Cover Story

Lola Nelria Oktavia, S.E., Peduli dan Terus Memperjuangkan Keadilan bagi Masyarakat Kecil

MajalahKebaya.com, Jakarta – Lola Nelria Oktavia banyak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab serta pentingnya integritas di awal berkarier. “Saya mulai berkarier tahun 2000 pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa untuk instansi pemerintahan. Di tahun 2006, saya memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri di bidang yang sama. Itu bukan langkah yang mudah, tetapi justru menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga bagi saya,” kenang wanita cantik kelahiran Jakarta, 13 April, yang akrab disapa Ola ini.

Seiring waktu, muncul keinginan dalam diri Ola untuk bisa berkontribusi lebih luas kepada masyarakat. Ia pun memberanikan diri terjun ke dunia politik dan mengikuti Pemilu sebagai calon legislatif.

“Saya ingin memiliki ruang dan kekuatan yang lebih besar untuk bertemu langsung dengan masyarakat, menampung aspirasi mereka, serta memahami kebutuhan mereka secara nyata. Pada  2024 saya melepas jabatan di perusahaan agar bisa fokus pada langkah tersebut. Saat ini saya dipercaya sebagai Anggota DPR RI Komisi III dari Partai NasDem, sebuah amanah yang saya jalani dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab,” ujarnya bangga.

Bagi Ola, pencapaian terbesar yang diraih adalah kepercayaan masyarakat yang memilihnya sebagai Wakil Rakyat. Kepercayaan ini merupakan penghargaan paling berharga sekaligus amanah besar yang harus dijaga dengan kerja nyata. Ola juga sangat yakin, keberhasilan yang diraihnya berkat dukungan dan doa Ibunda tercintanya. “Sosok Ibu dan doa Ibu adalah yang paling utama bagi saya, saya tidak pernah mengatakan tidak kepada Ibu,” lirihnya.

Resolusi dan Target yang Ingin Dicapai

Ke depan, Ola ingin terus memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam bidang hukum, perlindungan perempuan, dan anak.

“Saya berharap bisa mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada keadilan sosial serta meningkatkan literasi hukum masyarakat hingga menjangkau daerah-daerah yang masih minim akses informasi,” ujar lulusan S1 yang hobi traveling ini.

Tahun ini Ola ingin mencapai resolusi dengan memperluas dampak kerja nyata—bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga lewat program yang benar-benar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Di saat yang sama, Ola ingin menjaga keseimbangan hidup yaitu tetap bertumbuh sebagai pribadi, hadir sebagai ibu bagi keluarga, dan menjalankan amanah sebagai wakil rakyat dengan sepenuh hati.

“Saya terinspirasi oleh banyak perempuan tangguh yang mampu menjalankan peran publik sekaligus menjaga keluarga dengan baik. Mereka mengajarkan bahwa kekuatan perempuan bukan hanya terletak pada ketegasan, tetapi juga pada empati, ketulusan, dan konsistensi dalam memberi manfaat bagi orang lain,” ujar Ola.

Prioritas Perlindungan Kelompok Rentan

Sebagai anggota dewan yang membawahi bidang HAM dan hukum, hal paling krusial menurut Ola adalah masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta rendahnya keberanian korban untuk melapor. Banyak korban belum mendapatkan akses perlindungan hukum yang optimal. Ini menjadi perhatian serius karena perlindungan kelompok rentan harus menjadi prioritas, baik melalui regulasi yang kuat maupun edukasi masyarakat.

Prioritas Ola saat ini terutama perlindungan kelompok rentan serta memastikan penegakan hukum berjalan adil dan transparan. Hak atas rasa aman dan keadilan adalah fondasi utama negara hukum, sehingga keduanya harus benar-benar dijaga.

Ola menilai kendala utama biasanya berasal dari dua sisi yaitu struktural dan kultural. Dari sisi struktural masih ada keterbatasan akses hukum serta koordinasi antar lembaga. Dari sisi kultural, masih ada stigma sosial yang membuat korban takut melapor. Karena itu penyelesaiannya tidak bisa satu arah, tetapi harus menyentuh sistem sekaligus kesadaran masyarakat.

