MajalahKebaya.com, Jakarta – ‘Tetapkan target dan tanamkan tekad kuat dalam diri untuk mencapainya sesuai harapan’ adalah mindset yang secara konsisten dan komitmen tinggi seorang Susi Sulistiani, Sales Manager PT YES Logistics Indonesia. Mindset inilah yang dijadikannya trigger untuk memacu diri dalam meraih keberhasilan, baik dalam target-target hidup dan karier pribadi, maupun dalam pola didik membentuk karakter dan kesiapan anak merajut masa depannya.
Setelah lusus kuliah S1, Susi bekerja di sebuah perusahaan shipping line, yaitu PT APL (American President Lines) Indonesia cabang Bandung, dengan posisi awal sebagai Customer Support. Tidak kurang dari 15 tahun ia mengabdikan diri di perusahaan tersebut.
Ketika di Bandung inilah, Susi bertekad menjadi seorang single parent yang tangguh dan sukses, terutama untuk memastikan masa depan anak semata wayangnya cemerlang. Karena itu, ia kemudian melanjutkan study ke jenjang S2, Magister Managment Business/Managerial Economics, Universitas Padjajaran Bandung.
“Pada saat saya berpisah itu anak masih umur 4 tahun, jadi di pikiran saya ada trigger nih, saya harus sukses membesarkan anak saya, saya sudah gagal dalam rumah tangga, jadi saya harus sukses mendidik anak saya, itu yang saya trigger dari dulu. Jadi apapun saya harus kerjakan, istilahnya trigger saya itu mindset saya, harus saya laksanakan. Sampai saya sekolah lagi ambil S2 saat anak saya SMA, saya berpikir mungkin nanti saat saya pensiun, saya masih bisa mengajar. Jadi saya target, saya S2 saat anak saya kelas 1 SMA, jadi saya lulus, anak saya kuliah. Saya harus target 2 tahun harus kelar, semua sudah ditarget dari awal. Jadi anak saya kelas 3 SMA saya sudah harus lulus karena kalo tidak kasihan anak saya harus kuliah,” tegas wanita cantik kelahiran Cianjur, 27 Desember ini.
Setelah dari PT APL Indonesia, Susi pindah kerja di PT Has logistics Bandung sebagai Sales Executive. Namun tidak lama setelah itu, ia kemudian harus pindah kerja dari Bandung mengikuti anaknya yang mendapat pekerjaan di Jakarta. Sang anak, Rakha Anugerah Pratama (S1), mendapat pekerjaan di Astra Autopart. “Waktu itu saya sudah bekerja di PT Has logistics. Akhirnya saya resign dari perusahaan dan melamar di Jakarta, supaya dekat dengan anak, karena khawatir dengan anak di Jakarta. Saya lalu mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan logistic, perusahaan ekspor impor untuk urusan-urusan forwarding. yang ada di daerah TB Simatupang, Gedung Oleos, yaitu JCL Logistics sebagai Field Sales Executive.”
Tidak sampai setahun di perusahaan forwarding, Susi mendapat tawaran dari GM (General Manager) YES Logistics Indonesia untuk bergabung. Ia pun dipercaya menjabat sebagai Sales Manager PT YES Indonesia yang berkantor di Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, member group YANGMING Shipping Group yang berkantor pusat di Taiwan.
“Mungkin Allah mudahkan caranya seperti ini supaya saya bisa dekat dengan anak, jadi memang rejekinya seperti ini. Sudah 8 tahun di perusahaan ini. Tapi setelah saya bekerja 5 tahun, anak saya mendapat panggilan kerja dari PT Caterpillar di Singapore. Tapi saya merasa aman kalau dia tinggal di sana, sekarang sudah 2 tahun dia di perusahaan itu. Alhamdulillah beberapa waktu lalu anak saya bahkan sudah diikutkan training di Thailand, bertepatan dengan gempa di sana, dia juga Lebaran di sana,” lirih Susi haru.

Pendekatan Personal Kunci Sukses Dunia Marketing
Marketing di perusahaan ekspor impor, menurut Susi, itu susah susah gampang, dan cenderung lebih susah. Beda dengan sales kartu kredit atau asuransi yang mungkin pendekatannya lebih mudah. Di perusahaan saya, seorang sales harus memiliki pengalaman ekspor impor, seorang sales yang sudah ‘jadi’, sudah berpengalaman, atau paling tidak sudah mempunyai customer. Saya tidak mau menghabiskan waktu harus mengajari lagi dari awal tentang knowledge-nya, saya tinggal me-maintain, karena yang namanya sales itu kejar-kejaran dengan target,” ungkap wanita energik yang hobi olahraga, terutama yoga ini.
