MajalahKebaya.com, Jakarta – Bagi dr. Mulianah Daya, M. Gizi, SpGK, AIFO-K, perjalanan menjadi Dokter Spesialis Gizi Klinik bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati untuk membantu masyarakat memahami arti gizi yang benar. Dalam kesehariannya, ia tak hanya menangani pasien dengan berbagai penyakit metabolik, tetapi juga aktif memberikan edukasi baik secara langsung kepada pasien maupun lewat seminar awam dan medis atau via media sosial. Dengan dedikasi dan kompetensi yang terus diasah, dokter cantik berlesung pipi ini menjadi contoh nyata bahwa seorang tenaga medis harus selalu menggabungkan pengetahuan yang mutakhir dengan empati yang tulus.
Menurut dr. Mulianah Daya, M. Gizi, SpGK, AIFO-K atau yang akrab disapa dr. Mulia, gizi bukan sekadar ilmu tentang makanan. Baginya, gizi adalah kunci untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, bahkan membantu proses penyembuhan. Pandangan itu lahir bukan hanya dari bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman pribadi yang mengubah arah hidupnya.
Lulusan Fakultas Kedokteran Atma Jaya Jakarta ini, menamatkan pendidikan Dokter Umum pada 2011. Semangat belajarnya tak berhenti di situ. Ia melanjutkan pendidikan Magister Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selama dua tahun, lalu menempuh pendidikan Spesialis Gizi Klinik di kampus yang sama. Perjalanan akademiknya yang panjang ini berbuah keahlian yang kini ia jalani sebagai profesi, Dokter Spesialis Gizi Klinik dengan pengalaman praktik hampir empat tahun.
Titik Balik. Ketertarikan dr. Mulia pada bidang gizi bermula dari sebuah peristiwa penting dalam keluarga. “Titik balik saya mempelajari gizi adalah ketika Papa saya terkena Diabetes. Saat itu saya sadar betapa pola makan punya peran besar terhadap kesehatan,” ungkapnya.
Dari situ, dr. Mulia mulai memikirkan risiko pribadi. Dengan riwayat keluarga yang memiliki Diabetes, ia menyadari pentingnya mengubah pola hidup agar tidak mewariskan penyakit itu pada anak-anaknya kelak.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa gizi tidak sesederhana menghitung kalori. “Dari apa yang kita makan, gizi bisa mencegah penyakit, membantu mengobati, bahkan bisa menjadi penyebab penyakit itu sendiri. Jadi, apa yang kita konsumsi setiap hari benar-benar berdampak besar bagi kesehatan,” jelasnya.

Pencapaian Membanggakan. Saat ini, dr. Mulia menggelar praktik di 3 Rumah Sakit berbeda, yakni RS Mayapada Tangerang, RS Siloam Lippo Village, dan RS Carolus Serpong. Dengan kompetensi yang dikantongi, ia juga kerap didaulat sebagai pembicara di seminar awam dan medis baik secara offline maupun daring.
Berbagai pencapaiannya juga begitu membanggakan. Semasa sekolah, ia pernah menjadi mahasiswa cumlaude, kemudian meraih Juara 1 Tingkat Nasional untuk Spesialis Gizi. Tak berhenti di situ, dr. Mulianah mendalami bidang genetik, sesuai dengan penelitian S2-nya yang membahas genetika obesitas. Ia pernah magang di Eijkman Institute for Molecular Biology untuk pemeriksaan genetik human obesity, melakukan penelitian yang masuk jurnal internasional bereputasi (Q1 dan Q2), serta memperoleh sertifikasi genetik dari Kanada untuk pembacaan hasil pemeriksaan genetik pasien. Demi melengkapi pengetahuannya, dr. Mulia juga mengambil sertifikasi olahraga klinis, karena menurutnya intervensi gizi sering berjalan beriringan dengan aktivitas fisik.
Bagi dr. Mulia, belajar adalah proses seumur hidup. “Ilmu kedokteran itu mempelajari manusia, dan manusia itu sangat kompleks. Ilmunya terus berkembang setiap hari. Kita harus selalu update, baik dari dalam maupun luar negeri, karena ke depan akan ada penyakit-penyakit baru dan penelitian baru,” tuturnya.
Semangat dokter kelahiran Tangerang, 28 November ini, untuk terus belajar bukan semata demi menambah gelar atau penghargaan, tetapi agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien. “Saya mempelajari ilmu baru bukan hanya teori, tapi bagaimana menerapkannya langsung untuk kesembuhan dan kualitas hidup pasien,” ungkapnya penuh keyakinan.
Indonesia Belum Merdeka dari Masalah Gizi
Meski gizi buruk identik dengan masa lalu, nyatanya Indonesia belum sepenuhnya “merdeka” dari masalah tersebut. Bagi dr. Mulia, tantangan di bidang gizi justru semakin kompleks. Di satu sisi, masih ada kasus gizi kurang dan stunting. Di sisi lain, angka obesitas dan Diabetes melonjak tajam.
