MajalahKebaya.com, Jakarta – Sebagai Ketua Umum KADIN Kaltim, Dayang Donna Faroek atau akrab disapa Donna, bercita-cita dan memiliki tekad yang kuat untuk membantu pelaku usaha mikro agar bisa naik kelas sehingga mampu memberikan dampak kesejahteraan yang lebih signifikan bagi Provinsi Kaltim. Salah satu program nyata yang telah ia lakukan adalah membantu pelaku usaha di sekitar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha).
“Dengan NIB itu para pelaku usaha mikro bisa mendapatkan akses permodalan ke lembaga keuangan. Kemudian kami juga telah bekerja sama dengan Bank Indonesia dalam meningkatkan kapasitas para pelaku usaha mikro agar memiliki daya saing. Saya berharap pelaku usaha di Kaltim tidak bergantung dari memanfaatkan sumber daya alam saja namun bisa lebih kreatif dalam membangun usaha,” ungkap wanita cantik kelahiran Samarinda, 10 April ini dengan semangat.
Donna yang merupakan salah satu di antara 4 dari 34 provinsi sebagai Ketua Umum Wanita KADIN di seluruh Indonesia, menyadari persaingan di dunia usaha terasa semakin ketat di era dengan perkembangan teknologi yang sangat dinamis dan pesat, serta serba digital saat ini. Menurut Donna, tidak ada cara lain dalam menghadapi persaingan, baik dalam dunia karier maupun bisnis, agar bisa survive, bahkan terus berkembang dengan sukses, yaitu dengan menaikkan kompetensi diri.
“Maka yang perlu kita lakukan adalah upgrading ilmu dan skill. Dunia usaha hari ini memiliki banyak tantangan termasuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, ada banyak formasi yang hari ini dibutuhkan namun belum tercukupi, misal kita bicara tentang pengunaan AI (artificial intelligent) dalam dunia usaha, kita bisa hitung berapa tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan itu. Selain itu kita sebagai manusia harus bisa menggunakan hati dalam bekerja, karena hanya hati atau perasaan yang tidak bisa ditiru oleh kecanggihan apapun,” tegas Donna.
KADIN Kaltim di bawah kepemimpinan Donna,sangat aktif mendukung dan menyukseskan program-program Pemerintah Pusat seperti Program Makanan Bergizi, Peningkatan Investasi di daerah masing-masing Provinsi, dan lain-lain yang berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro di daerah. Apalagi saat ini, Kalimantan Timur sangat popular karena adanya rencana pemindahan Ibu Kota Negara Nusantara di Kaltim.
Karena itu, salah satu tantangan terbesar sekaligus tugas dan kewajiban penting bagi KADIN Kaltim, menurut Donna, adalah terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Program-Program Pemerintahan Provinsi Kaltim. Seperti Program Gratis Poll (Gratispol) dan Jos Poll (Jospol) yang menjadi progam unggulan Pemerintah Provinsi Kaltim. Program Gratispol setidaknya menyangkut 6 kebijakan gratis Pemprov Kaltim, yaitu pendidikan gratis jenjang SMA/SMK/MA, SLB, D3, S1, S2, hingga S3, pelayanan kesehatan gratis dan bermutu, umrah dan perjalanan spiritual gratis bagi marbut masjid dan penjaga rumah ibadah, gratis seragam sekolah, bantuan biaya administrasi kepemilikan rumah gratis untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), daninternet gratis setiap desa. Program Jospol, yakni program kemudahan investasi yang menargetkan pembinaan 1.000 UMKM dalam setahun.
Sebagai wilayah penyanggah Ibu Kota Nusantara, lanjut Donna, Kaltim juga memiliki tantangan baru yaitu bagaimana bisa mengoptimalakan lahan pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kaltim dan IKN. “Selama ini kebutuhan pangan masyarakat Kaltim masih sangat bergantung perdagangan antar pulau dengan Jawa dan Sulawesi, namun dengan adanya IKN maka dipastikan kebutuhan pangan di Kaltim akan meningkat, maka selain mengandalkan perdagangan dengan daerah lain, Kaltim harus bisa memaksimalkan lahan yang ada untuk meningkatkan kebutuhan pangan. Dan keterlibatan Pemerintah Pusat harus benar benar direalisasikan,” ungkap Donna saat berdiskusi bersama Mantan Presiden Jokowi di Istana Negara Nusantara beberapa waktu lalu.

Untuk mewujudkan itu, tegas Donna, Kaltim harus membangun berbagai fasilitas penunjang. Ini merupakan peluang bagi para investor untuk bisa berinvestasi di Kaltim khususnya di sektor ketahanan pangan. Seperti saluran irigasi, lahan persawahan, lahan pertanian, dan fadilitas penunjang lainnya untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kaltim. Dan, tentu saja Kaltim sangat mengharapkan banyaknya investor yang masuk untuk mengkolabirasikan berbagai fasilitas penunjang lain demi keberlangsungan Ibu Kota Negara nantinya.
