MajalahKebaya.com, Jakarta – Selama lebih dari 16 tahun, Sukma Dewi menjalani karier profesional sebagai Chef & Culinary Consultant, Heritage Recipe Specialist, dan Cultural Storyteller. Saat ini ia dipercaya oleh lebih dari 250.000 pengikut organik aktif di media sosial, sekaligus oleh berbagai institusi nasional.
“Saya memulai perjalanan bukan dari sekolah kuliner, melainkan dari dapur tradisi. Sejak usia tujuh tahun, saya dididik langsung oleh ibu dan nenek saya, dua perempuan tangguh yang mengajarkan bukan hanya teknik memasak, tetapi filosofi rasa dan disiplin kualitas,” kenang Lulusan S2 Fakultas Ekonomi Manajemen dan Bisnis Jurusan Akuntansi ini.
Saat ini, Sukma Dewi juga dipercaya menjadi narasumber dan juri kompetisi tingkat kabupaten dan provinsi, serta dipercaya sebagai Trainer desa CSR perusahaan BUMN dan korporasi energi seperti PT Pupuk Iskandar Muda, Pema Global Energy, Pegadaian, Bank Indonesia, Bank Aceh dan PJB.
Sukma Dewi juga tampil sebagai Guest Star & Guest Chef di Aceh Street Food Festival 2025 dengan konsep fine dining warisan autentik untuk tamu mancanegara. Ia bahkan telah mengembangkan ratusan resep orisinal yang terdokumentasi dan direplikasi ribuan kali oleh masyarakat. “Perjalanan ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah misi pelestarian identitas rasa Aceh yang otentik dalam standar nasional dan internasional,” tandasnya.
Di tengah perubahan global yang cepat, Sukma Dewi memegang satu prinsip: berpikir global tanpa kehilangan akar lokal. Ia terus mempelajari perkembangan industri kuliner dunia mulai dari tren gastronomi, branding, manajemen sistem, hingga digital positioning agar tetap relevan dalam ekosistem yang bergerak cepat. Namun di saat yang sama, ia berdiri kokoh pada fondasi warisan indatu (nenek moyang/leluhur) dan filosofi dapur tradisi Aceh.
“Latar belakang akademik saya sebagai Magister Akuntansi membentuk cara pandang yang sistemik terhadap industri kuliner. Bagi saya, dapur bukan hanya ruang kreativitas, tetapi juga ruang manajemen, efisiensi, dan keberlanjutan. Rasa harus kuat, tetapi sistem juga harus kokoh,” tegasnya.
Bagi Sukma Dewi, global mind bukan berarti mengubah citarasa menjadi Barat, tetapi kemampuan menghadirkan identitas lokal dengan standar profesional, tata kelola yang baik, dan presentasi yang mampu diterima dunia tanpa kehilangan jati diri. “Teknologi boleh berkembang, tren boleh berubah, namun nilai dan akar budaya harus tetap menjadi pusat orientasi,” ujarnya.
Titik balik terbesar dalam perjalanan karier Sukma Dewi adalah ketika ia menyadari bahwa chef bukan hanya tentang memasak. Chef adalah pemimpin budaya. Saat dipercaya melatih desa binaan CSR dan memimpin program kuliner korporasi nasional, ia memahami bahwa kepemimpinan bukanlah soal popularitas atau eksposur, melainkan tentang transfer ilmu, pembentukan sistem, dan keberlanjutan dampak.
Di titik itu, cara pandangnya berubah. Sukma Dewi tidak lagi melihat resep sebagai sekadar karya kreatif, tetapi sebagai aset intelektual yang harus terdokumentasi dan distandardisasi. Sejak itu, ia membangun pendekatan kepemimpinan yang berbasis pada sistem kerja yang terstruktur, pembinaan karakter dan disiplin kualitas, standardisasi rasa berbasis tradisi dan dokumentasi resep sebagai warisan yang terarsip dengan baik.”Bagi saya, memimpin berarti memastikan ilmu tidak berhenti pada satu generasi, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam sistem yang kokoh.”

