MajalahKebaya.com, Jakarta – Pencapaian Diana Dewi sebagai pengusaha sukses melewati jalan berliku yang menempanya menjadi sosok pelaku UMKM tangguh. Semula tak pernah terbersit keinginan Diana untuk menjadi entrepreneur. Pertama kali ia mengawali karir sebagai SPG (sales promotion) kosmetik tahun 1998. Namun ia tidak pernah menjalankan job sebagai SPG karena ia ditempatkan di Bagian Administrasi. Di sana ia berkontribusi cukup besar dalam membenahi administrasi perusahaan.
Wanita cantik kelahiran Jakarta, 27 Juli ini, bekerja di perusahaan tersebut hanya selama 1,5 tahun. Diana kemudian memutuskan resign untuk bekerja di perusahaan lain hingga selama 10,5 tahun. Saat itu Diana bekerja sambil kuliah dan sebelum lulus ia punya mimpi besar bisa memberangkatkan haji orang tuanya.
“Waktu itu saya tanya ke Ustad yang menyarankan saya untuk mendampingi orang tua saat berangkat haji, tapi saya bilang saya tidak punya uang. Ustad mengatakan kalau sudah panggilan insya Allah bisa berangkat . Alhamdulillah saya akhirnya bisa mendampingi orang tua pergi haji,” jelas lulusan S1 Ekonomi ini.
Saat itu, untuk pergi haji di tahun 1995 membutuhkan waktu cukup lama sekitar 43 hari dan perusahaan tempatnya bekerja memberikan izin tapi perusahaan tidak membayar gaji untuk izin selama 43 hari tersebut.
“Di tanah suci, saya pun memohon kepada Allah supaya setelah pulang haji bisa bekerja di tempat yang menurut Allah tepat untuk saya, sesuai kemampuan saya,” kenangnya.
Setelah pulang haji, Diana tidak langsung berhenti bekerja dari perusahaan dan bertahan hingga tahun 1998 karena waktu itu ia masih menjadi single parent yang harus membiayai satu orang anak dan kedua orang tuanya.
“Saat itu ibu saya sakit Diabetes dan 2 minggu sekali harus kontrol, dan saya harus punya gaji untuk membiaya kehidupan keluarga dan pengobatan ibu saya. Jadi saya belum berani resign dari perusahaan. Di bulan Februari 1998 ibu saya meninggal dan pada April 1998 saya memberanikan diri resign,” lirihnya.
Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan sebelumnya yang bergerak di bidang penjaulan daing ayam dan sapi, Diana kemudian memutuskan untuk merintis bisnis yang berlokasi di sebuah garasi di Jakarta Timur sebagai titik awal memulai bisnis penjualan daging ayam dan daging sapi. Baru satu bulan merintis usaha, krisis moneter melanda Indonesia pada Mei 1998. Tragedi itu justru membawah hikmah pada dirinya.
“Waktu itu banyak orang yang menghubungi saya karena waktu bekerja sebagai profesional saya menjadi tenaga marketing. Setelah saya berhenti bekerja, mereka masih menganggap saya sebagai seorang marketing. Mereka mencari produk daging ayam, sapi, beras karena customer saya banyak bergerak di bidang kuliner seperti perhotelan, restoran, catering dan industri makanan. Mereka tentu butuh bahan baku dan banyak yang menghubungi saya waktu itu,” kenangnya.
Tak hanya itu, Diana menjalin networking dengan banyak perusahaan bidang makanan. Ia pun menawarkan kerja sama untuk memasarkan produk dari perusahaan lain. Permintaan produk dari customer dalam skala besar hingga berton-ton.
“Waktu itu produk impor sulit masuk, salah satunya daging sapi. Akhirnya saya sendiri mencari sapi ke luar kota di daerah Wonogiri, Solo, Salatiga, Boyolali. Setelah sampai Jakarta sapi itu disembelih kemudian dikirim untuk dijual di supermarket. Keuntungan yang diperoleh Diana cukup besar karena ia langsung mencari sapi sendiri dari berbagai daerah dan memiliki rumah potong hewan sendiri. Usahanya pun berkembang pesat dan Diana mencoba peluang menjadi importir daging sapi hingga mendirikan pabrik olahan makanan dari daging ayam dan sapi.