Bersyukur, Sabar, dan Relasi Kunci Sukses Berbisnis
Donna memilih jalur bisnis sesuai passion-nya meskipun ia terlahir dari ayah yang adalah sorang akademisi, politisi, dan birokrat andal Indonesia, Awang Faroek Ishak, yang dijuluki Bapak Pembangunan Kalimantan Timur karena dedikasi dan perjuangannya untuk Kaltim, baik sebagai Bupati Kutai Timur, Gubernur Kaltim dua periode, dan Anggota DPR RI. Meskipun saat ini tidak mengikuti jejak Sang Ayah di dunia politik, namun Donna sangat mengagumi dan menjadikan Ayah tercinta sumber inspirasinya dalam menjalankan hidup dan berbisnis.
“Sosok yang menginspirasi saya adalah ayah saya sendiri Almarhum Bapak Awang Faroek Ishak, beliau adalah sosok visioner yang tidak semua orang bisa menerima pemikirannya karena menurut saya pemikiran beliau sangat maju. Menjadi visioner adalah salah satu kunci keberhasilan di dalam usaha, tanpa kemampuan tersebut maka usaha kita akan selalu tertinggal padahal dunia usaha selalu berkembang,” ujar ibunda dari Fionalita Aifa Savitri dan Fayka Melinda Putri, yang hobi traveling ini.
Beberapa lini usaha dijalankan Donna. Pertama-tama ia terjun ke bidang fashion dengan membuka butik di Samarinda, kemudian mulai mengembangkan usaha dekorasi, merambah ke bisnis property seperti kos-kosan dan rumah kontrakan, serta berinvestasi di berbagai bidang perusahaan pangan dan perkebunan, hingga kini beberapa usaha kecil di sektor F&B terus dikembangkannya.
Salah satu usaha kuliner yang dibangun Donna adalah The Belly’s, usaha kuliner grill dan suki di Kota Samarinda yang saat ini sudah memiliki dua cabang. “Secara sederhana keunggulan produk-produk The Belly’s ini harga yang terjangkau atau murah untuk kalangan menengah, dan rasa yang bisa dinikmati segala kalangan,” jelas Donna.
Perkembangan usaha-usaha Donna terbilang cukup pesat meskipun tak bisa dipungkiri banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi. “Kunci sukses usaha yang saya jadikan pedoman dalam menjalankan usaha yaitu sabar karena tidak ada usaha yang langsung jadi tapi ada proses. Ada kalanya usaha memberikan untung atau sebaliknya, saat untung harus bersyukur namun saat rugi harus bersabar. Selain itu kunci sukses saya adalah relasi, saya aktif di HIPMI dan KADIN di mana ini merupakan organisasi besar untuk para pengusaha sehingga membantu saya untuk bisa bertemu dengan mitra bisnis, tidak hanya mitra bisnis namun melalui organisasi tersebut saya banyak kenal pengusaha-pengusaha besar, bahkan para konglomerat di Indonesia, setidaknya saya bisa menambah pengalaman karena dari pengalaman orang lain saya bisa belajar,” ujar Donna yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan S3, dan selalu menekankan pentingnya pendidikan, terutama untuk para perempuan agar bisa berdaya dan mandiri.

Sementara kiat menghadapi kendala dan tantangan dalam bisnis, terutama saat ini sedang terjadi krisis ekonomi secara global, Donna memperkuat ketahanan dan kelangsungan bisnis-bisnisnya dengan inovasi. “Sebagai pelaku usaha kita tidak bisa menghindari krisis ekonomi, yang bisa kita lakukan adalah menghadapi dengan inovasi dan bertahan semampunya. Posisi Rupiah terhadap Dollar cukup memberikan pengaruh bagi perkembangan usaha, misal kenaikan harga barang impor yang menjadi bahan baku usaha. Di samping itu ada kebijakan efisiensi dari Pemerintah, penghematan kegiatan Pemerintah yang cukup memberikan dampak bagi para pengusaha, misalnya daya beli yang menurun. Namun dengan terus melakukan inovasi, bisnis akan bisa bertahan, bahkan berkembang,” optimis Donna.
Me Time Bersama Keluarga yang Paling Utama
Keluarga bagi Donna adalah prioritas utama. Sebagai anak perempuan, ia sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Ia pun merasa berkewajiban merawat dan mendampingi orang tua, terutama di masa-masa tua, di saat sakit, dan dalam keseharian mereka. Karena itu, me time Donna banyak dihabiskan dalam kebersamaan dengan keluarga.
“Bisanya saya menghabiskan waktu me time saya di rumah… kalau dulu saya merawat Alm. Ayah, sekarang saya menikmati mengurus Ibu yang sudah uzur. Selain itu, saya juga menyempatkan waktu untuk sekedar jalan-jalan bersama anak-anak, atau ngopi bersama sahabat-sahabat saya. Saya jarang pergi sendiri, biasanya selalu mengajak anak dan keluarga untuk jalan-jalan,” ungkap Donna.
Sebagai seorang perempuan, Donna juga tentu sangat peduli pada penampilan, terutama pilihan fashion. “Sebagai perempuan Indonesia saya sangat menyukai kebaya dan wastra, ada cukup banyak koleksi kebaya saya dari berbagai desainer nasional. Menggunakan wastra Nusantara merupakan bentuk dukungan saya terhadap perkembangan industri wastra kita,” tutup Donna sambil mengajak perempuan Indonesia untuk bangga dan cinta dengan budaya bangsa, khususnya wastra dan pakaian tradisional adat Indonesia.
