MajalahKebaya.com, Jakarta – Sejak kecil, Githa Tri Halima telah mengenal batik, bukan sekadar sebagai kain, tetapi sebagai warisan yang sarat makna. “Setiap ada perhelatan penting, ibu saya senantiasa mengenakan kebaya yang berpadu dengan kain batik yang diwiru, menciptakan citra anggun dan penuh wibawa. Pemandangan itu begitu membekas di benak saya menanamkan kecintaan mendalam terhadap kain Nusantara,” ucap ibu dua anak, Kasih dan Jose, yang sudah beranjak dewasa ini.
Seiring waktu, kecintaannya tidak terbatas pada batik semata, tetapi meluas hingga berbagai kain dari penjuru negeri. Perjalanannya sebagai sales membawanya ke banyak daerah di Indonesia, membuka kesempatan untuk menyelami lebih dalam keunikan dan filosofi yang tersirat dalam setiap helai kain. Baginya, wastra bukan sekadar lembaran benang yang ditenun dengan tangan, tetapi juga kisah yang dituturkan dalam keheningan, sejarah yang dirajut dalam pola dan warna.

Narasi Wastra: Menenun Mimpi, Menghidupkan Budaya
Melalui Narasi Wastra, Githa ingin lebih banyak perempuan Indonesia merasakan kebanggaan saat mengenakan kain tradisional. Baginya, mengenakan wastra adalah perwujudan kecintaan terhadap budaya, sebuah penghormatan terhadap para pengrajin yang dengan penuh ketekunan melestarikan keindahan ini.
Narasi Wastra, sebuah jenama yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perempuan Indonesia. Narasi Wastra hadir dengan kebaya yang sederhana namun abadi, serta kain batik yang dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik dalam suasana formal maupun kasual.
Narasi Wastra adalah bagian dari upaya melestarikan budaya bangsa. Menjadi bagian dari perjalanan ini adalah sebuah kehormatan, sekaligus tanggung jawab untuk memastikan bahwa wastra Indonesia tetap hidup dan dihargai lintas generasi.
Semua ini tak lepas dari dukungan yang mengiringi perjalanan Githa. Mama yang selalu menjadi pilar semangat, suami terkasih Parlindungan Aritonang, yang penuh dukungan dan pengertian, serta anak-anak, Kasih dan Jose, yang senantiasa memberikan dorongan menjadikannya lebih yakin dalam melangkah. Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kebahagiaan orang-orang terkasih yang turut berjalan bersamanya.
Menjadi Pemimpin, Merangkul Generasi
Di dunia profesional, Githa dikenal sebagai sosok yang teguh, mandiri, dan tak mudah menyerah. Setiap tugas yang dipercayakan kepadanya diselesaikan dengan kesungguhan, berusaha melampaui ekspektasi. Ia percaya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang memberi teladan.
Di lingkungan kerja, ia berhadapan dengan tim yang mayoritas berasal dari Generasi Z—generasi yang penuh energi, kreatif, namun memiliki tantangan tersendiri dalam cara berpikir dan bekerja. Baginya, menjadi pemimpin masa kini berarti membuka telinga lebih lebar, memahami karakter, serta memberikan ruang bagi kreativitas tanpa terburu-buru menghakimi.
Salah satu prinsip yang selalu dipegangnya adalah berbagi. Ia ingin meninggalkan jejak yang berarti, membangun tim yang tidak hanya kompeten tetapi juga memiliki fondasi kokoh untuk terus berkembang. Melihat anak buahnya yang kini juga sukses dalam karier masing-masing menjadi kebanggaan tersendiri baginya—sebuah warisan yang lebih dari sekadar pencapaian pribadi.

Kecantikan Sejati: Lebih dari Sekadar Rupa
Bagi Githa, kecantikan seorang perempuan tidak hanya terpancar dari paras, tetapi dari hati yang bersih dan pikiran yang penuh syukur. Seorang perempuan yang menghargai dirinya sendiri akan selalu tampil rapi, bertutur dengan santun, serta menjaga sikap dalam setiap langkahnya. Kecantikan bukan sekadar perhiasan luar, tetapi juga ketulusan yang terpancar dalam tutur kata dan perbuatan.
“Selain itu,” tuturnya dengan bijak, “berbagi dan bersyukur selalu menjadi kunci kebahagiaan.”
Melalui Narasi Wastra, tidak hanya sebuah kain, tetapi juga merajut kisah, melestarikan budaya, dan memberikan ruang bagi perempuan Indonesia untuk merasa lebih percaya diri. Di setiap lipatan kain, terselip sebuah cerita; di setiap helaian benang, tertanam makna yang lebih dalam dari sekadar mode.
Narasi Wastra bukan hanya tentang berbusana, tetapi tentang menyematkan sepotong warisan bangsa ke dalam kehidupan sehari-hari—menjadikannya tidak hanya indah untuk dipandang, tetapi juga bermakna untuk dikenakan. Sehingga bisa memberi arti untuk setiap orang yang mengaguminya.
