Profil

Dr. dr. Niniek Budiarti SpPD, K-PTI, FINASIM, Peduli dan Rangkul Pengusaha Kecil Agar Lebih Berdaya dan Sejahtera

MajalahKebaya.com, Jakarta – Impian dan harapan menjadi sebuah bangsa yang besar, makmur, dan sejahtera, pasti akan tercapai, karena Indonesia memiliki potensi yang begitu besar dengan keanekaragaman kekayaan alam dan sumber daya manusia. UMKM sebagai fondasi dasar perekonomian bangsa, sepatutnya menjadi prioritas penting dalam pembangunan nasional. Melihat nasib pengusaha kecil, terutama di Malang, yang perlu lebih berkembang dan terekspos secara maksimal, padahal memiliki produk-produk khas dan unggul, Dr. dr. Niniek Budiarti SpPD, K-PTI, FINASIM, Ketua Pengurus Cabang Asosisasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) 2019-2024 untuk wilayah Malang Raya, tergerak hati untuk tiada henti melakukan upaya-upaya pemberdayaan, merangkul dan mengangkat mereka agar semakin berdaya dan berkembang.

“Nasib para pengusaha kecil di daerah, terutama Malang, masih tertinggal dibanding para pengusaha di kota, dan di Negara-negara berkembang lain. Karena itu, kita lebih fokus dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan agar kesejahteraan mereka bisa terangkat. UMKM tidak hanya perlu dilatih dan diberi pengetahuan tentang produksi, tetapi yang tak kalah penting adalah aspek marketingnya, atau dengan kata lain pemberdayaan dari hulu ke hilir, agar mereka menjadi lebih berdaya,” tutur wanita kelahiran Surabaya, 5 Juli, yang saat ini berdinas di Divisi Tropik Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Dokter cantik yang serba bisa ini, tidak hanya sukses dalam karier dan profesi kedokteran, tapi juga piawai dalam berbisnis. Ia sukses menjalankan usaha jasa laundry, dengan brand Ecowashi Laundry, dengan menerapkan ilmu kedokteran, seperti penerapan alur khusus yang mirip laundry Rumah Sakit. Selain itu, dr. Niniek, menggebrak dengan KAMPOENG MALANG, one stop shopping all about Malang’s Batik dan Craft, yang  merupakan produk dari berbagai UMKM.

Keinginan sangat kuat dalam diri dr. Niniek untuk mengangkat potensi Malang, terutama kain batik dan kerajinan tangan. Menurutnya, batik Malang merupakan salah satu batik terbaik di Indonesia, dibuat sangat detail dengan nilai seni yang tinggi dan proses yang memakan waktu hingga dua bulan.

Dokter Niniek juga sukses dengan Tokokita Kampoeng Malang, dengan motto: Halal & Berkah. Sebuah solusi untuk kebutuhan sehari-hari, di samping sebagai tempat untuk memasarkan produk UMKM yang berkualitas.

Dan kini, dr. Niniek sedang dalam persiapan membuka klinik, dengan nama AMENAH Clinic, yang didedikasikasikan kepada Bunda Amenah almarhumah, Ibu Mertua yang menginspirasi dan memotivasi dirinya. Meskipun ia tidak pernah bertemu namun nama Ibu Mertua selalu ada di dalam doanya.

Pekerja Keras yang Tiada Henti Belajar

Jiwa juang dan kerja keras dalam diri dr. Niniek, ditempa sejak kecil. Ia terlahir dari keluarga sederhana sehingga mengharuskannya berjuang dengan sungguh-sungguh meraih impian menjadi dokter. Ia juga tiada henti belajar untuk meng-update pengetahuan dengan selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kursus, pelatihan, workshop, seminar hingga lokakarya. Menurutnya menjadi seorang dokter harus terus belajar di mana pun dan kapan pun untuk meng-update ilmu supaya bisa terus bertambah dan berkembang.

Anak pertama dari 6 bersaudara ini sangat mengagumi ayahnya, yang mengajarkan tentang keberanian menghadapi kehidupan. Sang Ayah adalah sumber inspirasi dr. Niniek hingga ia bisa sampai seperti saat ini. Ia pun bangga memiliki darah keturunan Madura. “Ayah saya Almarhum M. Dachlan berpesan, ‘Ayah tidak pernah meninggalkan harta apapun, tapi kamu harus bisa sekolah melebihi yang ayah capai’.. Itulah yang memacu semangat dan memotivasi diri saya hingga sekarang.” Begitu pun dengan Bapak Mertua Jawa dan Ibu Mertua yang berdarah India, sehingga anak-anaknya memiliki rupa campuran yang sangat menarik, menjadi inspirasi dan motivasi dr. Niniek.

