MajalahKebaya.com, Jakarta – Kecintaan Dr. Aviliani, SE, MSi pada wastra bangsa, terutama batik, terlihat dari penampilannya yang sering berpakaian batik di berbagai kesempatan, formal maupun non formal. Baginya, melestarikan dan mempromosikan budaya bangsa bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mencintai dan bangga berbusana batik. Begitu pun dalam kebersamaan ‘Merayakan Kasih Kemilau Cerita Hati’ bersama Narasi Wastra, Avi turut berbangga bisa menjadi bagian dari upaya melestarikan dan mempromosikan kekayaan wastra bangsa.
Lebih dari itu, menurut Avi kiprah dan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya khususnya wastra, semakin diperhitungkan. Banyak perempuan yang menjadi pengusaha sukses dan professional dengan segudang prestasi. Melihat perkembangan dan tren sosial yang sangat positif tersebut, Avi sangat yakin peran perempuan ke depan akan lebih besar dalam memajukan ekonomi bangsa.
Ekonom senior INDEF yang juga dosen Perbanas Institut ini, dengan semakin banyak bermunculan perempuan yang menjadi social entrepreneur, artinya perempuan tidak hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, tapi ikut membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Apalagi saat ini semakin banyak kaum perempuan yang paham ekonomi, saham, dan investasi, terbukti banyak yang menjadi investor domestic di pasar modal. Artinya, perempuan tidak hanya dikonotasikan dengan soal belanja saja.
Selain pengetahuan yang mumpuni, hal penting yang juga dimiliki perempuan, menurut Avi, adalah disiplin diri yang tinggi serta tidak memiliki ego yang terlalu besar. Ini menjadi kunci sukses perempuan baik dalam bisnis maupun karir. “Perempuan pemimpin juga bisa menghadapi kondisi krisis, entah di perusahaan, atau karena situasi ekonomi memang sedang menurun. Biasanya, perempuan lebih bisa mengatasi masa krisis, mungkin karena mereka tidak punya ego yang terlalu besar. Ini juga bukti bahwa perempuan mampu beradaptasi pada perubahan,” tegas wanita energik kelahiran Malang, 14 Desember 1961 ini.

Tiada Henti Belajar dan Berbagi Ilmu
Kecintaan Avi pada dunia pendidikan dibuktikannya dengan komitmen dan konsistensi menjalankan profesi baik sebagai dosen maupun sebagai peneliti. Baginya, mengajar adalah passion dan panggilan jiwa yang sudah menyatu dalam diri dan tidak mungkin bisa ditinggalkannya. “Saya tidak akan meninggalkan profesi saya sebagai pengajar, apa pun pekerjaan atau kewajiban saya yang lain,” tutur ibunda dari Ismi H Putri ini dengan yakin.
Bagi Avi, yang juga sering diminta menjadi narasumber dan pembicara di berbagai seminar bidang ekonomi, dan presenter talk show di radio dan televisi, menjalankan profesi sebagai dosen, tidak hanya sekadar mengajar berdasarkan textbook, tapi juga harus dari pengalaman di lapangan. Tidak heran ia pun selalu melibatkan diri dalam bermacam kegiatan keilmuan seperti penelitian, study, seminar (webinar), kajian, dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan bidang ekonomi. Ia aktif dan rajin berdiskusi, terutama bersama kelompok-kelompok atau organisasi yang memiliki konsentrasi dan fokus pada masalah-masalah ekonomi.
“Menjadi narasumber pada seminar atau talk show juga menambah ilmu, terutama ketika muncul pertanyaan-pertanyaan peserta yang tidak terpikirkan sebelumnya. Saya juga selalu terlibat dalam komunitas ekonom, berbicara tentang hal-hal yang sedang tren. Sebab, ilmu itu tidak bisa dicari sendiri, tapi juga hasil berbagi dan belajar dengan orang lain,” ungkap Avi.

Perjalanan Karier
Ketertarikan Avi untuk mengambil study bidang ekonomi didukung minat dan kemampuannya yang mempuni. Pada awal-awal menjalani kuliah jurusan Ekonomi Manajemen di Universitas Atma Jaya, Jakarta, ia sudah dipercaya menjadi asisten dosen. Setelah lulus pada tahun 1985, di usia 30 tahun, ia mulai berkarir sebagai dosen di STIE Perbanas, yang kemudian memberikan beasiswa kepadanya untuk melanjutkan pendidika pascasarjana di FISIP UI Jurusan Administrasi Niaga.
Setelah lulus S2 pada tahun 1995, Avi bergabung dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) atas rekomendasi dosennya. Sebuah lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta dengan aktivitas di antaranya melakukan riset dan kajian kebijakan publik, utamanya dalam bidang ekonomi dan keuangan. Kajian INDEF diharapkan menciptakan debat kebijakan, meningkatkan partisipasi dan kepekaan publik pada proses pembuatan kebijakan publik. INDEF turut berkontribusi mencari solusi terbaik dari permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Sejak itu, nama Aviliani sebagai peneliti ekonomi mulai dikenal luas. Pamornya makin naik seiring sering diundang menjadi pembicara baik di lembaga-lembaga maupun perusahaan. Popularitas namanya sebagai pengamat ekonomi sempat menjadi salah satu incaran presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk diangkat menjadi salah satu menteri di kabinetnya.
Pada tahun 2005, Aviliani diangkat oleh Pemerintah sebagai Komisaris Independen Bank BRI, di saat bersamaan ia mengambil study Program Doktor Manajemen Bisnis (DMB) di IPB dan mendapatkan gelar Doktor pada tahun 2012.
Selain sebagai dosen dan peneliti, banyak prestasi dan reputasi yang pernah ditoreh Aviliani, antara lain: Associate Consultant PT REDECON (Resource Development Consultants) Jakarta pada tahun 2002; Staf Ahli KLH pada Studi Kelayakan Pelaksanaan Penyusunan Pedoman Pengelolaan Pinjaman Lunak JBIC / PAE pada tahun 2002; Anggota Dewan Pakar Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), sejak tahun 2003; Menjadi Sekertaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) tahun 2010, dan saat ini sebagai Komisaris Independen Bank Mega.
Aviliani juga sangat produktif menulis, baik artikel yang dimuat berbagai media massa (cetak) maupun buku. Beberapa buku yang ditulisnya seperti, Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia “Antisipasi Dunia Usaha Menghadapi Resesi Global”; Paradigma Baru Lembaga Keuangan Mikro Simpedes – Kupedes; Neraca Pembayaran; Otonomi Daerah “Ekonomi Daerah”; Otonomi Daerah “Keuangan Pusat Daerah”. Juga tidak terhitung penelitian dan study yang telah dilakukannya.
