MajalahKebaya.com, Jakarta – Menjadi anggota DPD RI di usia 29 tahun bukanlah hal yang mudah. Namun, Dinda Rembulan, B.A., berhasil membuktikan bahwa generasi muda memiliki ruang dan peran besar dalam politik nasional. Terpilih dengan 86 ribu suara dari daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinda hadir sebagai wajah baru politik Indonesia yang membawa semangat segar Gen Z & Milenial.
Dinda Rembulan, B.A kini dikenal sebagai salah satu sosok muda yang menginspirasi dari Kepulauan Bangka Belitung. Meski lahir di Jakarta, wanita berparas ayu yang akrab disapa Dinda ini, tetap menjaga ikatan kuat dengan tanah kelahiran ayahnya, hingga akhirnya dipercaya masyarakat untuk mewakili daerah tersebut sebagai Anggota DPD RI.
Perjalanan pendidikan Dinda dimulai dengan menempuh studi S1 bidang bisnis di Singapura. Minatnya pada dunia bisnis bukan tanpa alasan. Sejak awal ia memiliki tekad untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Namun, kecintaannya pada dunia politik perlahan tumbuh. Tahun 2022 menjadi titik balik penting. Dinda memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Keputusan ini bukan semata karena dorongan keluarga, melainkan sebagai bentuk kesadaran bahwa ilmu politik dibutuhkan untuk memahami dinamika sosial, pemerintahan, hingga strategi kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Awalnya saya hanya fokus kuliah, tapi kita tahu momen Pemilu datang setiap lima tahun sekali. Saat itu saya melihat peluang sekaligus tantangan, lalu memutuskan untuk mencalonkan diri,” ungkap Dinda.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Berbekal niat tulus, pengalaman, dan strategi yang matang, ia berhasil meraih kepercayaan masyarakat Bangka Belitung untuk duduk di kursi DPD RI.
Organisasi dan Kiprah Sosial. Tak hanya menjabat sebagai Anggota Dewan, Dinda juga aktif di berbagai organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan, pendidikan, hingga pembangunan masyarakat, di antaranya: Wakil Ketua Dewan Pembina Dewan Pengurus Nasional – Tani Merdeka Indonesia, Dewan Kehormatan – Kaukus Perempuan Politik Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan Muslimat DMI – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Wakil Ketua Bidang Pendidikan & Teknologi Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ketua Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Keterlibatannya di berbagai organisasi ini menjadi bukti bahwa bagi Dinda, politik bukan sekadar kursi jabatan, melainkan wadah untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kecintaannya pada produk daerah juga diwujudkan dengan mendukung brand lokal seperti Ishadi Tenun Cual dan Batik Melayu Pinang Sirih.

Gaungkan Suara Anak Muda. Bagi Dinda, menjadi Anggota DPD RI di usia muda lebih dari prestasi. Karena hal ini justru menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa anak muda juga bisa bersuara.
“Sekarang anak muda adalah bonus demografi. Dukungan mereka luar biasa besar. Dari masa kampanye, saya selalu melibatkan anak muda dengan cara yang dekat dengan dunia mereka, seperti nonton bareng film atau mendukung konser. Tapi bukan hanya hiburan, setelah kegiatan itu saya gunakan untuk memperkenalkan diri, menyampaikan visi dan misi, serta mendengar aspirasi mereka. Jadi, mereka merasa punya wakil yang dekat dan bisa diandalkan,” jelas Dinda.
Walau aktif di berbagai isu, Dinda memiliki perhatian khusus terhadap anak dan pendidikan. Sebagai Anggota MPR RI, ia rutin menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di sekolah-sekolah SMA dan SMK. “Saya ingin anak-anak muda mengenal lembaga-lembaga negara sejak dini. Jangan sampai mereka asing dengan istilah DPD, DPR, atau MPR. Saya ingin mereka merasa dekat dan tahu bahwa wakil mereka ada untuk mendengar dan mendampingi,” katanya.
Dorong UMKM dan Kreativitas Gen Z. Sebagai senator muda, Dinda Rembulan menyadari bahwa anak muda tidak hanya butuh ruang untuk berekspresi, tetapi juga wadah untuk berkarya. Salah satu gagasan yang ia dorong adalah bagaimana generasi muda bisa lebih aktif menciptakan UMKM baru.
“Sekarang saya masih di tahap menyerap aspirasi, terutama dari anak muda dan ibu-ibu. Karena menurut saya UMKM ini wajib sekali dikembangkan, tapi harus tepat sasaran. Jangan sampai program yang disalurkan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Sebagai anggota Komite IV DPD RI yang membidangi APBN, keuangan, pajak, dan UMKM, Dinda banyak berkoordinasi dengan kepala daerah. Ia ingin memastikan Bangka Belitung tidak hanya bertumpu pada sektor tambang, tetapi juga mengembangkan ekonomi kreatif, pertanian, hingga industri kreatif anak muda.
