MajalahKebaya.com, Jakarta – Karina Rasmita Sembiring bukan sekadar seorang pemimpin perusahaan. Ia adalah sosok inspiratif yang berdiri di garis depan dunia digital dan pendidikan, sekaligus aktif sebagai penulis dan relawan. Di bawah kepemimpinannya sebagai President Director Focus Inter Media, Karina membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu tampil kuat, mandiri dan berdampak luas di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Bagi Karina Rasmita Sembiring, dunia pendidikan bukan sekadar ranah akademik, melainkan sebuah misi peradaban. Ia melihat kondisi generasi masa kini dengan keprihatinan sekaligus harapan. Ada kemajuan, tapi juga kemunduran. Keduanya harus ditempatkan secara seimbang. Dari sanalah panggilan batinnya muncul dan dari sana pula semuanya berawal.
“Saya terbebani melihat kondisi generasi kita hari ini. Di satu sisi ada kemajuan luar biasa, tapi di sisi lain saya juga melihat kemunduran yang mengkhawatirkan. Ini harus balance. Dan di sinilah saya merasa terpanggil untuk turun langsung dan mengambil peran,” tuturnya membuka perbincangan.
Perempuan yang kini menjabat sebagai President Director di Focus Inter Media ini tidak hanya berkecimpung di dunia bisnis dan media, tetapi juga total dalam pengabdiannya terhadap dunia pendidikan dan literasi.

Literasi Menyatukan Generasi. Bagi Karina, begitu ia biasa disapa, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan saat ini bukan hanya pada kurikulum atau sistem, tetapi pada kesenjangan generasi antara para pendidik dan murid. Generasi Z dan Alpha, yang saat ini duduk di bangku sekolah, memiliki karakteristik, cara berpikir dan pendekatan belajar yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, yakni generasi para guru.
“Bayangkan bagaimana dua dunia ini bisa menyatu? Anak-anak kita tumbuh dalam dunia serba cepat, digital dan visual. Sedangkan para pendidik datang dari dunia yang sangat berbeda. Ini bukan soal siapa lebih baik, tapi bagaimana menyatukan dua perspektif ini untuk tujuan yang sama, mempersiapkan pemimpin masa depan Indonesia,” tekannya.
Dari sana, lahirlah satu terobosan utama yang menjadi fokus perjuangan Karina, yakni literasi. Namun, bukan sekadar literasi membaca dan menulis seperti yang umum dikenal. “Hashtag saya, literasi adalah jembatan menuju perdamaian, karena literasi yang saya maksud jauh lebih luas. Ini tentang penalaran, tentang komunikasi, tentang bagaimana kita bisa memahami satu sama lain meski berbeda sudut pandang,” jelasnya penuh semangat.
Baginya, konflik, perbedaan, bahkan kebuntuan sosial, semua bisa diurai ketika manusia mampu berkomunikasi dengan cara yang tepat. Bukan hanya menyampaikan, tetapi juga memahami. Dan kemampuan ini hanya bisa dibentuk melalui pendidikan literasi yang benar.
“Saya percaya, apapun konfliknya, kalau masing-masing pihak tahu cara berkomunikasi yang baik, pasti ada jalan tengah. Kita bisa berdamai dengan situasi, berdamai dengan orang lain, bahkan dengan diri sendiri,” tambah perempuan kelahiran Medan, 23 November ini.
Untuk itu, Karina konsisten menyuarakan pentingnya pendidikan karakter dan literasi. Melalui berbagai platform, ia terus mendorong lahirnya ruang-ruang belajar yang lebih inklusif dan manusiawi, tempat di mana guru dan murid bisa tumbuh bersama.“Saya hanya ingin menjadi bagian kecil dari perubahan besar. Kalau kita semua ambil bagian, sekecil apapun itu, maka masa depan Indonesia tidak akan suram,” imbuhnya.