Visi Tidak Berhenti pada Narasi
Sukma Dewi memiliki visi mengangkat kuliner tradisional Aceh sebagai identitas berkelas nasional yang siap tampil di panggung global tanpa kehilangan keautentikannya. Baginya visi tidak boleh berhenti sebagai narasi. Ia harus diterjemahkan menjadi sistem kerja yang terukur dan berkelanjutan.
Langkah konkret yang dilakukan Sukma Dewi meliputi rekonstruksi dan dokumentasi resep klasik berbasis riset sejarah dan uji rasa berlapis. Ia juga memberikan pelatihan desa binaan agar memiliki signature menu yang berdaya jual dan memiliki identitas kuat. Integrasi manajemen biaya, efisiensi dapur, serta standardisasi rasa dalam operasional. Selain itu pembangunan branding berbasis storytelling heritage untuk memperkuat nilai budaya, serta edukasi publik melalui media sosial dengan positioning heritage premium yang konsisten.
“Saya memastikan setiap visi besar dapat dirasakan langsung oleh tim, desa binaan, dan masyarakat. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya terlihat di panggung festival, tetapi juga ketika sistem yang dibangun mampu berdiri dan berjalan tanpa ketergantungan,” tambahnya.
Membangun Rasa Memiliki
Dalam memimpin tim yang beragam, Sukma Dewi memiliki tiga pilar utama yaitu keteladanan profesional, standar kualitas yang tinggi, dan komunikasi yang jernih serta tegas. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar memberi instruksi, tetapi menjadi contoh dalam disiplin, konsistensi, dan integritas. Tim yang beragam baik dari latar belakang desa binaan, profesional event, hingga relawan kemanusiaan membutuhkan arah yang jelas dan standar yang tidak berubah-ubah.
“Saya percaya kualitas lahir dari budaya kerja yang terbangun secara konsisten. Ketika pemimpin stabil, tim merasa aman untuk bertumbuh. Tim tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi figur yang dapat dipercaya. Semangat dan loyalitas muncul ketika setiap individu merasa dihargai, dilibatkan dalam visi besar, dan memahami bahwa kontribusi mereka memiliki makna. Bagi saya, memimpin berarti membangun rasa memiliki, bukan sekadar mengatur pekerjaan,” paparnya.
Satu hal yang selalu ia tekankan pada tim adalah jangan hanya menjadi chef yang mahir memasak. Jadilah chef yang memahami sistem, pasar, dan arah industri. Keahlian teknis saja tidak cukup. Dunia kuliner hari ini menuntut pemahaman terhadap branding, perilaku konsumen, manajemen biaya, hingga strategi komunikasi digital.
“Dalam praktiknya, saya mengintegrasikan digital branding, storytelling visual, manajemen biaya produksi, efisiensi bahan, serta standardisasi rasa agar kualitas tetap konsisten meskipun skala berkembang,” tambahnya.
Adaptif bukan berarti mengikuti semua tren. Adaptif berarti mampu membaca perubahan tanpa kehilangan identitas. Teknologi boleh berubah. Pasar boleh bergeser. Namun nilai, integritas rasa, dan fondasi budaya tidak boleh goyah.
Berkarya Ciptakan Impact Nyata dan Berkelanjutan
Tantangan terbesar saat ini menurut Sukma Dewi terutama terkait distraksi digital, budaya branding instan, serta polarisasi opini publik yang sering kali lebih cepat bereaksi daripada memahami substansi. Di era media sosial, persepsi bisa dibentuk dalam hitungan menit. Namun kepemimpinan tidak boleh dikendalikan oleh kebisingan sesaat.
“Saya memilih menyikapinya dengan fokus pada kualitas karya, menjaga etika profesional, dan tidak terpancing konflik yang tidak produktif. Energi saya arahkan untuk memperkuat sistem, memperdalam riset, dan membangun kredibilitas institusional yang berkelanjutan. Bagi saya, reputasi bukan dibangun dari respons cepat, tetapi dari konsistensi jangka panjang. Ketenangan adalah bagian dari strategi kepemimpinan” jelasnya tegas.
