Profil

Fitri Cyntia Asmara Niasih, Tambo Ciek Kian Berjaya Karena Terus Jaga Otentik Rasa dan Selalu Rebranding

MajalahKebaya.com, Jakarta – Restoran Tambo Ciek Foods Melbourne Australia sudah tidak asing lagi bagi warga Australia, terutama WNI yang menetap atau sekadar bersekolah, beranjang-sana, dan berbisnis di Negara Kanguru. Perempuan cantik energik bernama lengkap Fitri Cyntia Asmara Niasih adalah orang di balik kejayaan Restoran Padang tersebut. Kegigihan dan keuletannya, bersama suami tercinta Chef Ezra Toddy, sukses memopulerkan masakan otentik khas Padang di negeri orang, hingga kini memiliki cabang-cabang di beberapa kota besar Australia. Dan di awal tahun ini, Tambo Ciek Indonesia Cabang 3 dari Australia baru dibuka pada tanggal 5 Januari 2025, berlokasi di Bintaro Utama I Blok O2 No 1B Bintaro Jakarta Selatan, dan dalam waktu dekat akan buka cabang ke-4 di BSD Tangerang.

Merintis dan mengembangkan bisnis di negeri orang, bukan semata-mata hanya karena tuntutan biaya hidup yang tinggi di Australia, tapi karena memang jiwa entrepreneurship yang mengalir dalam diri Fitri sangat kuat. Sejak remaja ia sudah dididik menjadi perempuan mandiri oleh ibunya, yang merupakan seorang pengusaha di Jakarta. Sebagai WNI yang kini memiliki izin tinggal permanen di Australia dan banyak menyerap budaya luar, Fitri semakin jeli membaca peluang pasar yang sangat potensial.

Fitri awalnya ikut mendukung bisnis kuliner yang dibangun suaminya di Melbourne, Australia. Tahun 2010, sang suami yang berdarah Minang dan berprofesi sebagai Chef Padang Foods, sempat merintis Restoran Padang di Melbourne dengan nama Salero Kito. Namun, tahun 2014, karena sesuatu hal ia memutuskan untuk menjualnya. 

Pada tahun 2017, Fitri dan Ezra memutuskan untuk membangun kembali bisnis yang sama namun skala catering rumahan dengan nama Tambo Ciek, yang berarti ‘tambah lagi’ dalam bahasa Padang. Keputusan menggeluti kembali bisnis kuliner bukanlah tanpa alasan. Keduanya yakin kuliner termasuk bidang yang tidak ada matinya. Karena sepanjang hidup manusia pasti membutuhkan makanan. 

Awal merintis usaha, suami Fitri masih bekerja sebagai Chef. Untuk itu mereka pun kompak berbagi tugas, yakni suami di bagian operasional, meracik bumbu hingga memasak, sedangkan Fitri di bagian promosi, preparing bahan hingga distribusi. 

“Untuk mempromosikan usaha, saya rajin memposting foto dan video menu-menu masakan khas Padang di sosial media seperti Instagram Ads, Facebook dan marketplace, serta komunitas orang-orang Indonesia yang berada di Victoria, Australia. Untuk mengantar pesanan, saya juga rela menyetir hingga ke kawasan yang jaraknya cukup jauh sembari membawa anak-anak, karena ketika itu mereka masih kecil,” ujar ibunda dari Najla Fayola (22 Tahun, Lulusan Animasi Digital Art RMIT Melbourne), Enzo Toddy (10th Grade 4 Primary School), dan Liam Toddy (Grade 2 Primary School) ini, saat tengah menikmati liburan di Indonesia.

Walaupun tidak ahli meracik masakan, namun kemampuannya di bidang marketing bisa melejitkan bisnis dan brand Tambo Ciek, hingga terus berkembang dengan pesat. Fitri bahkan siap mewaralabakan usahanya ke banyak kota dan kawasan di Australia. 

Restoran Tambo Ciek terus berkembang pesat karena animo masyarakat pencinta masakan khas Indonesia, khususnya masakan Padang otentik sangat tinggi. Cabang ke-2 pun dibuka di pusat kota Melbourne City Carlton yang berlokasi di 108 Lygon St Carlton Victoria 3053 Melbourne City. “Tempatnya jauh lebih besar dan sangat terjangkau oleh pelanggan, terutama pelajar-pelajar internasional dan para wisatawan, karena letaknya tepat di pusat kota. Awal tahun ini, Januari yang baru lalu, kami sudah membuka cabang di Jakarta, dan rencana ke depan, kami akan membuka lagi di Kota Sidney,” antusias wanita cantik kelahiran Jakarta, 16 April ini.

Kunci Sukses Selalu Jaga Kualitas dan Otentik Rasa

Perjuangan Fitri dan Ezra di awal-awal membangun bisnis kuliner dari nol. Seiring waktu, perkembangan restoran pun kian menggembirakan. Itu karena upaya-upaya keduanya dalam mempromosikan usaha yang tiada henti dan selalu mengutamakan kualitas. Promosi dan pemasaran getok tular atau dari mulut ke mulut pun cukup efektif, karena terbukti kian hari, pesanan yang datang terus bertambah.

