MajalahKebaya.com, Jakarta – Di tengah riuh bonus demografi Indonesia, Cazadira Fediva Tamzil membawa visi besar: memastikan anak muda tak sekadar menjadi penonton pembangunan. Berbekal rekam jejak akademis hingga korporasi, ia meruntuhkan sekat ego sektoral demi membangun kolaborasi lintas generasi. Lantas bagaimana langkahnya menjembatani potensi generasi muda dengan kebijakan yang menentukan masa depan?
Sosok Cazadira Fediva Tamzil mengemban amanat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Pijar (Pijar Foundation), sebuah lembaga yang dipimpin oleh kaum muda yang mempercepat pendidikan, inovasi, dan aksi kebijakan publik di seluruh Asia, dengan lebih dari 80.000 penerima manfaat hingga saat ini. Ia memimpin program-program Pijar, komunikasi eksternal, dan kemitraan strategis dengan organisasi filantropi global dan lembaga multilateral.

Cazadira dikenal sebagai seorang ahli strategi kebijakan publik dan praktisi filantropi dengan pengalaman lebih dari satu dekade di bidang konsultasi, organisasi nirlaba dan akademisi. Ia mendedikasikan karier dan pemikirannya untuk merajut kolaborasi lintas sektor yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menggabungkan ketajaman analisis seorang pakar kebijakan publik, visi besar seorang pemimpin filantropi, hingga kehangatan seorang penikmat kopi yang memaknai kesuksesan dari seberapa besar ia bisa mengangkat orang lain.
Rekam jejak Cazadira membentang dari kampus bergengsi di London dan korporasi multinasional, dan kini ia berlabuh sebagai Direktur Eksekutif Pijar Foundation. Di tangannya, sekat-sekat ego sektoral diruntuhkan demi merajut kolaborasi, mulai dari membekali talenta muda, mendampingi inovasi daerah, merumuskan riset kebijakan, hingga merintis sekolah inklusif. Hal tersebut berakar pada prinsip dasar yang ia pegang teguh.
“Saya membangun jembatan antara kebijakan, masyarakat, dan kemungkinan—mengubah ide-ide katalis menjadi program nyata. Kemajuan terjadi ketika kebijakan bersifat manusiawi, inovasi berakar pada kearifan lokal, dan kaum muda memiliki akses bermakna terhadap keputusan yang membentuk masa depan mereka,” ungkap Cazadira.
Jejak Karier. Jalan panjang yang ditempuh Cazadira tidak terbentuk dalam semalam. Fondasi keilmuannya terbangun kokoh sejak menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI). Lulus dengan predikat summa cum laude dan dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik FISIP UI pada tahun 2015, ia memulai perjalanannya dari ranah akademis sebagai peneliti dan asisten pengajar. Di tahun yang sama, kepemimpinannya terasah saat terpilih dalam program McKinsey’s “60 Young Leaders for Indonesia”.
Langkah strategisnya berlanjut ke Inggris setelah berhasil meraih gelar Master dari London School of Economics and Political Science (LSE) dengan predikat Distinction sekaligus memboyong penghargaan Disertasi Terbaik. Bukan hanya piawai di atas kertas, Cazadira kemudian menjajaki sektor swasta sebagai konsultan hubungan pemerintah regional. Ia banyak mendampingi perusahaan Fortune 500 dan organisasi global di sektor energi terbarukan, pasar karbon, FMCG, hingga kesehatan.
Cazadira pernah meraih penghargaan Next Gen Fellow, Lee Kuan Yew School of Public Policy-Temasek Foundation. Selain itu meraih prestasi Presiden Indonesia Mengglobal, memobilisasi lebih dari 30 relawan di lebih dari 10 negara (2019-2020). Peneliti Berbakat Australia-Indonesia oleh Universitas Nasional Australia. Ia adalah penulis 4 buku dan kontributor untuk East Asia Forum, Kompas, CNBC Indonesia, dan The Jakarta Post, serta dosen dan pembicara tentang studi masa depan, politik iklim, dan karier kebijakan publik.
Seluruh mozaik pengalaman tersebut akhirnya membawanya ke Pijar Foundation pada akhir 2021. Ia membangun portofolio Kebijakan Publik dari nol — dan kini memimpin organisasi tersebut sebagai Direktur Eksekutif. Ia juga dinobatkan sebagai Peneliti Berbakat Australia-Indonesia oleh Universitas Nasional Australia.