Setelah menyelesaikan pendidikan Kedokteran di Universitas Brawijaya, dr. Niniek bekerja sebagai  Dokter Umum di RS Kanjuruhan, Kepanjen – Kabupaten Malang. Ia kemudian meneruskan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam, lalu ditempatkan di Rumah Sakit Pendidikan di Malang. Kemudian melanjutkan Pendidikan Konsultan Penyakit Tropik Infeksi, dan tercatat sebagai salah seorang dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tentunya sebagai dosen ia ikut serta dalam mendidik mahasiswa S1 Kedokteran, PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis).

Saat ini dokter yang paling suka berenang ini sudah menyelesaikan pendidikan S3 Ilmu Kedokteran Biomedik, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. ”Alhamdulillah saya menyelesaikan S3 saya. Semua itu tidak akan pernah terwujud tanpa bimbingan dan uluran tangan para Guru Besar, para senior. Juga dukungan, support dari teman-teman semua yang berjibaku dalam mengerjakan penelitian sampai pembuatan journalnya… Saya amat menyadari, saya bukan siapa siapa…Rasanya saya tidak mampu dan tidak sanggup mengerjakan ini seorang diri, Alhamdulillah… saya bersama orang-orang hebat, dan mendapatkan dukungan yang begitu tulus….,” ungkapnya lirih.

Keluarga adalah Support System yang Utama

Diakui dr. Niniek, tanpa dukungan penuh keluarga, ia tidak mungkin akan meraih impiannya, baik dalam karier/profesi sebagai dokter, maupun dalam bisnis. Ia bersyukur dan sangat berterima kasih dikelilingi oleh suami, anak-anak, dan para sahabat yang mendukung dan tiada henti memberi semangat pada setiap langkahnya. Sang Suami, Kol (Purn) dr. Saiful Burhan SpB, FINACs, Dokter Bedah TNI, selalu menyemangati dan mendorong dirinya untuk terus berjuang. “Mas Burhan terus menemani saya dan memberikan semangat, terutama ketika saya berada dalam keadaan yang paling terpuruk, di mana pada suatu titik apakah saya harus terus melangkah untuk melanjutkan pendidikan….Karena saya merasa dan pernah berfikiran, apakah saya masih mampu untuk mengayunkan langkah. Terima kasih atas cintanya yang luar biasa. Terima kasih sahabat seperjuanganku di dunia dan jannah-Nya Insya Allah..”

Begitupun dengan dukungan ketiga anaknya yang luar biasa. Dokter Niniek mengucap syukur dan terima kasih serta selalu mendoakan anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya. Putri pertama, dr. Karima Iffani Ulifah SpA yang saat ini berdinas di RST Soepraoen Malang dan menantu dr. Madya Kusuma Juhandana yang sedang mengambil Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam (PPDS), serta cucu, Adhyaksa Muhamad Firmansyah Juhandana (8 tahun, sekolah di My Little Island Elementary School). Putra kedua, Lettu Cpn Mochamad Ferli Ferdiansyah, S.Ter (Han), M.Han. yang berdinas di Squadron 31/AYC (Amur Yudha Cakti), Semarang dan menantu Faradisa Ayu Rahmatika, ST. yang bekerja di PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk, serta cucu Freya Almahyra Sansa (Yaya) (1 tahun 6 bulan). Putri bungsu, Sarah Hafida Fitriani, Sked. yang sedang menjalani Pendidikan Dokter di FK Universitas Brawijaya.

“Ketiga qurrota’ayyun kami: Kak Fani, Mas Ferdi dan Kak Fitri, terima kasih atas curahan cinta dan kasih sayang, pengertian, pengorbanan,  kesabaran atas kesibukan saya dan do’a tulusnya yang telah, sedang dan Insya Allah akan selalu diberikan kepada saya,” ucap dr. Niniek terharu.

Bersosialisasi dan Me Time

Dalam keseharian, dr. Niniek adalah sosok internist, setiap pagi setelah menyelesaikan ibadah Sholat  Subuh, ia biasanya lari pagi dan beberapa kali mengikuti fun run. Sore hari sepulang kantor barulah ia praktik dan visit pasien. Baginya bisa berinteraksi dan bertegur sapa secara langsung dengan pasien sangat menyenangkan. Bahkan ia akan rindu dengan pasiennya saat sedang menjalankan dinas di luar kota.

Selain itu bersosialisasi dengan teman-teman tetap dijalankannya sekaligus memanjakan hobi dan me time. “Hobi saya walking, running bersama Mas Burhan dan teman-teman Komunitas IM2B (Ikasmadabaya Mlaku Mlayu Bareng). Ikasmadabaya adalah singkatan dari Ikatan Alumni SMA 2 Surabaya. Me time saya ya.. menghabiskan waktu bersama Mas Burhan, karena saya menyadari, dengan bertambahnya usia, rasanya waktu hidup kita akan semakin berkurang, karena kita akan sampai pada keabadian. Meski hidup ini semakin berkurang namun janganlah sekalipun membiarkan iman kita ikut berkurang. Usia kita semakin melarut dan bertambah, namun tidak dengan dosa. Di sisa usia ini, saya dan Mas Burhan lebih fokus untuk mempersiapkan bekal hidup (sangu urip).”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top