MajalahKebaya.com, Jakarta – Komitmen, konsisten, dan dedikasi untuk mengangkat, memberdayakan, dan mensejahterakan perempuan adalah gambaran diri Dra. Amy Suratmi Kadiono yang saat ini dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Perempuan Semesta Indonesia (P-Perisai) dan Ketua Wanita Tani HKTI Jawa Tengah. Istri Ir. H. Satyagraha Kadiono, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Madiun yang menjabat selama 2 periode yaitu 1988-1993 dan 1993-1998 ini, menegaskan bahwa perempuan bukan hanya sekadar sosok yang mendukung dari belakang, tetapi juga memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk karakter generasi, menciptakan ketahanan keluarga, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap ketahanan bangsa. Karena itu, baik melalui organisasi maupun secara personal, ia tiada henti menyuarakan dan memperjuangkan eksistensi perempuan agar semakin berdaya, mandiri dan sejahtera.
Saat ini, bersama HKTI, Amy sangat fokus mengangkat dan memberikan perhatian khusus kepada wanita tani, khususnya di Jawa Tengah. Berbagai kegiatan pemberdayaan, pelatihan, dan pendampingan dilakukannya agar perempuan semakin kuat dan diandalkan menjadi penopang ekonomi dalam keluarga. Seperti baru-baru ini, dalam rangka menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80, Wanita Tani HKTI Jawa Tengah mengadakan kegiatan Tasyakur Merdeka bersama 80 buruh gendong Pasar Gedhe Solo.
Dalam kesempatan itu, Amy mengajak seluruh masyarakat, terutama perempuan, untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT, yaitu nikmat kemerdekaan di mana eksistensi perempuan, terutama kontribusi dan peartisipasinya dalam pembangunan bangsa, semakin diperhitungkan. “Semoga di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto, segera terwujud Negara Indonesia Bangsa yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghoffuur. Bangsa yang senantiasa mendapat limpahan berkah Allah SWT. Dengan implementasi sepenuhnya, Pasal 33 Ayat 3 dan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945, itulah arti kemerdekaan bagi segenap rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Rakyat hidup makmur sejahtera, persatuan dan kesatuan terjaga,” ucap Amy yang sangat mendukung program Swa Sembada Pangan Pemerintah yang tentu akan memakmurkan petani.
Amy pun menghadirkan kembali program KLOMPENCAPIR, sebagai sarana sambung rasa Pemerintah hadir secara langsung bersama petani, sebagai soko guru terwujudnya Swa Sembada Pangan. “Tani Makmur Indonesia Makmur,” tekadnya.
Ke depan, sebagi Ketua Wanita Tani HKTI Jawa Tengah, Amy akan menfokuskan dua program unggulan, sebagai upaya membantu program Pemerintah dalam hal Ketahanan Pangan, yaitu: Program Urban Farming, memanfaatkan lahan atau pekarangan untuk usaha pertanian rumahan, seperti tabulampot (tanaman buah dalam pot); dan Program Intensifikasi Hasil Pertanian dengan tanaman padi varietas bibit unggul.
Sejalan dengan itu, kiprah Amy bersama P-Perisai juga fokus memperkuat dan memberdayakan perempuan. Sebagai organisasi yang fokus pada masalah sosial dan
budaya, P-Perisai tentu memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, terutama perempuan, untuk aktif berpartisipasi dalam menjaga persatuan dan keberagaman bangsa. Dan sejak awal dibentuk organisasi masyarakat (Ormas) ini bertujuan memberikan kontribusi positif dalam demokrasi yang damai.
Pada tahun 2024 lalu, P-Perisai mencatat berbagai prestasi di berbagai bidang. Mulai dari meningkatnya digitalisasi UMKM dan dukungan pemerintah terhadap wirausaha perempuan, mendukung kemajuan AI dan pemanfaatannya dalam industri kreatif serta dunia kerja, juga meningkatkan kesadaran peran perempuan dalam politik, ekonomi, dan pendidikan.
Selain P-PERISAI, dan Wanita Tani HKTI, Amy yang pernah mendapat penghargaan sebagai Inspiring Leadership Woman, juga aktif dan bergabung dengan organisasi Rotary International, Majelis-Majelis Takhlim dan Kajian Islam di Jawa Tengah. Berbagai kegiatan sosial yang dilakukan, antara lain: Sanitasi, dengan membangun atau merenovasi MCK bagi lingkungan masyarakat yang membutuhkan, memberikan bantuan air bersih, peduli lingkungan hidup dengan memberi bantuan bibit tanaman produktif kepada masyarakat, melakukan khitanan massal bagi keluarga kurang mampu, meningkatkan literasi masyarakat dengan memberi bantuan buku bacaan, membuat sudut baca di beberapa tempat umum, memberi pelatihan keterampilan ekonomi kreatif dan produktif.

Makna Kemerdekaan dan Masalah Kemiskinan
Memaknai kemerdekaan di era modern, terutama dalam rangka Peringatan Kemerdekaan Indonesia tahun ini, Amy merasa perlu menggarisbawahi untuk memberi perhatian khusus pada masalah keluarga, sosial budaya, dan kemiskinan. Karena baginya, merdeka bermakna Indonesia bebas dari kemiskinan dan kebodohan; Tercipta hubungan antar-anggota keluarga yang saling membuka komunikasi dan kesempatan mengembangkan potensi diri, pengakuan setiap individu atas talenta yang dimiliki; Dan dalam hubungan sosial, makna kemerdekaan adalah terciptanya kerukunan di tengah keberagaman strata sosial, peduli sesama, mewujudkan harmonisasi persatuan dan kesatuan bangsa.
