MajalahKebaya.com, Jakarta – Minat pada dunia kecantikan telah membawanya menjadi ahli kecantikan ternama. Melalui pendekatan yang hangat dan penuh pemahaman membuat pasien selalu nyaman saat ‘disentuhnya’. Itulah dr. Evelyne Anggun Natalie, Dipl AAAM, CIBTAC UK, ahli kecantikan di Skinevo Aesthetic Clinic Pondok Indah. Seorang dokter cantik yang dikenal sangat ramah dan baik hati.
Keinginan yang sangat kuat dalam diri dokter cantik kelahiran Jember, 29 Desember 1987 ini, untuk menekuni dunia kecantikan sudah dirasakan saat masih di bangku sekolah. Karena itulah setelah lulus SMA, dr. Eve langsung kuliah di Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta. Usai menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran, ia semakin jatuh cinta dengan dunia estetik sehingga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di American Aging and Medicine of CIBTAC UK di London yang akhirnya menjadikan dirinya ahli kecantikan ternama.
Dokter Eve sempat berpikir untuk mengambil study Bedah Plastik atau Spesialis Kulit tapi waktu pendidikannya lama sementara usia sudah 24 tahun dan sudah diajak menikah oleh suami. Akhirnya ia melanjutkan pendidikan Estetik di London, Inggris. Bidang yang sangat disukainya, karena ia sering merasa gregetan kalau melihat wajah orang yang kurang proporsional.
“Kalau melihat wajah orang yang kurang pas, pengen koreksi aja! Pengen dibuat pas. Proporsi cantik itu kan bukan dagunya yang lancip, hidungnya yang mancung atau matanya yang besar, tapi harmonisasi mulut, hidung, mata dan wajahnya,” jelas dr. Eve yang sudah 14 tahun menekuni dunia kecantikan terutama bidang Estetik.
Sebelum di Skinevo Aesthetic Clinic Pondok Indah, dr. Eve yang memiliki hobi traveling, mengajar, dan baca buku, sudah bekerja di klinik kecantikan untuk mencari pengalaman. Saat itu ia banyak menangani face contouring yang minim pemakaian pisau. Semakin ke sini ada lagi teknologi yang namanya benang. ”Waktu itu saya banyak belajar dengan teknologi dari Korea yang memakai benang ukuran sekitar 3 sampai 5 cm, tapi sekarang sudah panjang-panjang yakni sekitar 10 cm,” dr. Eve menjelaskan.
Menurut dr. Eve, sebenarnya teknologi thread lift itu, Indonesia lebih maju. Karena teknologinya mirip banget dengan susuk yaitu memasukkan jarum atau benang ke bagian tubuh. Cuma kan susuk itu kalau dimasukkan ke tubuh itu harus membaca sesuatu atau ada mantranya, kalau thread lift tidak. Tapi di medis pakai benang tertentu yang juga dipakai di dunia kedokteran lainnya misal bisa untuk operasi tulang, operasi katup jantung bayi, juga di Botox yang awalnya untuk mata juling, tapi akhirnya bisa untuk menghilangkan kerutan. Jadi, dunia kedokteran terus up date.

Mengarahkan Keinginan Konsumen
Melihat maraknya dunia operasi plastik (oplas) saat ini dan kadang sekilas hasilnya wajah pasien oplas hampir sama, dr. Eve mengatakan bahwa semua itu tergantung dokter yang mengerjakannya. “Kalau kita tidak suka membuat template. Saya mengerjakannya tergantung request dan melihat proporsi wajah. Kita juga harus mengarahkan keinginan konsumen. Jangan sampai mengikuti apa yang diinginkan tapi nanti hasilnya kurang bagus, misalnya orang Asia,wajahnya ingin dibuat kayak orang Eropa, ini hasilnya pasti kurang bagus” jelas istri pebisnis Frendy Samuel Leimena ini.
Dokter Eve menyatakan bahwa apa yang dilakukan bukan operasi plastik karena operasi pasti akan ada pisau, sementara yang dilakukannya tidak. “Kelebihan dari klinik ini ada art-nya. Kita melihat wajah setiap orang itu harus jadi karya master piece kita. Kayak pelukis melihat kanvas, tapi kanvas kita beda tidak seperti kanvas pelukis. Tapi karena dokter yang sering pakai logika maka art-nya sering dilupakan. Untuk itu kita harus belajar make-up wajah, supaya tau shading, dan sebagainya.”