Menurut Sukma Dewi, impact bukan sekadar viralitas atau angka keterlibatan di media sosial. Impact adalah ketika desa binaan mampu berdiri dengan identitas kuliner mereka sendiri dan memiliki kepercayaan diri untuk menjualnya. Impact adalah ketika resep warisan terdokumentasi dengan baik sehingga tidak hilang atau terdistorsi oleh waktu. Impact adalah ketika perempuan Indonesia merasa bangga dan percaya diri melalui dapur bukan sebagai ruang yang membatasi, tetapi sebagai ruang kepemimpinan. Impact juga hadir ketika generasi muda melihat kuliner Aceh sebagai kebanggaan, bukan sekadar tradisi lama.
“Saya ingin meninggalkan sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar konten yang sesaat. Bagi saya, dampak yang sejati adalah ketika nilai yang kita bangun tetap hidup bahkan saat kita tidak lagi berada di panggung,” tuturnya bijak.
Sukma Dewi ingin suatu saat bisa mewariskan integritas dalam berkarya, bahwa kualitas tidak boleh dikompromikan demi kecepatan atau popularitas. “Saya ingin generasi berikutnya memiliki keberanian menjaga identitas, terutama di tengah arus globalisasi yang sering kali mendorong kita untuk menyeragamkan rasa dan budaya,” terangnya.
Profesionalisme kelas nasional juga menjadi nilai penting. Tradisi harus dikelola dengan standar tinggi, sistem yang rapi, dan tanggung jawab yang jelas. Ketegasan dalam kualitas adalah bentuk penghormatan terhadap warisan.
Sebagai Chef, Sukma Dewi memiliki kunci sukses sederhana namun konsisten dijalankan yaitu disiplin ekstrem terhadap kualitas. Setiap resep melalui proses riset dan dokumentasi sebelum dipublikasikan. Ia juga tidak tergesa-gesa mengejar tren, tetapi membangun branding berbasis karakter dan nilai yang jelas. Konsistensi adalah fondasi. Bahkan dalam situasi yang tidak selalu mudah, ia memilih tetap fokus pada karya dan sistem yang dibangun.
“Saya juga membangun jaringan strategis dengan korporasi, pemerintah, dan komunitas sebagai bagian dari penguatan kredibilitas dan keberlanjutan. Saya tidak membangun popularitas. Saya membangun kredibilitas,” ungkapnya.

Keberhasilan yang Memiliki Dimensi Sosial
Sukma Dewi percaya kepedulian sosial melalui kuliner adalah bagian dari kepemimpinan. Seorang chef tidak hanya bertanggung jawab pada rasa, tetapi juga pada dampak yang ia ciptakan bagi masyarakat. Chef masa depan harus menjadi duta budaya, bukan sekadar pelaku industri.
Baginya, keberhasilan bisnis tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus memiliki dimensi sosial dan keberlanjutan manfaat. Sebagian penghasilan dari proyek korporasi, pelatihan CSR, dan event nasional secara konsisten dialokasikan untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Namun kontribusinya tidak berhenti pada donasi finansial semata. Sejak tahun 2017, program yang digagasnya telah menjangkau lebih dari 10.000 penerima manfaat anak yatim dan piatu serta keluarga dhuafa. Sukma Dewi membangun komunitas sedekah jamaah bernama SEJAM (Sedekah Jamaah) sebagai wadah kolaborasi kebaikan. “Melalui SEJAM, kami telah membantu lebih dari 10 ribu anak yatim dan piatu, menjadi orang tua asuh bagi anak-anak pesantren, serta mendukung pembangunan dan perbaikan balai pengajian, masjid, dan meunasah. Kami juga terlibat dalam pembangunan rumah-rumah dhuafa sebagai bagian dari penguatan martabat keluarga kurang mampu,” paparnya bersyukur.
