.

Permintaan itu bahkan kini berkembang hingga ke tingkat prosedur operasi. “Dulu tren-nya adalah operasi caesar ditangani tim perempuan semua. Sekarang permintaan seperti itu makin banyak, bahkan untuk prosedur seperti laparoskopi atau robotik,” tambahnya.

Bagi dr. Sita, segala tantangan ini kembali pada satu hal yakni keberanian mengambil pilihan. Ia percaya bahwa selama semua pihak saling memahami dan menghormati peran masing-masing, maka semuanya bisa berjalan selaras. “Saya juga bukan orang yang 24 jam harus ada di rumah sakit. Kalau bukan kondisi darurat, pasien harus menyesuaikan dengan jadwal. Tapi kalau darurat, tentu saya siap,” tegasnya. 

Baginya, menjadi dokter bukan hanya soal profesi, tapi juga misi hidup. Di tengah tekanan, ia tetap menjadikan pelayanan pada pasien dan pengembangan diri sebagai panggilan. “Hidup ini tentang pilihan. Dan ketika sudah memilih, kita harus bertanggung jawab menjalani konsekuensinya.”

Berjejaring dan Memberi Dampak Lebih Luas

Di tengah kesibukan praktik dan perannya dalam keluarga, dr. Sita tetap aktif dalam berbagai organisasi profesi. Ia tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia). Bahkan, di tingkat regional Asia Pasifik, ia menjadi pengurus special interest group untuk robotic di EPYG (Asia-Pacific Association for Gynecologic Endoscopy).

Bagi dr. Sita, bergabung dalam komunitas profesional bukan hanya memperkaya ilmu dan jejaring, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi lebih luas dalam memajukan kesehatan perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di kawasan regional.

Tak Berhenti Belajar. Tak puas hanya menjadi Sp.OG, dr. Sita terus melanjutkan pendidikannya. Tahun 2022, ia meraih gelar Master of Science in Human Reproduction dari University of Valencia, Spanyol, yang mayoritas ia jalani secara daring akibat pandemi COVID-19. 

Tak berhenti di situ, ia juga mengejar sertifikasi internasional untuk MIGS yang sempat tertunda karena pandemi. Dan kini, ia kembali menjadi mahasiswa, mengambil pendidikan konsultan di bidang Endokrinologi Reproduksi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

“Buat saya, belajar itu nggak ada habisnya. Dunia kedokteran terus berkembang. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal,” ucapnya penuh semangat.

Dengan pendekatan minimal invasif dan dedikasi tanpa henti terhadap pendidikan dan pengembangan teknologi kedokteran, dr. Sita tak hanya menjadi penolong satu nyawa, melainkan dua. Ia adalah representasi dokter masa kini yang cerdas, berani berubah dan tak pernah berhenti belajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top