Dengan visi kuat, semangat berbagi dan kepedulian tinggi terhadap generasi masa depan, Karina menunjukkan bahwa pendidikan dan literasi bukan sekadar program, melainkan sebuah perjuangan panjang untuk menanamkan perubahan nyata. Sebab bagi Karina, selama literasi masih hidup, harapan akan masa depan Indonesia yang damai dan maju akan selalu ada.

Menulis dari Jiwa. Sejak kecil, Karina sudah memiliki kegemaran menulis. Namun seiring waktu, ia mengubah arah penulisannya dari fiksi ke biografi dan storytelling yang lebih nyata dan bermakna.
“Ketika saya bertemu narasumber dan mendengar kisah perjuangan mereka, saya belajar banyak. Menulis biografi itu membuat saya merefleksi diri. Saya jadi sadar, betapa masih banyak kekurangan dalam diri saya. Saya merasa bukan siapa-siapa, apalagi kalau dibandingkan dengan orang-orang hebat yang berhasil melalui jalan hidup yang berdarah-darah,” tuturnya.
Kini, dunia pendidikan, pengajaran, dan penulisan menjadi satu kesatuan utuh dalam kariernya. Ia menyerap ilmu dari siapa pun, mengumpulkan sertifikat keahlian di berbagai bidang, dan tak pernah berhenti belajar.
“Menulis dan mengajar itu relevan. Ketika saya mengajar, kisah-kisah yang saya tulis jadi referensi hidup nyata. Itu membuat pembelajaran jadi lebih jujur dan menyentuh,” katanya.
Misi Kemanusiaan. Sebagai pengusaha, Karina menyadari tanggung jawabnya kepada sesama manusia. untuk itu, melalui perusahaan yang dibangun ia mengalokasikan dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk masyarakat. bukan hanya lokal tetapi juga untuk anak-anak bangsa yang berada di luar negeri.
“Saya mengalokasikan dana CSR perusahaan untuk siapa pun yang membutuhkan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Khususnya untuk orang Indonesia yang haus akan pendidikan,” jelasnya.
Uniknya, Karina tidak sekadar mengirim bantuan. Ia turun langsung ke lapangan, menemui para penerima manfaat, termasuk para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Ia tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga memperjuangkan hak-hak mereka.
“Saya bantu mereka sampai ke kantor imigrasi kalau perlu. Tidak sedikit, ada 115 orang yang saya bawa datanya untuk diperjuangkan hak dan nasibnya ke kantor Kementrian BP2MI. Saya datangi, saya didik, saya bekali sertifikasi. Semua dananya dari saya sendiri dan perusahaan,” ungkap Karina dengan nada tegas sekaligus tulus.
Alih-alih memberikan beasiswa penuh, Karina lebih memilih memberi pelatihan dan sertifikasi. Alasannya sederhana, namun kuat sertifikasi adalah modal nyata. “Dengan sertifikasi, mereka punya bukti keterampilan. Itu bisa jadi referensi kerja yang membuka pintu ke masa depan yang lebih baik,” tambah sosok yang saat ini tengah melanjutkan study S2 di Institute of Business Law and Management (IBLAM) ini.
Mimpi Besar. Baru-baru ini, Karina mencatatkan prestasi membanggakan. Dalam kunjungannya ke Batam, ia menerima penghargaan dari 5 Pilar Media atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan layanan digital. Ia dinobatkan sebagai sosok inspiring yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui inovasi dan kepemimpinan.
Tak hanya itu, bulan sebelumnya, Karina diundang secara khusus ke Bali untuk menerima Asian Most Creativity Women Leadership Award, sebuah apresiasi atas kreativitas dan kepemimpinannya di tingkat Asia. Sebelumnya, ia juga meraih ASEAN The Best Inspiring Woman Award, menandai pengakuan yang terus meningkat dari skala regional ke tingkat Asia yang lebih luas.
Di tengah segudang aktivitas dan prestasi, Karina menyimpan mimpi besar yang sangat mulia. Ia ingin suatu hari nanti mendirikan sekolah yang memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak yang memiliki skill, semangat, dan potensi besar untuk berkembang.
