MajalahKebaya.com, Jakarta – Jiwa seni sudah tertanam kuat dalam diri Ratri Werdiningsih Kalungsari atau populer dengan nama Ratri Wijaya sejak kecil. Ia suka sekali menggambar, dan passion-nya lebih ke art. Ratri pun memperdalam mengasah bakat dan ilmu seninya dengan mengambil kuliah dan lulus S1 Desain Interior di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung. Selain seni, Ratri menyadari memiliki jiwa entrepreneurship yang juga kuat, turun dari orang tuanya yang menggeluti dunia usaha, sebagai distributor batik. Ia pun memadukan antara seni dan bisnis, sehingga kini dikenal sebagai fashion designer dan entrepreneur sukses yang memiliki 3 brand yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alea. Tidak lupa ia juga telah membekali diri dengan ilmu tentang fashion design dan mode dengan belajar di ESMOD Jakarta.
Rumah Batik Wijaya yang berdiri sejak tahun 2007, menghadirkan produk fashion batik bekerja sama dengan pengrajin Pekalongan dan Jogja. Desain produk merupakan kreatif Ratri sendiri dibantu 3 orang tenaga freelance, 5 hingga 10 orang penjahit. “Sekarang kita juga mau kembangkan motif sendiri. Ciri khas batik kreatif saya lebih ke motif bordir yang kelihatan elegan,” ungkap ibunda dari Vitto Raqilla Safiy (11 tahun) ini.
Ratri sangat mencintai pekerjaannya karena sesuai passion. “Lebih asyik kalau kerja sesuai hobi. Saya akan struggle saat dihadapkan pada kondisi sulit dan berusaha bangkit karena sudah passion saya di sini,” ujar Ratri yang sangat terinspirasi sosok ibunya yang selalu gigih, mandiri dan mendukungnya terutama saat menghadapi masa sulit dalam pengembangan bisnis.
Kemudian di tahun 2021 Ratri berencana membuka usaha untuk memberdayakan penyandang disabilitas. Rasa empati dan kepedulian yang besar dalam diri, menggugah nuraninya untuk mendirikan Kamaku yang baru launching pada tahun 2023. Ia berkolaborasi dengan para penyandang disabilitas khususnya down síndrome dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta. “Kita berikan pelatihan membuat kain batik dengan pewarna bahan alami,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 4 Oktober ini.
Dan, pada tahun 2024 Ratri kembali mengeluarkan brand baru khusus produk hijab yang diberi nama Alea dengan ciri khas fancy style hijab bermotif batik dan pop.
Support Pemerintah Perkuat UMKM Perempuan
Sebagai pelaku UMKM, Ratri merasakan support Pemerintah terhadap perkembangan bisnisnya cukup besar. Salah satunya dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta. “Dari sana saya bisa ikut berbagai pameran dan pelatihan. Saya pernah dipercaya sebagai pengajar, kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM DKIJakarta dan Kementerian. Saya juga ikut mentoring waktu mau ikut lomba fashion designer dan setelah menang semakin sering ikut ajang lomba fashion designer,” jelasnya.
Mentoring diadakan di Balai Diklat Industri Kementrian Perindustrian dan Ratri lolos dari ratusan peserta. Selama 6 bulan ia dibimbing para mentor, baik mentor di bisnis maupun fashion. “Saat mentoring diberikan fasilitas seperti ruang jahit dan itu membantu sekali. Pikiran saya menjadi lebih terbuka bahwa pelaku UMKM perlu mentoring supaya saling support,” tambah perempuan yang hobi membaca dan melukis ini.

Dukungan pemerintah dirasakan Ratri Wijaya terutama dari Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Pelaku UMKM dianggap setara dengan pengusaha yang sudah skala besar jadi tidak merasa minder atau rendah diri.
“Beberapa waktu lalu, saat ada acara yang didatangi para pelaku UMKM hingga pengusaha HIPMi yang sudah berskala besar, Pak Menteri Maman hadir. Acara tersebut saya nilai sesuatu yang baik karena pelaku UMKM maupun skala besar mulainya dari yang kecil, jangan sampai pelaku UMKM melihat yang sudah berskala besar menjadi minder duluan. Di acara itu kita merasa dipersatukan baik pengusaha kecil, menengah dan besar,” ungkapnya.
Ratri pun berharap Menteri UMKM lebih banyak mengayomi UMKM dan memperhatikan pelaku UMKM dari skala kecil yang mulai merintis bisnisnya. Selain pelatihan teknis dan teknologi juga diberikan motivasi atau semangat supaya UMKM skala kecil bertumbuh agar bisa berkembang menjadi skala lebih besar.
Sosial Kemanusiaan dan Rangkul Penyandang Disabilitas
Ratri selalu mengingatkan dirinya untuk menerapkan corporate social responsibility (CSR) di bisnisnya dengan menyalurkan sebagian dana dari keuntungan usaha Rumah Batik Wijaya untuk membantu para penderita kanker. Selain menjadi donatur, ia menghibur anak-anak penderita kanker yang sedang dirawat d Rumah Sakit. Ia juga memberikan pelatihan kerajinan dan ilmu bisnis kepada mereka. “Misalnya, kita melatih mengenai fashion dengan membuat kolase 3 dimensi dari batik.”