Bicara tentang kemampuan, menurut dr. Eve, sebenarnya ahli kecantikan di Indonesia ini sudah bagus-bagus tapi masih banyak orang yang belum percaya, mereka lebih percaya di luar negeri. Padahal produk yang digunakan sama, misal sama-sama dari Eropa, “Pengalaman saya menghadapi pasien, mereka melihat hasil awal dulu secara sedikit demi sedikit baru berani secara menyeluruh. Jika ada kepuasaan dan kepercayaan barulah mereka datang lagi,” ujar dr. Eve.
One Stop Solution
Saat ini di Skinevo Aesthetic Clinic memang sudah ada perawatan skincare, namun diakui dr. Eve belum dikembangkan secara optimal karena tim yang terbatas, jadi masih fokus di face contouring. “Kita punya serum mata yang bagus tapi memang hanya sebatas pasien kita yang konsumsi,” ungkap dr. Eve.
Tentu saja dalam menghadapi persaingan atau kompetitor, dr. Eve terus meningkatkan kemampuannya di bidang estetika dan melengkapi klinik dengan berbagai perawatan termutakhir. Belajar dan terus belajar adalah kata kunci agar bisa bersaing di tengah arus perkembangan teknologi yang kian pesat dan pasar yang semakin terbuka.
Ke depan, dr. Eve ingin mewujudkan mimpinya memiliki skin center, perawatan kulit menyeluruh semacam one stop solution. Jadi setiap keluhan pasien atau keinginan pasien bisa langsung ditangani di sini. “Saya tidak ingin, misal ada pasien yang datang dengan keluhan ada flek. Flek itu kan ada yang di atas dan di bawah. Kalau yang di atas penanganannya cukup dengan peeling saja bisa hilang, tapi kalau di bawah penanganannya harus pakai laser, nah.. kalau kita tidak punya lasernya, sayang sekali! Jadi lebih enak kalau kliniknya itu lengkap, karena semakin lengkap, apapun bisa kita lakukan dan pelanggan tidak usah kemana- mana lagi. Dan, kita harus paling bagus di bidang itu,” tekan dr, Eve.

Ibunda Tercinta Sumber Inspirasi
Sosok Ibunda tercinta sangat menginspirasi dr. Eve dalam menapaki karier dan hidupnya. “Mama itu single parent. Bagiku my hero is my mom. Untuk menyekolakan saya di Kedokteran itu setengah mati biayanya, jadi Mama kerja keras, banting tulang. Bukan saja untuk biaya kuliah yang tidak sedikit, juga biaya hidup selama saya kuliah, duh.. banyak banget! Untuk memenuhi kebutuhan semua itu Mama kerja sambil jualan oli ke pabrik-pabrik. Mama tidak merasakan cape karena ia ingin anak perempuannya sukses dalam pendidikan dan bekerja. Yang dibiayai bukan cuma saya tapi juga adik saya, Mama memang luar biasa!” kenang dr. Eve.
Dokter yang ramah dan murah senyum ini sangat sayang sama Mamanya. Diakuinya, dulu perceraian Mama dan Papanya saat SMA dirasakan sebagai titik terendah dalam hidupnya. Setiap saat selalu ada keinginan untuk menyatukan mereka kembali. Namun berjalannya waktu, dr. Eve melihat, Mamanya ternyata lebih bahagia dengan kesendiriannya. Akhirnya impian untuk menyatukan Mama dan Papanya itu pun pupus.
Keluarga bagi dr. Eve adalah segalanya. Sesibuk apapun dirinya, ia tetap menomorsatukan keluarga. Meski demikian ia berusaha menyediakan waktu untuk me time, meski tak banyak. Me time yang biasa dilakukannya seperti ke salon atau baca buku. Dan kalau sedang suntuk atau stres, dr. Eve tidak mau menyentuh atau melihat hand phone, ia lebih memilih bermain sama anak atau quality time bersama keluarga.