Menghidupkan Ekosistem Pijar Foundation. Di bawah kepemimpinannya, Pijar Foundation menjelma menjadi wadah dinamis yang digerakkan oleh anak muda, dengan 75% stafnya berusia di bawah 30 tahun. Pijar Foundation bergerak bukan sekadar sebagai pelaksana program, melainkan jembatan yang menghubungkan berbagai pihak melalui tiga pilar utama:
- Pengembangan Talenta (Future Talents): Membuka akses pembelajaran digital gratis bagi mahasiswa agar lebih siap menembus dunia kerja.
- Pengembangan Inovasi (Future Planet): Menghubungkan inovator muda dengan pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah nyata. Pada tahun lalu, Pijar bekerja sama dengan pemerintah kota Palembang, Bogor, dan Semarang untuk mencari solusi atas isu banjir hingga stunting.
- Pengembangan Kebijakan (Public Policy): Menyediakan riset dan kajian strategis berbasis data untuk membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan masa depan.
Hingga kini, inisiatif Pijar Foundation telah menjangkau lebih dari 80.000 penerima manfaat. Salah satu tonggak sejarah yang membanggakan adalah keberhasilan membangun program pertukaran informasi krisis kesehatan yang melibatkan perwakilan dari 8 negara ASEAN. Selain itu, Pijar Foundation juga sedang merintis keberlanjutan sosial melalui rencana pembangunan Sekolah Dasar Tuli. Program ini berfokus pada pengajaran Bahasa Isyarat sebagai bahasa yang lebih natural untuk teman-teman tuli, bekerja sama dengan kementerian terkait untuk kesinambungan jenjang pendidikan berikutnya.
Mengamati dinamika pembangunan di Indonesia, Cazadira menyoroti masih tebalnya ego sektoral yang kerap menghambat jalan keluar atas suatu masalah. Bagi Pijar, tidak ada istilah “kompetitor” dalam menyelesaikan isu-isu sosial. “Kami tidak pernah bekerja sendiri. Ide-ide Pijar selalu lahir dari kolaborasi lintas sektor—baik dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi, maupun NGO lain. Kita harus saling melengkapi agar sumber daya yang ada bisa berdampak lebih luas dan efisien,” tegasnya.

Cazadira berharap Pijar bisa berkolaborasi tidak hanya dengan pihak-pihak dari Indonesia, tapi juga dari Asia Tenggara. “Menurut saya, tidak ada negara yang bisa menyelesaikan persoalan besar sendirian. ASEAN adalah rumah terdekat kita untuk mulai bergotong royong, dan kalau kita berhasil, saya harap itu bisa menjadi harapan juga bagi negara-negara Global South lain yang menghadapi hal serupa” ujarnya.
“Indonesia adalah salah satu pendiri ASEAN dan salah satu negara yang populasinya paling besar. “Harapan kami bagaimana Indonesia bisa mengembangkan inovasi-inovasi prospek baik yang bisa menjadi percontohan untuk negara-negara lain,” ujarnya.
Pandangan Hidup dan Sisi Humanis. Di balik padatnya aktivitas profesional, Cazadira adalah sosok yang sangat memegang teguh nilai-nilai keluarga. Motivasi terbesarnya bersumber dari nasihat sederhana sang ibu: “Do your best”. Pesan itu mengajarkannya untuk selalu fokus mengembangkan potensi diri tanpa perlu terjebak dalam perbandingan dengan orang lain.
Bagi Cazadira, makna perempuan merdeka adalah perempuan yang memiliki kebebasan penuh untuk menentukan arah hidupnya sendiri, didukung oleh ekosistem yang kondusif. Sosok inspirasi terbesarnya adalah almarhumah sang nenek, seorang single mother yang gigih merantau ke Jakarta, berhasil membangun karier sebagai pemimpin korporat, dan membesarkan empat anak seorang diri.
Di kala senggang, Cazadira menikmati momen me-time yang sederhana namun bermakna: Ia menyukai kopi hitam tanpa gula dengan karakter rasa buah yang unik, serta rutin melakukan café hopping bersama orang tuanya di akhir pekan. Cazadira juga gemar mencoba resep masakan Korea, Western, hingga menu Nusantara seperti rendang dan empal.
Ia memiliki cita-cita pribadi untuk membuka kafe kecil, sebuah ruang hangat bagi komunitas anak muda untuk berkumpul, membaca buku, dan merawat koneksi tatap muka secara langsung. “Sukses itu bukan tentang materi atau jabatan tinggi, tetapi bagaimana kita bisa membersamai orang lain untuk sama-sama mencapai puncak potensi mereka,” pungkasnya penuh hangat. KI
