MajalahKebaya.com, Jakarta – Widhia Ayu Titie Patriani, owner Roti Surui, boleh berbangga hati karena usaha yang dirintisnya masih bertahan hingga kini, bahkan berkembang kian pesat. Kuncinya hanya satu, tegas Ayu, sapaan akrabnya, yaitu konsisten dengan kualitas produk untuk menjaga trust pelanggan. Ia menjelaskan bahwa bahan membuat roti itu sama semuanya, yang membedakan adalah kualitasnya, juga tampilan atau packaging, dan servis atau pelayanan kepada customer.
“Saya tidak suka bahan yang asal-asalan. Saya ingin bahan yang berkualitas sehingga menghasilkan roti yang baik dan lembut. Selain itu, dari sisi kemasan juga saya sangat perhatikan, saya menggunakan packaging hard cover sehingga pantas kalau dikasih ke orang lain. Makanya, harga untuk produk roti saya ini cukup mahal, tapi sebanding dengan kualitas,” tegas Ayu.
Faktor pendukung lain, lanjut Ayu, adalah SDM atau karyawan yang andal. “Dari semula hanya 3 orang pegawai, sekarang sudah ada 5 orang. Semuanya sudah amat sangat bisa dilepas.. jadi saya hanya fokus di SOP dan quality control saja. Kelima pegawai saya sudah bisa handle semuanya. Kalau pada awal-awal usaha, saya tidak ingin lepas tangan begitu saja dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada karyawan, sehingga saya masih sering berbelanja untuk keperluan bahan, tapi sekarang semua urusan bisa didelegasikan ke karyawan,” ujar Ayu.
Ayu yakin, jika kualitas dapat tetap terjaga, maka bisnisnya ini akan terus bertahan, atau bahkan menjadi lebih besar lagi. Selain itu, ia percaya rezeki itu memang sudah ada yang mengatur dan tidak mungkin tertukar. Makanya, hingga sekarang Ayu mampu untuk tetap tenang menjalankan usahanya, kendati kompetitor semakin banyak.
Berharap Pemerintah Rangkul UMKM Lebih Luas Lagi
Langkah dan strategi Pemerintah untuk memperkuat UMKM, terutama dalam menghadapi krisis global saat ini, direspon Ayu dengan antusias. Sebagai salah satu pelaku UMKM, dukungan dan support Pemerintah sangat diharapkan agar usahanya bisa berkembang lebih besar lagi dan berdaya saing tinggi. Namun, dengan jujur ia mengakui tidak tahu caranya bagaimana agar bisa mendapat sentuhan dari Pemerintah, baik dari sisi modal, pelatihan, promosi dan marketing, hingga manajemen bisnis yang benar.
“Saya sangat tertarik sebenarnya mau ikut berpartisipasi dalam program-program Pemerintah. Cuma kebetulan saya memang tidak tahu jalannya, ini harus ke mana linknya, padahal dari dulu tuh saya ingin sekali. Semoga Pemerintah bisa lebih mendukung dan support. Mungkin banyak yang seperti saya, yang tidak tahu how to, apalagi yang di luar daerah. Mungkin Pemerintah lebih informatif lagi lewat promo atau informasinya itu mungkin bisa lebih luas lagi disebar-luaskankan, karena saya yakin banyak banget yang tertarik untuk bergabung,” ungkap Ayu.

Roti Surui Semakin Populer
Saat ini, sudah banyak varian roti yang diproduksi Ayu. Mulai dari Roti Daging, Roti Gandum, hingga Roti Sisir yang merupakan signature-nya dengan dipping cream yang membuat beda. Roti Gandum tidak terasa seret karena memakai ragi alami yang dibuatnya sendiri, aman untuk orang yang mempunyai penyakit lambung. Roti Gandum bikinan Ayu juga bisa ditambahkan topping apa saja, mulai dari pizza, abon, hingga cake.
“Satu lagi dari Roti Surui, sekarang kita sudah bersertifikasi halal. Jadi untuk pembeli di mana pun tidak perlu ada keraguan untuk mengkonsumsi produk kita, insya Allah aman, karena sertifikasi halalnya sudah keluar beberapa bulan yang lalu,” jelas Ayu.
Kiat Sukses dan Tantangan
Bagi Ayu, setiap usaha tak melulu harus berdasarkan passion. Asal ada jalan dan kesempatan, kemauan dan tekad, serta doa dan kerja keras, semuanya pasti dapat terlaksana dengan baik. Ia sendiri mengakui sebelumnya tak memiliki passion sama sekali dalam bisnis kuliner seperti roti. Namun dengan gigih Ayu terus mencoba dan mencoba membuat roti sampai berhasil sesuai keinginannya. Ia pun seiring waktu menjadi ahli dan menikmati feel-nya.
