Profil

Marsinta Mutiara Marpaung, Perempuan Mandiri dalam Kepemimpinan: Membuka Jalan Menuju Kesetaraan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Sebuah kebanggaan bagi seorang Mutiara adalah bisa melewati rintangan dan tantangan bekerja di luar negeri dan berhasil menunjukkan kemampuan perempuan Indonesia dengan menjadi leader di sebuah perusahaan asing. Tinggal, kerja dan hidup di luar negeri selama lebih dari 20 tahun, Mutiara menggembleng dirinya agar menjadi perempuan mumpuni dan semakin berdaya.

 “Saya selalu persistent, selalu haus belajar hal-hal baru lebih banyak lagi. Dan lalu memberikan lebih dari yang diminta oleh atasan. Saya tidak mau jika disuruh buat A, hasilnya A, tidak bisa. Saya akan kasih lebih. Bekerja adalah seperti saya beribadah. Intinya saya bekerja harus selalu fokus, persistent, dan kunci bagi saya  selalu disiplin,” tegas wanita cantik kelahiran Jakarta, 6 September ini.

Mutiara selalu bertekad untuk pantang menurunkan kinerja, walau kondisi usaha sedang lesu. “Saya pun orangnya tepat waktu. Saya selalu luangkan waktu hadir minimal 15 menit sebelum jadwal rapat mulai. Profesionalisme saya junjung tinggi. Hasil kerja saya bisa terlihat dan jelas jejak rekamnya. Saya pun senang mendidik bawahan karena saya memiliki naluri mengajar. Sekarang sudah banyak anak buah saya menjadi pemimpin di tempat kerjanya. Saya memang bahagia bisa menciptakan legacy yang bagus di mana pun saya berada,” jelas perempuan penyuka warna cerah, pehobi travelling, nonton film, dan membuat tulisan-tulisan pendek ini.

Kedua orang tua Mutiara terutama sang ayah adalah panutan terbaik baginya. Berasal dari keluarga kurang mampu, tapi berkat kedisplinan dan kegigihan usaha sendiri, ayahnya bisa meraih Master degree dari Perguruan Tinggi di Amerika. Kekuatan tekad dan disiplin membekas dalam batin seorang Mutiara, sehingga ia sangat alergi sama orang yang tidak disiplin. 

“Saya lihat generasi sekarang, hidupnya sangat enak, bahkan terlalu mudah, terlalu well-provided, apalagi kalau background orang tuanya sangat well off. Saya selalu berkaca pada diri sendiri. Walaupun orang tua memiliki segalanya, pesan saya pada anak-anak perempuan, persis yang yang ibu saya sendiri sampaikan ke saya dulu – ‘walaupun kamu nanti mempunyai suami hebat, atau nantinya hidup serba nyaman, sebagai perempuan harus punya kebanggaan sendiri..,” kata lulusan Bachelor of Business Banking & Finance, Monash University, Mebourne ini, dengan bijaksana.

Penampilan Mencerminkan Jati Diri

“Penampilan adalah penghargaan untuk orang sekitar kita. Kalau saya bertemu dengan orang lain dalam keadaan lusuh, itu berarti saya tidak menghormati orang tersebut. Dari dulu, saya selalu menggangap bahwa penampilan itu part of investment. Kenapa? Kalau kita rapi, tidak harus pakai all-branded goods, yang penting rapi, dan cocok, itu menujukkan I appreciate you. Saya menghargai orang yang saya temui dan orang akan lihat I have made an effort berpenampilan baik itu agar orang juga senang melihat saya. Saya suka penampilan yang klasik, warna-warna yang tak lazim, walau saya menyukai pakaian  berwarna terang benderang yang mencerminkan saya orang yang ceria. Pakailah baju yang menunjukkan jati dirimu sendiri seperti apa,” tutur Mutiara dengan riang. 

Terlalu lama tinggal di luar negri, Mutiara merasa kehilangan kesempatan memakai kain-kain tradisional Indonesia. Kini sudah kembali ke tanah air, ia melihat koleksi batik Narasi Wastra dengan hati penuh kagum, “I am back to my roots. Koleksinya nyaman dipakai dan cantiknya itu beda kalau pakai gaun modern. Di sini saya melihatnya, ‘Wow, this is Indonesia… Inilah Indonesia. Saat memakai koleksi Narasi Wastra, saya ikut bangga, karena berbeda, siluet disainnya super klasik dan anggun, berbeda jika berbusana gaun lainnya,” bangganya. 

Ikhlas Membantu dan Mencerdaskan Orang Lain

Mutiara juga memiliki kepribadian yang tidak egois dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berbagi dengan sesama. “Saya ini tipe pengajar, saya selalu open-arms untuk perempuan mana pun yang ingin dibantu dari sisi mana pun – apa itu career counselling, atau berbagi kisah bagaimana seorang perempuan harus bersikap. Bagi saya, walaupun saya sesibuk apa pun, kalau ada orang yang bilang ‘Bu, I need your time. I have this personal matter..  I will immediately drop everything. Saya langsung mau dengar dan bantu carikan solusi.” 

Mutiara ingin meninggalkan sebuah legacy, di mata anak buahnya adalah seorang pemimpin yang memberikan kepercayaan dan membiarkan mereka buat kesalahan agar mereka bisa belajar dari kesalahan tersebut nantinya, tidak masalah mereka learn the hard way. Pemimpin harus suka kasih contoh. 

“Banyak leaders bilang ingin anak buah achieve target numbers sekian, tapi mereka dibiarkan. Kalau saya tidak mau, I don’t mind getting my hands dirty from the beginning, supaya mereka lihat this is how I do it. This is how I make the deals happen. Saya mau turun supaya mereka mau belajar dari saya. Team saya selalu bilang saya ini leader yang leading by example dan mau mengajar karena pada dasarnya saya seorang pengajar, saya berharap my legacy ada di situ. A good leader creates better leaders,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top