“Harapan saya ke depan, semoga perusahaan saya mampu membangun satu sekolah yang bisa memberikan akses pendidikan dan pelatihan bagi mereka yang punya kemauan kuat, tetapi terkendala biaya. Saya ingin memberi jalan bagi anak-anak yang punya skill dan mimpi besar,” pungkasnya.Laili
Mengabdi Lewat Komunitas
Menjadi pemimpin perusahaan sekaligus penggerak sosial tak membuat Karina berhenti menantang dirinya sendiri. Di usia matang, ia justru semakin aktif bergabung dengan berbagai komunitas, dari yang berskala lokal hingga internasional.
“Saat ini saya aktif di Komunitas Aeroscue sebagai Humas. Kami membantu sebagai relawan apabila ada bencana alam. Saya sendiri ikut turun ke lapangan, bahkan ikut blusukan ke hutan, naik gunung, melakukan pencarian, sampai menghadapi pihak-pihak yang dzalim jika diperlukan,” ujar Karina.
Perempuan yang juga berprofesi sebagai MUA dan Instruktur Zumba ini bahkan membekali diri dengan ilmu bela diri. Sehingga tak ragu melindungi orang lain dalam situasi genting. “Saya tidak setuju kalau perempuan disebut lemah. Perempuan itu harus punya pertahanan, baik fisik maupun mental,” katanya dengan mantap.
Selain Aeroscue, Karina juga aktif di Komunitas Literasi Nusantara, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, Business Network International yang tergabung dalam 70 negara, Asosiasi Pengusaha Konstruksi Nasional dan Zumba Instructor Network, dengan gelar Zin di mana ia membina banyak instruktur dan member di bawah naungannya, dan sebagai Redaktur dari salah satu media online.
Bagi Karina, bergabung dengan komunitas bukan hanya soal perluasan jaringan, tapi juga pembuktian bahwa ia bisa memberi manfaat di mana pun berada.“Efeknya tentu besar. Tapi yang utama bagi saya adalah tetap menjadi orang yang bermanfaat. Itu efek terbaik,” katanya.
Ia menyebut, melalui komunitas-komunitas itu pula, jejaring bisnisnya berkembang secara organik. “Silaturahmi itu rezeki. Bertemu orang baru itu rezeki. Saya menerima kritik, masukan, bahkan tantangan dari komunitas kecil seperti Zumba saja sudah berdampak besar. Apalagi kalau dari komunitas besar, efeknya bisa luas sekali,” ucapnya.
Berkat keterlibatannya dalam jaringan yang luas dan kredibel, perusahaan Karina kini berdiri kokoh tanpa hutang, tanpa pinjaman bank. “Kami dapat penghargaan sebagai penyedia layanan digital terpercaya. Validasi konten kami jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Dan semua ini, berawal dari keberanian membuka diri dan mau belajar dari siapa pun,” terangnya.
Kehidupan Sederhana, Jiwa yang Besar
Di tengah aktivitas sosialnya yang padat, Karina justru hidup dengan sangat sederhana. Ia memilih tidak bergaya hidup mewah agar bisa mengalokasikan lebih banyak untuk kegiatan sosial.
“Saya tidak bisa bersosialita. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang sudah tidak ada anggaran untuk itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Karena bagi perempuan berdarah Batak ini, hidup bukan soal sampai di mana kita berdiri, tapi apa yang bisa kita tinggalkan. “Ketika saya membantu orang lain, harapan saya Tuhan menjaga keluarga saya,” ucapnya.
Pelindung Tanpa Gelar, Pemimpin Tanpa Panggung
Sebagai aktivis perempuan, Karina memiliki pengalaman sebagai narasumber serta instruktur dalam isu perlindungan perempuan dan anak, pemberdayaan masyarakat, maupun pelatihan kerelawanan.