Begitupun dengan usaha perdayakan anak-anak penyandang disabilitas lewat Kamaku, lahir dari kepedulian dan empati yang begitu besar dari dirinya. Apalagi ia melihat anak penyandang disabilitas ternyata cukup aktif saat belajar batik. “Teman saya memiliki anak penyandang disabilitas dan saat saya ajarkan batik dia aktif sekali, meskipun ada keterbatasan bisa belajar batik dengan baik,” terangnya.
Selain kain batik, saat ini para penyandang disabilitas juga membuat produk aksesori, tas, dan lainnya. Mereka diberikan kesempatan magang selama 4 bulan dan rata-rata mereka berusia di atas 17 tahun. Bahkan ada yang diikutsertakan Ratri dalam gelaran fashion show yang diikutinya supaya mereka bisa merasakan bekerja dalam sebuah proyek. Mulai dari membuat kain hingga jadi baju. Dua orang anak mewakili teman-temannya yang magang mengenakan pakaian yang mereka buat sendiri saat di catwalk. Setelah magang, mereka bisa mandiri dan rutin ikut bazaar/pameran.
“Mereka sangat bersemangat dan bertambah rasa percaya dirinya. Saat penjualan juga kita bagi hasil tiap bulan. Saya memberikan apa yang telah mereka buat dengan perhitungan kain atau baju yang terjual,” ungkapnya bangga.
Baru-baru ini Ratri Wijaya bekerja sama dengan salah satu bank untuk mensupport para penyandang disabilitas dengan membuatkan rekening tabungan sehingga mereka bisa belajar menabung sejak dini.
Di tengah keterbatasan dana untuk memberikan pelatihan bagi para penyandang disabilitas, Ratri berharap lebih banyak komunitas ikut bergerak untuk memberdayakan para penyandang disabilitas. “Selama ini saya sendiri hanya bisa menerima magang sekitar 20 orang anak penyandang disabilitas selama 4 bulan. Banyak dari anak penyandang disabilitas yang menunggu giliran untuk bisa ikut magang tapi dana CSR saya juga terbatas, apalagi di tengah gempuran produk yang dijual di online. Mungkin saya bisa bekerja sama dengan pihak lain atau diberikan fasilitas CSR dari Pemerintah untuk lebih banyak memberikan pelatihan bagi adik-adik penyandang disabilitas,” harapnya.
Dalam memberdayakan anak- anak penyandang disabilitas, Ratri menilai masih banyak orang belum paham dan beranggapan hal itu merupakan eksploitasi terhadap anak-anak atau pencitraan dengan mengatasnamakan para penyandang disabilitas. ” Saya justru memberikan perlindungan dan membuat mereka bisa mandiri ke depan, jadi saya tidak mendengarkan stigma itu. Apa yang kita bisa lakukan sekecil apapun akan kita lakukan agar dampaknya ke depan lebih baik. Saya juga berharap perlunya dukungan Pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa pemberdayaan terhadap anak-anak para penyandang disabilitas dengan memberikan pelatihan merupakan hal yang positif,” tegasnya.
Tantangan Dihadapi dengan Kreativitas dan Inovasi
Rumah Batik Wijaya hingga kini tetap eksis di tengah persaingan bisnis yang cukup ketat. Ratri melihat saat ini banyak produk fashion yang meniru desain sesama pelaku UMKM lain. Menurutnya perlu edukasi bagi pelaku UMKM terkait hal itu. “Terkadang ada produk yang meniru desain kita lalu dijual di e-commerce dengan harga murah. Banyak konsumen jadi membanding-bandingkan padahal itu jelas sangat berbeda dari bahannya maupun kualitas jahitan,” keluhnya.
Tantangan lain, banyak pengrajin daerah terutama dari Gen Z yang mulai kurang tertarik dengan batik. “Pengrajin saya sendiri ada yang sudah dewasa maupun remaja. Tapi saat ini mereka mengeluh banyak produk batik printing yang dijual di pasaran dengan harga murah. Untuk itu designer atau pelaku UMKM perlu berkolaborasi dengan para pengrajin sehingga bisa lebih mengangkat kain batik yang mereka buat. Motif batik mereka juga ada yang happening,” ujar Ratri yang rutin mengikuti arisan untuk menjalin relasi.
Menghadapi tantangan, terutama juga untuk para designer muda, Ratri menyarankan untuk tetap melihat tren dan melakukan inovasi, serta tidak melupakan apa yang menjadi ciri khas Indonesia. Para designer harus bisa menggali potensi lebih dalam untuk mengembangkan desain fashion hingga go global, diminati konsumen hingga mancanegara. “Saya juga mengajak mereka untuk merangkul para pengrajin dan tidak mementingkan ego sendiri. Bisnis juga harus punya value, bermanfaat untuk orang lain dan lingkungan kita,” sarannya.
Rencana ke Depan
Ke depan Ratri ingin usahanya berkembang lebih besar supaya bisa menambah banyak pengrajin dari berbagai pelosok daerah, melibatkan banyak kaum perempuan dan penyandang disabilitas dan bisa go international.
“Pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas dan para pelaku UMKM bisa memberikan ilmu atau kesempatan bagi para penyandang disabilitas.Saya sendiri ingin produk hijab Aleya lebih mengedukasi para santriwati dan rencananya akan melibatkan para penyandang tuna netra,” tambah wanita cantik yang selalu sempatkan waktu me time di tengah padatnya kesibukan mengembangkan bisnis, dengan berjalan kaki menuju suatu tempat tertentu untuk melukis.