Sigap Hadapi Persaingan. Menjamurnya perusahaan cargo saat ini tentu membuat persaingan semakin ketat. Menghadapi persaingan, Susi memiliki kiat dan strategi tersendiri yang telah terbukti efektif. “Memang customer itu dibawa dari 0, jadi saya maintain customer itu. Saya selalu tekankan kepada team, ke mana pun mereka pergi harus membawa kartu nama, karena kita tidak tau di mana akan ketemu calon customer. Rata-rata memang customer kita ketemu di Bandara, Rumah Sakit, atau mall. Saya selalu bawa kartu nama. Jadi kalau cuma download di Google agak susah, meskipun itu satu cara, tapi orang-orang zaman sekarang rata-rata kalau tidak kenal tidak mau,” terang Susi.
Knowledge dan doa, bagi Susi adalah kunci penting dalam memenangkan persaingan. Apalagi dengan banyaknya perusahaan cargo, pasti terjadi persaingan harga, service, dan lain-lain. “Kita sebagai sales harus menunjukkan bahwa kita mempunyai knowledge. Lebih dari itu, saya ikhtiarkan maksimal doa, minta kepada Allah, mudahkan urusan saya, mudahkan customer saya. Doa bagi saya sangat penting, saya butuh campur tangan Allah.. sebelum meeting saya selalu berdoa, agar kami (team) dimudahkan rejekinya, dimudahkan urusannya.”
Maintain Customer juga menjadi strategi Susi memperluas jaringan penjualan. “Saya maksimalkan untuk team saya keluar, visit, punya jadwal tiap hari, untuk maintain customer, jangan sampai asing dengan customer. Sebagai seorang sales harus bisa membaca seseorang, dan kalau kita sering bertemu orang (calon customer) kita akan memiliki pengalaman. Saya tekankan kepada team, kalau ketemu customer idealnya jangan by phone, harus temui langsung. Karena lewat telepon kan belum tentu respect, atau mungkin ketika by phone customer itu galak, tapi belum tentu galak ketika kita bertemu langsung,” yakin Susi.
Dan secara garis besar, bagi Susi, untuk mencapai kesuksesan di bisnis ini strateginya adalah servis. “Service harus give the best, apa keinginan customer, kita coba penuhi, kalau pun di luar kemampuan, kita kasih edukasi ke customer, jadi satu penyampaian komunikasi yang baik ke customer. Mereka akan mengerti apa yang kita inginkan, karena sistemnya relationship, kami butuh dia, dia butuh kami.”
Menjalani karier di dunia marketing benar-benar ditekuni Susi dengan kesungguhan hati. Agar semakin mumpuni di bidang ini, makanya ia melanjutkan study S2 bidang Marketing. “Saya awalnya bukan orang sales, saya customer support, yang handle call service tidak hanya ke customer, atau back office saja. Ketika ditawari jadi sales saya tidak pede, saya harus punya ilmunya dulu. Makanya saya kemudian kuliah lagi (S2) ambil jurusan Pemasaran. Jadi secara teori atau caranya seperti apa, apa yang harus saya olah, saya bisa paham. Sayajuga baru-baru ini ikut sertifikasi di Perdagangan, itu lebih untuk masa depan saya saja. Apalagi, saat ini program Kemendag semua universitas harus belajar tentang ekspor impor, nanti saya yang merekrut guru-guru untuk mengajar itu ke universitas. Jadi seperti mata kuliah tambahan di seluruh jurusan harus ada. Kebetulan sertifikasinya saya lulus sebagai Supervisor,” terang Susi.

Me Time dan Manajemen Waktu
Menjaga keseimbangan antara karier, urusan pribadi, keluarga, dan kehidupan sosial disadari Susi sangat penting agar tetap tercipta harmoni dalam hidup. Kunci utama menurutnya adalah disiplin dan konsisten mengatur waktu.
“Bagi saya maintain waktu saja, misal kerja full pulang jam 7 malam, setelah itu olahraga, dan saya pasti luangkan hari Sabtu ketemu teman-teman, ngopi-ngopi atau di sela jam istirahat saya sempatkan diri. Tapi di hari biasa itu saya harus olahraga, dari jam 7-8 pagi ambil kelas yoga atau pilates, sampai hari jumat full weekday. Sabtu khusus me time saya dengan teman, meskipun ada saja customer yang minta ketemu di weekend tapi saya tetap atur waktu supaya ada me time atau hangout dengan teman,” ujar Susi bahagia.