Tantangan terbesar pada HAM terkait perempuan menurut Ola adalah perlindungan dari kekerasan serta kesetaraan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keadilan hukum. Banyak perempuan memiliki potensi luar biasa, tetapi masih terhambat oleh faktor sosial dan budaya. Ini menjadi tugas bersama untuk terus mendorong perubahan.

“Kesadaran hukum pada perempuan sebenarnya mulai meningkat, tetapi belum merata. Masih banyak perempuan di daerah yang belum memahami hak-haknya secara utuh. Karena itu edukasi hukum yang sederhana, mudah dipahami, dan menjangkau wilayah terpencil sangat penting agar mereka merasa berdaya dan tidak sendirian ketika menghadapi persoalan,” ungkapnya.

Harmoni Jiwa dan Pikiran Kunci Kehidupan Bermakna

Selain menjalankan tugas sebagai Anggota Dewan, Ola juga seorang ibu rumah tangga  yang  lebih suka berada di rumah bersama anak-anak ketika tidak ada rapat atau agenda luar.

“Bagi saya, keluarga adalah sumber energi sekaligus pengingat tujuan hidup. Saya terbiasa mengatur jadwal dengan disiplin. Setiap pagi sebelum berangkat rapat, saya selalu menyempatkan diri memasak untuk anak-anak. Anak saya yang paling besar saat ini bersekolah di boarding school, jadi di rumah tinggal yang kecil. Momen pagi itu sederhana, tetapi sangat berharga karena menjadi waktu kebersamaan sebelum saya menjalani aktivitas kerja,” jelas ibu dari  Pasha Priya Hutama (SMA) dan Yula Adha Zunaira (Playgroup) ini.

Jika ada waktu luang, Ola dan keluarga biasanya mudik ke Garut. Di sana ia memiliki tempat tinggal bernuansa kembali ke alam, dengan suasana yang masih sangat asri—ada sawah, kebun, tanaman, dan kolam ikan.

“Saya benar-benar menikmati ketenangan itu karena memberi ruang untuk beristirahat secara utuh, baik fisik maupun pikiran. Garut bukan hanya daerah pemilihan saya, tetapi juga tempat saya biasanya beristirahat dan berkumpul hangat bersama keluarga besar,” terangnya.

Bagi Ola, harmoni antara jiwa dan pikiran adalah kunci menjalani kehidupan yang bermakna. Kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian karier, tetapi juga ketenangan batin, kedekatan keluarga, dan manfaat yang bisa kita berikan kepada banyak orang. Selama kita menjaga niat baik dan konsisten melangkah, Ola percaya setiap perjalanan akan menemukan jalannya.

“Saya selalu memegang prinsip bahwa langkah kecil jauh lebih berarti daripada tidak melangkah sama sekali. Sekecil apa pun kontribusi yang kita lakukan, itu akan jauh lebih berguna dibanding hanya diam di tempat. Prinsip itulah yang saya pegang dalam menjalani kehidupan dan pengabdian saya sampai hari ini,” tandasnya.

Saat berinteraksi, berbicara, mendengarkan aspirasi dan keluh kesah masyarakat, batin Ola merasa terisi. “Dari sana  kita bisa menyimpulkan persoalan bersama sekaligus mencari solusi ke depan. Jadi me time bagi saya bukan hanya soal istirahat, bukan sekadar kegiatan santai seperti pergi ke salon atau berbelanja—meskipun sesekali itu juga saya lakukan. Me time yang sesungguhnya adalah ketika pikiran dan hati saya merasa tenang dan nyaman. Justru salah satu cara saya mendapatkan rasa itu adalah dengan turun langsung ke masyarakat, di  momen ketika hati merasa penuh makna. Itulah versi me time saya,” paparnya ramah. EK

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top