“Target kita ke depan bukan hanya menurunkan angka Diabetes sekarang, tapi juga mencegah agar anak dan cucu kita kelak tidak mewarisi silent killer tersebut. Diabetes bisa diturunkan secara genetik, tapi kalau kita mengubah pola hidup mulai dari sekarang, risiko itu bisa ditekan,” jelasnya.
Dr. Mulia percaya, untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, diperlukan sinergi antara tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Ia menekankan bahwa skrining gizi harus menjadi prioritas, bukan hanya untuk anak-anak yang berisiko gizi buruk, tetapi juga untuk orang dewasa yang berpotensi mengalami obesitas.
Ajak Masyarakat Melek Gizi
Dalam praktik sehari-harinya di poli, dr. Mulia sering menangani pasien dengan masalah Obesitas, Diabetes, Hipertensi, dan penyakit terkait pola makan lainnya. Namun, ia percaya bahwa peran Dokter Gizi bukan hanya mengobati, tetapi juga mengedukasi.
“Saya ingin masyarakat melek gizi, artinya mereka bisa menjadi ‘Dokter Gizi’ untuk diri sendiri dan keluarganya. Karena pola makan sehat itu bukan sekadar program, tetapi harus menjadi gaya hidup yang dibawa seumur hidup,” ujarnya.
Di ruang praktiknya, dr. Mulia tak hanya memberikan resep atau rencana diet, tetapi juga membekali pasien dengan edukasi. Ia ingin setiap orang mengerti bahwa perubahan kecil dalam pola makan bisa membawa perbedaan besar bagi kesehatan jangka panjang. “Tantangannya adalah membuat pasien benar-benar menjadikan pola makan sehat sebagai acuan hidup,” ujarnya.
Melawan Diabetes dan Obesitas
Bicara soal kondisi gizi masyarakat Indonesia, dr. Mulia mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan. “Secara umum, masalah kita bukan hanya kekurangan gizi, tapi justru kelebihan. Data menunjukkan, satu dari tiga orang di Indonesia mengalami obesitas,” ujarnya.
Dampak dari tren ini terlihat jelas di mana angka penderita Diabetes melonjak drastis, bahkan kini menyerang kelompok usia muda. Diabetes, menurut dr. Mulia tak lagi mengenal batas umur. “Berdasarkan data, hampir 20% penduduk Indonesia mengidap Diabetes, dan angka ini diprediksi bisa meningkat 2–3 kali lipat dalam 20 tahun ke depan. Bahkan, dalam 10 tahun terakhir, kasus Diabetes pada anak meningkat hingga 70 kali lipat,” tambahnya.
Dr. Mulia menyebut obesitas sebagai mother of the disease, induk dari berbagai penyakit metabolik. Tak hanya Diabetes, tetapi juga Hipertensi, Kolesterol tinggi, penyakit liver, hingga gangguan hormonal pada remaja dan masalah pertumbuhan pada remaja lainnya. Penyebab utamanya, kata dr. Mulia, terletak pada gaya hidup. Mulai dari pola makan berkalori tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan “mager” yang mengendap menjadi kelebihan kalori.
Dijelaskan dr. Mulia, Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan. Ada empat pilar dalam pengendaliannya, yakni pola makan, aktivitas fisik, obat-obatan, dan edukasi. Menariknya, pilar pertama memegang peran paling penting. “Target saya adalah membuat pasien mandiri, sehingga pasien yang mengendalikan Diabetes, bukan Diabetes yang mengendalikan pasien. Dengan pengaturan makan dan aktivitas fisik yang tepat, banyak pasien bisa mengurangi dosis obat secara bertahap. Tujuan jangka panjangnya jelas: mencegah komplikasi berbahaya seperti gangguan ginjal dan penyakit jantung,” tuturnya.
Namun diakui dr. Mulia, mengubah pola makan bukan perkara mudah, apalagi bagi pasien Diabetes yang umumnya hobi kuliner. Di sinilah dr. Mulia mengambil peran sebagai teladan. Ia menerapkan pendekatan personalized nutrition, menyesuaikan rencana makan dengan kebiasaan, jam makan dan preferensi pasien.
“Pasien harus enjoy dengan makanannya. Kalau diet membuat stres, mereka tidak akan konsisten. Jadi saya pelajari dulu kebiasaannya, lalu perlahan menyesuaikan porsinya, tanpa membuat mereka kaget atau pusing saat melakukan diet,” jelasnya.
Bagi dr. Mulia, mengendalikan gula bukan berarti menghilangkan sepenuhnya. Ia justru mengedukasi pasien tentang hidden sugar atau gula yang tersembunyi dalam bumbu atau makanan olahan, seperti kecap manis. “Prinsipnya, pasien harus bisa menikmati makanan. Kalau makan di luar, silakan saja, tapi kita atur berapa maksimal konsumsi gulanya dan apa yang harus dilakukan jika melebihi batas,” katanya.