Namun, Karina menolak gagasan bahwa untuk membantu orang lain seseorang harus punya posisi, titel atau dukungan lembaga. Baginya, cukup dengan hati yang peduli dan aksi yang nyata.“Saya fokus pada perlindungan perempuan dan anak. Tapi saya tidak membawa konstitusi, saya tidak bersandar pada jabatan. Saya berdiri sendiridan saya membuka rumah, kantor, dan hati saya selama 24 jam untuk mereka yang membutuhkan bantuan. Saya bukan siapa-siapa, tapi saya tahu saya bisa menjadi tempat pulang bagi mereka yang kehilangan harapan,” ungkapnya penuh empati.
Dengan ruang terbuka yang ia ciptakan, Karina telah menjadi pelindung bagi perempuan dan anak-anak yang tidak memiliki tempat untuk bersandar. Dan semua itu ia lakukan tanpa pamrih.“Saya hanya ingin menjadi manusia yang berguna. Tidak lebih,” ucapnya.
Ketulusan Karina menjadi bukti nyata bahwa menjadi perempuan adalah tentang keberanian untuk mengambil peran, keluar dari batas-batas semu dan memeluk dunia dengan tangan yang bukan hanya dua, tapi dua belas. Karena di balik kelembutan seorang perempuan, ada kekuatan yang bisa menyembuhkan luka dunia.
“Berhentilah Mencari Pengakuan Semu”
Di balik keberhasilan Karina mengendalikan laju bisnis, ia juga menaruh perhatian besar pada pentingnya perempuan Indonesia memiliki kendali atas keuangannya sendiri.“Perempuan Indonesia itu sebenarnya pintar dalam mengatur keuangan. Namun, persoalan muncul saat disiplin dan prioritas tergeser oleh kebutuhan validasi sosial.Sekarang banyak perempuan yang lebih mementingkan performa luar. Mereka ingin terlihat kuat, cantik, hebat di mata orang lain. Tapi sayangnya, itu sering dibayar mahal dengan mengorbankan kondisi finansial sendiri. Bagi saya, saat kita mengorbankan finansial, berarti kita juga sedang mengorbankan keluarga,” tambah Karina.
Karina menekankan bahwa kecantikan sejati tidak datang dari riasan, kemewahan, atau pujian publik, melainkan dari hati yang bersih dan tulus.“Kecantikan itu anugerah dari Tuhan. Dan kalau hati kita bersih, cantik itu akan keluar dengan sendirinya. Semua perempuan pada dasarnya cantik, karena Tuhan menciptakan perempuan dengan keindahan yang khas.. #semakintuasemakinbersinar,” ujarnya.
Dan di era media sosial, Karina mengajak perempuan untuk berhenti mencari pengakuan semu. Baginya, perempuan hebat adalah mereka yang tetap kuat walau tak dilihat, tetap memberi walau tak dipuji, dan tetap bersinar walau dalam diam.“Kalau ingin terlihat cantik, cukup jaga hati. Karena dari hatilah semua terpancar,” ucap Karina penuh keyakinan.
Mendidik dengan Pelukan, Bukan Kekangan
Tidak seperti kebanyakan ibu yang menetapkan banyak aturan, Karina memilih untuk menjadi sahabat bagi ketiga buah hatinya, Deary, Davi dan Cleo. Ia percaya bahwa masa emas anak adalah saat di mana penanaman nilai moral dan adab harus dimulai. Ketika fondasi ini sudah kuat, ia percaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab tanpa perlu ditekan.
Baginya, kesuksesan seorang ibu adalah ketika anak-anak merasa nyaman bercerita, merasa aman menjadi diri sendiri, dan tak menjadikan warisan sebagai tujuan hidup. “Hidup ini perlu etika dan moral yang kuat, karena manusia sejati adalah mereka yang memikirkan orang lain, bukan hanya diri sendiri.Saya ajarkan kepada anak-anak bahwa hidup bukan soal apa yang akan kita wariskan, tapi tentang bagaimana kita bisa jadi manusia yang utuh. dan ketika belum melakukan apa-apa untuk membantu orang lain, berarti kita belum menjadi manusia seutuhnya,” ungkapnya dengan nada reflektif.