Hal selanjutnya yang menjadi prinsip adalah konsisten menjaga kualitas roti. Ayu percaya, hanya dengan itu ia bisa memikat hati pelanggan sehingga mereka menjadi loyal. Jaga trust pelanggan adalah yang paling utama baginya.
Di samping itu, tantangan dan kendala juga dialami Ayu. Selain persaingan usaha yang semakin ketat, kenaikan harga bahan baku juga cukup mengganggu jalannya bisnis. “Seperti saat ini, kita mau naikin harga sebenarnya agak sulit karena kenaikan harga bahan baku ya. Tapi selama ini sih Alhamdulillah masih bertahan, walaupun namanya usaha ada naik turunnya.Tapi Alhamdulillah masih aman hingga saat ini.”

Perjalanan Karier
Ayu sempat bekerja pada salah satu bank, lebih kurang selama lima tahun. Ia juga pernah mencoba usaha clothing dan sempat mengikuti Indonesian Fashion Week bersama teman-temannya. Namun, pada tahun 2013, Ayu diminta untuk resign dari pekerjaan oleh suaminya karena ingin dirinya lebih fokus pada keluarga dan mendampingi tumbuh kembang anak-anak. “Alasan saya diminta resign karena suami saya sering berpindah-pindah karena urusan pekerjaan. Mungkin dia lebih ingin agar saya dapat lebih involve terhadap urusan keluarga,” ujar wanita yang menamatkan pendidikan Diploma di LPK Tarakanita ini.
Namun di balik semuanya itu, Ayu yakin suaminya tetap ingin dirinya memiliki kegiatan lain, kendati harus mengurusi anak-anaknya di rumah. Selang beberapa waktu, keinginan itu mulai terjawab ketika mereka pindah ke Bali, ikut suami yang ditugaskan di sana. Di Bali, Ayu mulai mengenal dan belajar mengenai roti. “Saat kami pindah ke Bali, saya mulai belajar mengenai roti dengan kakak ipar. Kebetulan, kakak ipar saya memiliki usaha kuliner dan mengajak saya untuk belajar dengannya,” tutur Ayu.
Kendati awalnya Ayu menolak ajakan kakak ipar, namun lambat laun ia mulai menyukai pekerjaannya untuk membuat roti. “Jujur, awalnya saya menolak karena tidak suka masak, apalagi baking. Tetapi karena suami mendukung dan membelikan mixer, saya pun mulai memberanikan diri untuk membuat roti,” ujarnya.
Ayu pun mengakui telah sering gagal ketika awal-awal membuat roti. Namun lama-kelamaan, ia berhasil membuat adonan roti dengan baik. “Meski pada awalnya sering gagal, namun pada suatu kesempatan saya berhasil membuat adonan secara baik. Hal ini jelas membuat saya bahagia dan ingin terus membuat roti,” tegas wanita kelahiran Jakarta, 26 Maret ini.
Setelahnya, Ayu diminta oleh suami untuk membagi-bagikan roti yang dibuatnya kepada kerabat dan keluarga di Jakarta. Tanpa disangka, roti yang dibagi-bagikannya tersebut justru di-posting di media sosial dan mendapat respon yang baik di kalangan netizen. Hal itu membuat Ayu termotivasi untuk memulai bisnis roti. “Melalui keseluruhan perjalanan ini, saya tersadar bahwa bisnis tak melulu berdasarkan passion, tetapi lebih kepada niat, usaha, dan doa, yang pasti membuat jalan dan kesempatan untuk maju terbuka lebar,” antusias Ayu.
Rencana ke Depan
Selain usaha roti dengan brand Surui, Ayu juga mencoba menyediakan nasi khas Kalimantan dengan bumbu habang, atau bumbu merah, karena suaminya asli orang Kalimantan.
Ke depan, ia ingin merambah ke usaha kafe. “Kafe sendiri dimana di situ ada makanan berat, konsepnya ya ada kopi segala macam, pastinya ada roti. Kebetulan saya punya teman banyak yang bisa masak, yang masakannya enak, yang juga punya usaha sendiri. Cita-cita saya inginnya bertempat di satu lokasi. Mudah-mudahan bisa terlaksana ya..Aamiin,” doa Ayu yang hobi traveling, shopping, dan hangout bersama sahabat-sahabatnya.