Selain itu, Sukma Dewi menyalurkan amanah pembangunan sumur bor wakaf, distribusi berton-ton Al-Quran dan mukena, serta ribuan paket sembako dan parsel untuk anak-anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan.
Dalam misi kemanusiaan di RS Aceh Tamiang pasca banjir bandang, Sukma Dewi terlibat langsung membangun dapur lapangan dan memproduksi 1.500 – 2.000 porsi makanan per hari bagi pasien dan tenaga kesehatan.
“Kami juga mendistribusikan lebih dari 5 ton beras dan kebutuhan pokok bagi masyarakat terdampak. Di sana saya memegang satu prinsip: makanan yang layak adalah bagian dari pemulihan martabat,” tambahnya.
Di luar kontribusi materi, Sukma Dewi juga menekankan transfer ilmu secara inklusif menghadirkan edukasi kuliner yang mudah dipahami berbagai kalangan melalui media sosial, serta memberdayakan desa melalui standarisasi rasa, manajemen dapur, dan efisiensi produksi agar masyarakat memiliki keberdayaan ekonomi jangka panjang.
“Filantropi bagi saya bukan kegiatan insidental. Ia adalah filosofi kerja dan bentuk tanggung jawab moral atas setiap keberhasilan yang saya raih,” ujarnya bijak.
Bangun Kredibilitas, Bukan Sensasi
Ketika melihat banyak resep warisan mulai hilang atau terdistorsi oleh arus modernisasi, Sukma Dewi merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendokumentasikan, merekonstruksi, dan mengangkatnya ke panggung profesional dengan standar yang layak. Inspirasi itu kemudian berkembang menjadi misi: menjadikan kuliner Aceh sebagai representasi budaya yang berkelas nasional dan siap tampil secara global.
Strategi bisnis Sukma Dewi dibangun di atas kredibilitas, bukan sensasi. Ia menerapkan Heritage-Based Branding dengan memposisikan diri sebagai spesialis kuliner warisan. Setiap konten membawa konteks sejarah, filosofi rasa, dan nilai budaya. Berikutnya strategi authority positioning dengan melakukan kolaborasi bersama korporasi nasional, pemerintah, serta keterlibatan sebagai Trainer CSR, juri kompetisi, dan guest chef menjadi legitimasi profesional yang memperkuat personal brand.
Sukma Dewi juga menerapkan digital storytelling berbasis riset dengan konten yang edukatif, terdokumentasi, dan memiliki identitas visual yang konsisten. Strategi terakhir adalah integrasi offline-online dimana setiap aktivitas lapangan festival, pelatihan desa, misi sosial dikomunikasikan secara strategis untuk membangun kepercayaan publik yang berlapis karena ia tidak mengejar viralitas, tapi membangun reputasi.
Ia tidak hanya menawarkan makanan, tetapi sistem dan pengalaman, meliputi pengembangan resep signature berbasis riset, culinary training & consultancy, heritage culinary curation dan konsep fine dining tradisi autentik. Keunggulan terletak pada integrasi warisan tradisi dengan manajemen modern mulai dari standarisasi rasa, efisiensi dapur, hingga tata kelola profesional yang diperkuat oleh kredibilitas institusional melalui kolaborasi dengan korporasi dan pemerintah. “Saya menggabungkan nilai budaya dengan sistem yang terukur,” ujarnya.
Sukma Dewi melihat persaingan bukan sebagai pertarungan popularitas, melainkan diferensiasi nilai. Ia pun bertahan dan berkembang melalui konsistensi kualitas yang tidak dikompromikan, rekonstruksi tradisi berbasis riset mendalam, legitimasi institusional yang terbangun secara nyata dan ketahanan personal dalam menghadapi dinamika industri. Dalam dunia yang bergerak cepat, keteguhan nilai adalah keunggulan kompetitif.

