Profil

Dumasi Marisina M. Samosir Wongso, Dukung People Empowerment Berbasis Budaya

MajalahKebaya.com, Jakarta – Berkarier di dunia asurasnsi selama lebih dari 3o tahun, Dumasi Marisina Samosir telah memberikan etos kerja terbaiknya. Ia menyukai gerakan peopleempowerment melalui Rumah Kreatif milik perusahaannya, sejak tahun 2016, telah membantu lebih dari 100 orang, kebanyakan perempuan yang dibina untuk membuat karya-karya yang sustainable. Ia mengembalikan kerajinan yang hampir hilang dari tanah Batak dan menyulapnya menjadi produk-produk berkualitas dan mereka mendapatkan penghaislan lebih memadai lagi.

“Baju yang saya pakai ini dibuat oleh para artisan Batak dari Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara. Tekniknya menyamai shibori dai Jepang, dan orang Batak Karo telah mengenalnya sejak 500 tahun lalu, yang disebut Uis Batujala, artinya mereka memakai pewarna alami dan menggunakan teknik mengikat-ikat seperti shibori. Kalau di Palembang disebut jumputan,” papar Dumasi.

Sejalan dengan idealisme dan semangat membangun Rumah Kreatif, Dumasi juga sangat mendukung visi Narasi Wastra dalam mendorong Wastra Indonesia terus naik kelas. Dumasi adalah Sahabat Nari Wastra yang selalu bangga memakai kain dan kebaya karena menyukai dessai yang selalu pas di badan, pilihan warna juga cocok dengan selera serta cutting yang bagus. Setiap posting di sosial media mengenakan kebaya dan kain Narasi Wastra, selalu dipenuhi banyak sekali likes.

Satu kegiatan lainnya adalah menghidupkan kembali tikar yang dibuat oleh pengrajin anyaman yang menggunakan tanaman air Baion sebagai bahan baku tikar alami yang paling umum di Tanah Batak. Tanaman mendongnya tumbuh di rawa, liar atau sengaja dibudi-dayakan dan tumbuh subur di sekitar Danau Toba. Dumasi teringat tikar atau Amak atau Lage yang memberikan kehangatan di musim dingin di kampung halamannya. Ukuran tikar berikasar 3 x 6 m dan memiliki dwi fungsi, sebagai penghangat badan dan alas duduk. Pengrajin anyaman tikar ini berhasil ditemukan, ada 10 orang yang usianya berkisar 58 tahun sampai 68 tahun, pada tahun 2020 lalu. Jadi saat ini, pengrajin yang paling tua sudah berumur 70 tahun, seorang nenek yang masih aktif membuat tikar atau tas dari anyaman. Tidak ada lagi anak muda yang mau melanjutkan keahlian ini.

“Karena saya ingin menggelarkan tikar dan kotak anyaman itu di hotel kami sekaligus mempromosikan kerajinan ini, saya meminta sang pengrajin membuat sekita 100-an. Awalnya hasil produksinya kurang sesuai tapi saya tidak tolak. Kami bina mereka dengan mendatakangkan fashion designer dan ahli produk anyaman sehingga hasilnya sesuai standar pasar, tidak saja dalam tapi juga luar negeri. Tamu-tamu hotel, keluarga dan masyarakat pun berkeinginan memilikinya, membangkitkan semangat para pengrajin untuk menambah tenaga penganyam agar bisa memproduksi lebih banyak lagi,” cerita Dumasi tersenyum senang.

“Kebanggaan bagi kami adalah para pengrajin pun bisa menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anak, bahkan cucu ke jenjang pendidikan tinggi. Kemiskinan bisa dihilangkan jika ada yang mau memberi edukasi dan keterampilan. Memiliki edukasi, keterampilan dan kemauan untuk maju adalah kunci keberhasilan keluar dari lingkaran kebodohan dan kemiskinan. Saya akan terus berbagi karena sudah tertanam kuat sejak kecil oleh kedua orang tua dan kakek-nenek saya yang tiada putus semangat berbagi ke banyak orang,” ujar Dumasi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top