“Misalnya, ide desain baju di Bangka Belitung masih terbatas, padahal anak-anak muda sudah mulai punya banyak gagasan. Begitu juga pertanian, yang dulu dianggap jarang diminati, sekarang sudah mulai bangkit lagi. Itu semua harus didukung agar tepat sasaran,” tambahnya.
Perhatiannya tidak berhenti pada ide, Dinda juga terjun langsung menyerap masalah para pelaku usaha kecil, terutama soal permodalan. Ia mencontohkan program Pemerintah Pusat seperti PNM Mekaar yang menyasar perempuan dengan sistem pembayaran harian atau mingguan. Ada pula program KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang kerap terkendala izin usaha.
“Biasanya kendala mereka ada di perizinan atau sertifikasi halal. Di situ saya hadir untuk membantu memfasilitasi, bukan memberi langsung, tapi menghubungkan dengan instansi yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Jadi, saya sampaikan ke dinas-dinas agar UMKM di desa ini bisa diarahkan untuk pelatihan, atau fasilitasi izin usaha dan sertifikasi halal. Dengan begitu, dukungan benar-benar tepat sasaran,” tuturnya.
Sebagai pecinta kuliner dan produk lokal, Dinda mengaku hobinya “jajan” sekaligus menjadi cara efektif mendekatkan diri dengan UMKM. Ia bisa melihat langsung kualitas produk, mendengar keluhan pelaku usaha, hingga memahami potensi yang bisa dikembangkan lebih jauh.

Kiat Sukses. Meski sudah berhasil duduk di kursi DPD RI pada usia muda, Dinda belum merasa dirinya benar-benar sukses. Baginya, kesuksesan sejati adalah ketika ia mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Namun, ia percaya setiap pencapaian kecil adalah fondasi menuju kesuksesan yang lebih besar.
“Lulus SMA, bisa melewati ujian nasional, berhasil kuliah di Singapura, lalu diterima di Universitas Indonesia untuk S2, bahkan hingga menyusun tesis sambil menjadi Dewan, itu semua adalah bentuk sukses kecil yang membawa saya ke tahap berikutnya. Jadi menurut saya, kunci sukses itu bagaimana kita menghargai setiap langkah kecil dan menjalaninya dengan tekad kuat,” ungkapnya.
Dinda percaya kebiasaan sederhana bisa menjadi dasar pencapaian besar. “Bangun pagi misalnya, itu hal kecil. Tapi kalau kita bisa melawan rasa malas sejak pagi, maka hari itu akan berjalan lebih produktif. Dari kebiasaan kecil seperti itu, kita bisa terus bergerak maju,” tambahnya.
Rencana ke Depan. Sebagai anggota baru, Dinda memilih untuk fokus bekerja maksimal di periode pertamanya. Ia ingin benar-benar memahami dan mengoptimalkan perannya sebagai wakil daerah.
“Sekarang saya ingin berkontribusi sebaik-baiknya dulu. Politik itu dinamis, jadi untuk 2029 saya masih menimbang, tapi kemungkinan besar tetap melanjutkan di DPD RI. Saya ingin memaksimalkan posisi saya untuk membangun Bangka Belitung, karena masih banyak sekali yang perlu diperjuangkan,” jelasnya.
Suara Perempuan di Kancah Politik
Menyandang status sebagai politisi muda sekaligus perempuan, Dinda justru merasa bangga melihat semakin banyak perempuan Indonesia berkiprah. Dari masa ke masa, kontribusi perempuan dalam berbagai bidang makin nyata.
“Dari era R.A. Kartini sampai sekarang, perempuan terus berjuang. Memang belum ideal. Diketahui persentase keterwakilan perempuan di kursi DPD RI mendekati 40%. Berdasarkan data penetapan calon terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum, dari 152 anggota DPD, sebanyak 36,8% di antaranya merupakan perempuan. Itu progres yang baik. Meskipun keterpilihan perempuan di DPR RI masih rendah,” ungkapnya.
Bagaimana dengan pandangan bahwa perempuan di parlemen sering diremehkan? Dinda menepis hal tersebut. “Di DPD RI, suara kita setara. Setiap provinsi punya satu wakil di komite, jadi suara saya sama kuatnya dengan provinsi lain, tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Sebagai representasi generasi muda, Dinda ingin memberikan semangat bagi para perempuan Indonesia yang tengah menghadapi tekanan hidup. “Kita semua punya masalah dan tekanan masing-masing, tapi kita juga punya kekuatan untuk saling menguatkan. Woman support woman. Saya ingin perempuan tahu bahwa mereka punya ruang untuk didengar dan diperjuangkan, baik lewat aspirasi UMKM, pendidikan, maupun perlindungan hukum seperti dalam kasus KDRT,” katanya.
Dinda menekankan pentingnya perempuan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan berani mandiri. “Banyak pelaku UMKM adalah perempuan. Saya selalu dukung agar ibu-ibu bisa tetap produktif dari rumah, punya usaha sendiri, dan berdaya. Perempuan kuat bukan berarti melemahkan laki-laki, justru bisa membuat keduanya saling menguatkan,” tutupnya