Dengan pendekatan yang realistis dan penuh empati, dr. Mulia membimbing pasiennya untuk tidak hanya mengubah menu, tetapi juga membentuk gaya hidup baru yang sehat dan berkelanjutan.

Diet yang Realistic and Enjoyable
Di tengah maraknya tren penurunan berat badan instan, salah satu metode yang cukup populer adalah operasi potong lambung (bariatric surgery). Prosedur ini dilakukan dengan mengecilkan ukuran lambung agar penderitanya lebih cepat merasa kenyang dan mengurangi hormon lapar. Namun, dr. Mulia mengingatkan bahwa meski hasilnya bisa cepat, prosedur ini bukan tanpa risiko.
“Setelah potong lambung, kapasitas lambung hanya tinggal sepertiga. Akibatnya, pasien hanya bisa makan dalam porsi sangat kecil, bahkan kalau kebanyakan bisa muntah. Penurunan berat badan bahkan bisa ekstrem, dalam sebulan bisa sampai 10 kg,” jelasnya.
Sekilas terdengar menggiurkan, tetapi dr. Mulia menekankan bahwa penurunan berat badan yang terlalu cepat bisa berbahaya. “Kalau kalori dipotong drastis, yang turun bukan hanya lemak, tetapi juga massa otot. Padahal otot adalah modal metabolisme dan daya tahan tubuh. Turunnya otot dapat membuat imunitas menurun, bahkan dapat berisiko mengalami autoimun,” ujarnya.
Bagi dr. Mulia, jalan yang lebih aman dan berkelanjutan adalah mengecilkan lambung secara alami melalui pengaturan porsi makan yang konsisten. “Kalau kita atur porsinya tanpa membuat pasien lapar, lama-lama lambung akan menyesuaikan. Misalnya, setelah sebulan diet teratur, pasien akan merasa cepat kenyang walau porsi makan dikurangi,” terangnya.
Ia menekankan bahwa kunci sukses diet adalah realistic and enjoyable. Diet tidak boleh terasa menyiksa, baik dari sisi rasa maupun kebiasaan. “Badan itu bukan mesin. Kita harus melatihnya perlahan, mengubah kebiasaan makan dan jam makan sesuai aktivitas harian pasien. Kalau dietnya nyaman, akan menjadi gaya hidup, bukan sekadar program sementara,” tambahnya.
Namun, bukan berarti dr. Mulia menolak sepenuhnya prosedur potong lambung. Ia pernah menangani beberapa pasien pascaoperasi, tetapi dengan pengawasan ketat untuk memastikan kebutuhan gizi, kalori, dan cairan tetap terpenuhi. “Yang sering luput diperhatikan adalah hidrasi. Karena kapasitas lambung kecil, pasien perlu makan dan minum dalam porsi kecil tapi sering. Kalau tidak, risiko malnutrisi dan dehidrasi tinggi,” jelasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa lambung bisa kembali membesar jika pola makan tidak dijaga. “Operasi bukan jaminan permanen. Kalau pasien kembali makan berlebihan, lambung bisa melar lagi,” ujarnya.
Oleh sebab itu, pasien harus menggabungkan pola makan sehat dengan aktivitas fisik. “Otot adalah modal metabolisme. Tanpa olahraga, penurunan berat badan tidak optimal dan daya tahan tubuh pun terganggu,” imbuhnya.
Dengan pendekatan tersebut, dr. Mulia ingin masyarakat memahami bahwa kesehatan jangka panjang lebih penting daripada hasil instan. “Menurunkan berat badan itu bukan sekadar angka di timbangan, tapi menjaga keseimbangan tubuh agar tetap sehat, bugar, dan terhindar dari penyakit,” tegas dr. Mulia.
Makna Kemerdekaan Bagi Perempuan
Bagi dr. Mulia, kemerdekaan sejati bagi perempuan Indonesia kini sudah jauh lebih terasa dibandingkan masa lalu. Menurutnya, kemerdekaan adalah ketika perempuan memiliki kebebasan untuk berkarya dan berkreasi tanpa batasan yang mengekang.
“Sekarang kita hidup di era globalisasi, di mana patriotisme perempuan sudah mulai memiliki peran nyata. Kita memiliki hak bersuara, hak menjadi diri sendiri dengan mengembangkan diri dalam dunia pendidikan dan pekerjaaan, dan hak untuk bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Bagi saya, itu adalah wujud kemerdekaan yang sesungguhnya bagi perempuan,” ujarnya.
Di momen Hari Kemerdekaan, dr. Mulia mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk tidak berhenti berkarya dan tidak ragu pada diri sendiri. “Jangan pernah takut untuk memulai. Musuh terbesar yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita itu lebih dari yang kita pikirkan. Saat kita mulai mencoba dan yakin pada diri sendiri, sering kali hasilnya melampaui dugaan. Jadi, percaya pada dirimu dan menjadi versi terbaik dirimu,” pesannya penuh semangat.
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @drmuliaspgk, @kliknutrisi_drmuliaspgk