Pada setiap kesempatan, Amy selalu mengajak setiap perempuan Indonesia hendaknya mampu menjadi pion kekuatan bagi ketahanan keluarga, sebagai solusi menciptakan keluarga yang kokoh dan harmonis di tengah gerusan kemajuan teknologi, dengan tetap berpijak pada budaya ketimuran yang santun dan berkarakter mulia. “Hal ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya krisis dimensi sosial, bullying anak yang membuat kita prihatin, eksploitasi anak yang membuat anak-anak kehilangan proses perkembangan psikologis masa kanak-kanak yang tentu akan mempengaruhi masa depannya,” ungkap Amy.
Khusus masalah sosial, yaitu kemiskinan, Amy memiliki gagasan yang bagus sebagai solusi mengatasi kemiskinan. “Sebuah harapan, gagasan yang mungkin tidak lazim, yaitu membuka Kampung PerAdab-an. Suatu lingkungan luas yang menampung semua penyandang masalah sosial jalanan, homeless, pengemis jalanan, anak-anak telantar, dsb…dalam sebuah perkampungan. Di situ harus benar-benar diciptakan sendi-sendi kehidupan yang manusiawi, seperti perumahan untuk keluarga, ada lapangan pekerjaan (pertanian, pertokoan), sekolah, tempat ibadah untuk pembinaan akhlak dan sebagainya. Saya yakin, Negara Indonesia ini adalah negara yang kaya raya, mewujudkan amanah UUD’45 Psl.34 ayat 1 ‘Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’ akan terwujud. Dan, Kampung Peradaban lebih humanis daripada panti asuhan/sosial,” tegas wanita kelahiran Surakarta, 20 Mei ini.
Leadership Tumbuh Sejak Kecil
Tiga puluh empat (34) tahun yang lalu, ketika menikah dengan Ir. H. Kadiono, yang kemudian menjadi Bupati Madiun dua periode, 1988 sampai 1998, Amy langsung dihadapkan pada seabreg tugas dan aktivitas sebagai istri seorang Kepala Daerah.
Di usia yang masih sangat muda jika dibanding dengan ibu-ibu dari tataran organisasi seperti Dharma Wanita, TP.PKK, Perwosi, Dekrasnada, GNOTA, dan masih banyak lagi tugas organisasi yang harus diemban Amy, ex-officio istri Kepala Daerah, memerlukan kecepatan beradaptasi agar roda organisasi berjalan dengan baik, tidak terjadi gap atau ketimpangan antara yang memimpin dan yang dipimpin. “Waktu itu saya berusia 27 tahun, dan yang saya pimpin ibu-ibu pejabat, istri-istri Kepala Dinas, yang rata-rata berusia di atas 40 atau 50 tahun ke atas. Beruntung saya sudah memiliki pengalaman berorganisasi sejak masih di bangku sekolah, bahkan mulai dari SD sampai kuliah, tak terasa sangat membantu saya dalam managerial organisasi,” ujar Amy yang merasa sangat bersykur karena mendampingi suami bertugas sebagai Abdi Negara selama 10 tahun, sungguh merupakan gemblengan pengalaman organisasi yang luar biasa bagi dirinya secara pribadi.

Kesuksesan Anak Cucu Kebahagian Utama
Diakui Amy, menjalankan peran sebagai orang tua yang juga sibuk dengan berbagai aktivitas terutama tugas-tugas sebagai pendamping suami seorang Kepala Daerah, juga kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang banyak, itu tidak mudah. Namun, ia berhasil menjalankan tugas wanita sebagai pendidik anak, sebagai ibu rumah tangga, sekaligus sebagai pendamping suami yang memerlukan fokus perhatian, dan terus menjalin komunikasi yang selaras, agar semua bisa berjalan beriring harmonis seirama.
“Anak-anak merasa nyaman dan tidak merasa ditelantarkan di tengah kesibukan ibunya yang luar biasa. Alhamdulillah dengan arahan kami sebagai orang tua dengan menanamkan semangat juang meraih harapan, 5 anak kami telah lulus sarjana, yang bungsu sedang menempuh S2 di Monash Australia dengan Beasiswa LPDP, 3 cucu sarjana, ada yang masih kuliah, sekolah lanjutan dan sekolah dasar,” bangga Amy yang sebelumnya adalah seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SLA di Surakarta, dan kini di masa pensiun bersama suami tercinta menjalankan usaha SPBU.
Tantangan dalam keluarga di era yang serba digital saat ini, dirasakan Amy cukup berpengaruh, namun disiasati dengan bijak. “Dalam keluarga besar kami, di tengah kesibukan masing-masing di era digital ini, yang kami rasakan adalah sedikit mengurangi kami saling bertemu bersapa secara langsung. Kami siasati setiap akhir pekan di akhir bulan, kami berkumpul, menceritakan apa pun di meja makan. Itulah jembatan komunikasi yang kami bangun, agar jalinan keluarga masih tetap terjaga, walaupun terpisahkan oleh ruang dan waktu karena kesibukan masing-masing,” bijak ibunda dari Indah Setyowatiningsih, S.KM, Agus Setianto, SP, Diyah Tri Astuti, SP (Almh), Amalia Rizky, S.Psi., M.Si dan Bagus Cakti, SE (sedang menempuh S2 di Monash Australia) ini.