Chef Bukan Hanya Profesi Tapi Juga Penggerak Kehidupan
Kuliner bagi Sukma Dewi adalah bahasa budaya. Ia mampu menjembatani peradaban tanpa perlu banyak kata. Beberapa waktu lalu, Sukma Dewi berdiri di atas panggung Aceh Street Food Festival 2025, salah satu perhelatan kuliner terbesar di penghujung tahun di Aceh.
Di forum yang melibatkan kolaborasi pemerintah dan berbagai unsur independen tersebut, ia dipercaya sebagai Guest Star dan Guest Chef. Sukma Dewi melakukan demo masak bertema warisan autentik Aceh, sekaligus menyajikan jamuan fine dining untuk 30 tamu mancanegara. Baginya, ini bukan sekadar penyajian hidangan. Ini adalah diplomasi rasa.
“Saya menghadirkan masakan Aceh dalam pendekatan fine dining tanpa menghilangkan identitas rempah, teknik tradisional, dan narasi sejarahnya. Setiap sajian membawa cerita tentang indatu, tentang dapur perempuan Aceh, tentang filosofi yang diwariskan lintas generasi,” kenangnya.
“Beberapa bulan kemudian, saya berdiri di ruang yang sangat berbeda tanpa panggung, tanpa dekorasi, tanpa kemewahan. Januari 2026, saya terlibat sebagai relawan chef dalam misi kemanusiaan bersama Yayasan Darah untuk Aceh, dipimpin oleh Kak Nuu Husein. Kami mendapat mandat langsung dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Bapak Budi Gunadi Sadikin, untuk membantu menghidupkan kembali operasional Rumah Sakit Aceh Tamiang pasca banjir bandang,” kenangnya.
“Kondisi saat itu memprihatinkan. Air banjir hampir mencapai atap. Ruang perawatan lumpuh. Dapur rusak total, alat medis dan logistik hancur, tenaga kesehatan bertahan dalam keterbatasan, rumah sakit yang biasanya dipenuhi pasien mendadak sunyi, menyisakan lumpur dan kelelahan panjang. Di tengah situasi itu, kami membangun dapur lapangan. Setiap hari kami menyiapkan 1.500 hingga 2.000 porsi makanan bagi pasien, tenaga kesehatan, dan relawan. Kami juga mendistribusikan lebih dari lima ton beras dan kebutuhan pokok untuk masyarakat terdampak,” paparnya haru.
Perjalanan dari panggung fine dining internasional menuju dapur kemanusiaan di Rumah Sakit pascabencana mengajarkan Sukma Dewi satu hal penting bahwa Chef bukan hanya profesi tapi juga penggerak kehidupan. Kuliner bukan hanya estetika rasa, melainkan alat pemulihan, diplomasi budaya, dan pemberdayaan sosial.
Lahir dan tumbuh dalam budaya Aceh yang kuat menjaga tradisi, Sukma Dewi sangat memahami nilai warisan, menghormati akar, dan menjunjung adab yang ditanamkan sejak kecil. Namun ia juga percaya bahwa menjaga tradisi bukan berarti berhenti bergerak. “Perempuan Aceh hari ini mampu berdiri dalam dua dunia sekaligus menghormati warisan indatu, sekaligus memahami sistem modern, manajemen, teknologi, dan jaringan global,” tegasnya.
Sukma Dewi tidak melihat dapur sebagai ruang domestik yang membatasi. Ia melihatnya sebagai ruang kepemimpinan. Dari dapur, lahir sistem, lahir identitas hingga diplomasi budaya. Sebagai perempuan, ia belajar bahwa kekuatan tidak selalu harus keras. Ia bisa hadir dalam konsistensi, ketenangan, dan integritas yang tidak tergoyahkan. Ia juga ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bisa mengikuti arus industri, tetapi mampu membangun standar. Tidak hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi membentuk sistem.
“Warisan boleh datang dari masa lalu. Namun kepemimpinan harus hadir untuk masa depan. Jika suatu hari nama saya dilupakan, saya berharap sistem, nilai, dan warisan rasa yang saya bangun tetap hidup dan memberi manfaat,” tandasnya bijak. EK