“Saya juga mendirikan banyak outlet di berbagai daerah untuk memasarkan produk saya,” jelas Founder PT Suri Nusantara Jaya Group dan Dirut PT Garindo Food Internasional ini.
Diana juga menambah varian produk yang dijual di outlet, tak hanya produk daging sapi, tapi juga ada daging kerbau, daging bebek, daging ayam, daging kambing dan semua hewan yang halal. Ia juga menjual bahan pokok seperti beras, terigu, minyak, gula, telur, bumbu instan dan lainnya. “Kita buat konsep seperti minimarket tetapi isinya one stop shopping untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ujar istri H. Mursalam SE, Komisaris PT Suri Nusantara Jaya ini.

Saat ini outlet-nya yang diberi nama Toko Daging Nusantara tersebar di berbagai daerah seperti Bandung, Purwokerto, Cikampek, Cikarang, Banten, Karawaci, Semarang dan sebagainya. Diana juga akan ekspansi di Pekan Baru, Makassar, Jogjakarta dan Cirebon .
Dengan harga kompetitif, Diana menawarkan kualitas produk terbaik, higienis dan pasti halal. “Harga produk kami rasional, pada saat peak session seperti momen hari raya biasanya harga naik, tapi saya berusaha pada situasi itu supply banyak sehingga harga produk kami lebih rasional,” tambahnya.
Setelah outlet penjualan daging dan kebutuhan pokok berkembang, Diana mencoba merintis usaha resto yang berlokasi di outlet dengan nama kedai Steak Nusantara. “Kita tahu bahwa seorang suami kadang-kadang tidak mau mengantar istrinya belanja, nah dengan adanya resto ini bisa menunggu istrinya belanja sambil makan di kedai Steak Nusantara, jadi tidak bosan. Sekarang kita juga punya restoran, bukan hanya kedai Steak Nusantara saja. Kita buka restro di dua lokasi yaitu Kemang dan Soepomo, Tebet Jakarta Selatan. Kalau kedai Steak Nusantara ada 14 cabang yang berlokasi di semua outlet,” terang Diana.
Aktif di Organisasi dan Kegiatan Sosial Kemanusiaan
Di tengah kesibukan mengembangkan bisnis, Diana juga aktif dalam organisasi antara lain dipercaya sebagai Komisaris Independen Angkasa Pura Support (BUMN) dan Komisaris PT Delta Pertiwi Profertindo. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Kadin DKI Jakarta. “Saya menjadi Komisaris Independen Angkasa Pura Support mewakili pengusaha yang ada di Jakarta, jadi bagaimana melayani seluruh pengguna bandara. Fungsi Komisaris Independen tentu melakukan pengawasan,” ujarnya.
Di perusahaannya, Diana juga menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR). Ada beberapa program yang dilakukan khususnya dalam menangani masalah stunting. Diana membentuk tim khusus dan kebetulan saat ini putranya juga menjadi Ketua Forum CSR DKI Jakarta.
“Kita juga punya yayasan sosial, saat konsumen belanja dan ingin berdonasi dari sisa uang pengembalian belanja maka kita salurkan ke yayasan tersebut. Kita juga punya beberapa Tahfidz Quran, mengasuh anak yatim dan membantu masyarakat di daerah untuk bertani . Kita siapkan lahan untuk mereka bisa menanam berbagai jenis tanaman, nah hasil panennya kita bawa ke Jakarta, kemudian kita jual di outlet kita. Jadi ada pemberdayaan UMKM, ada pemberdayaan anak yatim, ada pemberdayaan untuk para petani. Itu kami lakukan dan saat ini kami sedang membangun masjid, sudah jalan 90% ,” jelas ibu dari dr Dimas Wibowo ( S1 Kedokteran) dan Aldi imam Wibowo ( S1 Electrical Engineering).