Puncaknya, ketika awal pandemi 2020 lalu, Pemerintah Australia memberlakukan aturan lockdown, yang tidak memungkinkan sebagaian besar masyarakat berkegiatan di luar rumah. Moment tersebut dimanfaatkan Fitri dan Ezra yang terbiasa melayani delivery order untuk melakukan inovasi baru. Sehingga lebih menarik minat calon customer untuk memesan. Salah satunya membuat packaging food yang ‘Indonesia banget’, yakni menyajikan Nasi Kapau dibungkus kertas nasi beralas daun pisang layaknya Nasi Padang di Indonesia.

Keotentikan rasa khas masakan Padang yang kaya bumbu serta rempah, ditambah tampilan yang begitu tradisional, mampu mengobati rasa rindu masyarakat Indonesia yang tinggal di Negeri Kanguru akan masakan nusantara.

“Pada saat itu, Tambo Ciek yang pertama kali memviralkan Nasi Bungkus Kapau dengan citarasa dan aroma yang berbeda. Dari sana omsetnya langsung naik tiga kali lipat. Bahkan, beberapa Asian Grocery Supermarket meminta kami mengirimkan Nasi Kapau bungkus dan beberapa produk terbaik seperti Rendang dan Sate Padang, karena adanya permintaan konsumen yang cukup tinggi. Demi melayani permintaan yang sangat banyak, ada 5 orang kurir yang standby untuk mengantar pesanan dari 100 customer per hari, dengan jarak delivery yang cukup jauh,” terang perempuan lulusan Diploma Holmes Institute & William Angliss Institute Victoria ini. 

Moment melejitnya jumlah pesanan, mendorong Fitri dan Ezra untuk mengembangkan bisnis. Pada 11 Januari 2021, ketika lockdown dibuka kembali, keduanya melebarkan sayap Tambo Ciek dari catering rumahan menjadi Restaurant Padang. Tak disangka antusiasme para pecinta masakan Indonesia di Melbourne begitu tinggi. Terlihat dari antrean customer yang cukup panjang di pintu masuk. 

Bukan hanya saat launching, namun setiap hari resto selalu dipenuhi customer. Enam bulan kemudian, Fitri dan Ezra bahkan berani membuka cabang di kawasan North. “Awal-awalnya, 50% customer kami adalah orang Indonesia yang tinggal di Melbourne, 30% mix dan 20% Western atau bule. Namun kini, rata-rata 70% customer yang datang dan makan di Tambo Ciek adalah orang asing. Mereka sangat suka Beef Rendang dan masakan Padang lainnya. Selain dine in, Tambo Ciek tetap melayani delivery order yang bisa diorder melalui aplikasi Uber,” jelas pehobi traveling, kuliner, baca buku, dan olahraga yang juga seorang content creator ini.

Ada beberapa hal yang diyakini Fitri membuat Tambo Ciek mampu melejit saat pandemi. Di antaranya adalah kreatif serta konsen dalam menjaga kualitas makanan. “Untuk eksis di bisnis kuliner memang tidak ada pilihan selain menjaga kualitas citarasa dan keotentikan,” tekan Fitri.

Selain lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas, bagi Fitri, menjaga kualitas masakan agar tetap selalu otentik dan berbeda dari pangsa pasar lain, serta selalu rebranding dan mengikuti perkembangan zaman.

Hingga saat ini, berkat keuletan dan dedikasinya sebagai seorang entrepreneur yang mengharumkan nama Indonesia, terutama memopulerkan masakan Padang otentik dari kampung suami yang sulit air ke Negara Australia, Fitri sudah mendapatkan lebih dari 4 atau 5 penghargaan (Awards). Seperti Penghargaan Perempuan Pemberdaya dalam ajang Woman Empower Woman Award 2024 dari Majalah Kebaya Indonesia dan Majalah Inspiratif bekerja sama dengan Kemenparekraf.

Peluang Franchise.

Citarasa menu yang otentik bukan hanya sanggup mengundang customer untuk singgah ke Tambo Ciek, tapi juga menarik minat pengusaha lain menjadi franchisee. “Kami memang berencana mengembangkan bisnis ini lewat sistem franchise, agar Tambo Ciek bisa ditemukan di setiap kota di Australia. Saat ini tengah mengurus perizinan dan segala sesuatunya,” tambah bintang iklan di era 90-an ini.

Lewat sistem waralaba tersebut, Fitri juga tengah merancang konsep auto pilot. Sehingga ia bisa pensiun lebih awal serta menikmati waktu untuk travelling bersama keluarga. “Sebagai owner restauran saat ini saya dan suami masih terjun langsung mengawasi operasional dan management resto. Sehingga waktu kami untuk keluarga terutama anak-anak sangat terbatas,” lirihnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top