Tak hanya itu, Diana juga berencana memberikan layanan makan siang gratis untuk ojek online atau masyarakat yang memang membutuhkan. Ia merasa bisnis yang dibangunnya ini merupakan jawaban atas doanya kepada Allah bahwa ia ingin bekerja sesuai kemampuan dan passionnya. ”Passion saya lebih suka berinteraksi dengan orang dibanding bekerja di belakang meja. Saya juga suka analisa, nah ini saya pikir talenta saya, karena untuk membangun perusahaan nggak hanya membutuhkan orang yang bisa bekerja secara administrasi tapi juga bisa menjalin relasi atau interaksi dengan orang lain dan mengerti tentang organisasi perusahaan,”jelasnya.
Saat waktu luang, Diana lebih suka membaca buku, melakukan perawatan sendiri di salon yang ada di rumahnya. ”Saya bisa berjam-jam di situ, saya juga suka spa, ”ujar Diana yang masih sempat mengikuti kegiatan arisan untuk bersosialisasi.

Kiat-Kiat Sukses
Saat ini ada 3 ribu hingga 4 ribu orang karyawan di group perusahaannya. Mimpi Diana ingin perusahaannya bisa lebih banyak lagi menerima lapangan pekerjaan. Ia pun ingin bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dalam aktivitas bisnisnya, Diana juga terinspirasi dari sosok kedua orang tuanya, yang ikhlas dan selalu sabar.
“Setelah ibu saya meninggal, ayah saya ingin tinggal bersama saya. Beliau yang selalu mengiringi langkah saya selama 24 tahun ini dan beliau menanamkan prinsip hidup nomor satu adalah harus jujur, nggak perlu takut kalau kita jujur,” tambahnya.
Di perusahaannya, Diana menanamkan 5 pilar kepada semua karyawan yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, kerja sama dan peduli. “Saya yakin baik sebagai pengusaha maupun individu bisa sukses jika memiliki 5 pilar ini, artinya dengan kita jujur, punya rasa tanggung jawab dan disiplin, kita punya komitmen dan otomatis meningkatkan kepercayaan. Nah nilai kepercayaan itu harus dipegang seorang pengusaha. Saat orang percaya, maka apapun akan diberikan. Kalau kita sudah dipercaya otomatis kita mau pinjam modal berapapun pasti akan dipercaya. Tapi kalau kita nggak dipercaya, nggak mungkin kita bisa berkesinambungan dalam bisnis,” jelasnya.
Di perusahaannya, Diana membiasakan untuk memperingati ulang tahun perusahaan dan meningkatkan tali kekeluargaan sesama karyawan. Salah satunya dengan memperdengarkan hymne, mars dan yel-yel untuk membangun identitas dan semangat dan tali persatuan dalam bekerja.
Diana juga menerapkan kepemimpinan yang tegas terhadap karyawan, tapi juga terbuka menyediakan waktu kalau ada karyawan ingin mengungkapkan masalah personal mereka. Menurut Diana untuk merekrut karyawan di era Gen Z ini berbeda dengan era sebelumnya. “Gen Z ini tidak bisa diberikan pekerjaan lebih dari satu, kalau kita kasih pekerjaan lain seperti tidak ikhlas. Kalau sebelumnya saya pernah punya karyawan dengan talenta bisa mengerjakan a,b,c dan seterusnya tapi sekarang nggak bisa,” terangnya.
Diana juga menyarankan bagi kaum perempuan yang ingin mengembangkan bisnis untuk mengasah talenta sehingga mengetahui potensi yang dimiliki. Ia menilai perempuan mandiri bukan karena mampu dari sisi ekonomi, atau bisa mengerjakan semuanya. Perempuan mandiri menurut Diana harus punya sikap positif sehingga langkah kita pasti positif dan pasti bisa mandiri, bisa menghitung mana yang terbaik untuk dirinya.
