Profil

Prof. Dr. Hj. Anna Mariana SH., MH., MBA, Dedikasikan Diri untuk Terus Kembangkan, Lestarikan, dan Melindungi Tenun & Songket

MajalahKebaya.com, Jakarta – Bicara tenun dan songket tak bisa lepas dari sosok Hj. Anna Mariana. Kecintaannya pada kain wastra  selama 36 tahun ini, sudah tak diragukan lagi. Baginya, mengedukasi dan memperkenalkan tenun dan songket tradisional kepada setiap generasi muda dan masyarakat luas merupakan kewajiban dan keharusan. Hal itu dilakukan sebagai upayanya agar warisan budaya tradisional leluhur bangsa terus dapat dilestarikan secara turun temurun agar produknya terus dapat berkembang lebih baik, lebih inovatif dan tidak punah. Begitu pun budaya tenun dan songket tradisional diperkenalkan mulai dari sejarah pada masa kerajaan Nusantara maupun dalam sejarah Islam.

Penetapan Hari Tenun Nasional 7 September

Merupakan gagasan serta perjuangan dan upaya Hj. Anna Mariana sebagai Ketua Umum Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia dan Komunitas Indonesia Internasional Fashion Art & UMKM, bersama dukungan Presiden Indonesia, H. Joko Widodo, beserta Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, beserta Wakil Presiden Indonesia, Kyai H. Ma’ruf Amin beserta Ibu Hj. Wuri Ma’ruf Amin, serta dukungan seluruh jajaran Kementerian terkait, turut menetapkan tanggal 7 September sebagai peringatan Hari Tenun Nasional. Penetapan tanggal tersebut berdasarkan hasil kajian secara akademik, serta hasil perumusan naskah bersama seluruh Kementerian serta ahli hukum dan berbagai ahli budaya dari berbagai universitas terbaik di Indonesia, di mana secara fakta akademik dan sejarah yang mendasar yaitu Sekolah Tenun pertama kali didirikan pada 7 September 1928 oleh Dokter Soetomo di Surabaya, Jawa Timur. Sehingga dengan demikian dasar kajian tersebut dapat menjadi rujukan naskah Keputusan Presiden (Kepres).

“Hal ini merupakan bentuk penyelamatan, dan pelestarian terhadap Warisan Budaya Tradisional sebagai asset budaya tak benda milik bangsa Indonesia, sekaligus mengajak dan mengingatkan agar masyarakat semakin cinta produk lokal tenun dan songket tradisional Indonesia. Karya anak negeri yang menjadi ciri khas, identitas, karakter serta jati diri bangsa. Kebanggaan Indonesia di mata dunia yang telah mendapat pengakuan dari dunia Internasional yaitu UNESCO,” tegas Anna.

Anna juga menambahkan bahwa gagasan tersebut didukung assosiasi pengrajin tenun dan songket tradisional Indonesia,  para perajin- perajin dari selurun Indonesia, serta berbagai komunitas baik didalam negeri maupun luar negeri, serta para duta besar negara sahabat.

Pentingnya penetapan HTN (Hari Tenun Nasional) merupakan payung hukum dan pengakuan, serta perlindungan secara resmi oleh Negara, sebagai asset warisan budaya tak benda milik bangsa Indonesia. Diharapkan Presiden dan Ibu Negara beserta jajaran Pemerintahan menetapkan penggunaan busana tenun agar dapat menjadi busana wajib yang dikenakan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia pada setiap minggu dalam 1 hari atau 2 hari menggunakan busana tenun tradisional Indonesia, mulai dari instansi pemerintah, swasta, siswa sekolah dan universitas hingga para guru di sekolah-sekolah. Busana tenun tradisional akan dikenakan, sebagaimana selama ini diwajibkan mengenakan busana batik pada hari-hari tertentu dalam minggu.

“Hal ini akan membawa dampak positif dan sangat baik, terutama dalam memacu, mendorong, serta upaya meningkatkan semangat bagi para perajin dari seluruh Indonesia, agar terus dapat berkarya lebih baik dan lebih meluas secara turun temurun, sehingga dengan demikian diharapkan perkembangan ekonomi, sentra industri kreatif bagi UKM/UMKM dapat meningkat, berkembang lebih baik, lebih maju dan masyarakatnya lebih makmur, sejahtera,” papar Anna.

Pemilihan Putra Putri Tenun & Songket (PPTSI)

Lebih lanjut Anna menginisiasi untuk mengadakan ajang pemilihan PPTSI (Putra Putri Tenun dan Songket  Indonesia) yang pesertanya adalah generasi muda perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia. Pemilihan Putra Putri digelar setiap tahun secara rutin. Melalui ajang ini diharapkan para generasi muda akan semakin banyak yang mencintai, memahami, menghargai warisan budaya bangsanya sendiri. Juga sebagai upaya pelestarian dan menanamkan pengetahuan mengenai tenun dan songket tradisional dari berbagai daerah kepada generasi sekarang. Dengan memahami product knowledge, kesadaran dan kecintaan mayarakat semakin tinggi terhadap tenun dan songket tradisional sebagai jati diri, ciri khas budaya bangsa Indonesia, serta dapat menjadi kebanggaan dalam menggunakan produk dalam negeri.

“Ajang Putra Putri Tenun & Songket Indonesia memiliki komitmen serta konsistensi menjadikan Tenun dan Songket Indonesia sebagai warisan budaya dunia dan perekat komponen bangsa. Diharapkan  generasi Putra Putri Tenun & Songket Indonesia (PPTSI) menjadi generasi muda yang terus dapat melestarikan warisan budaya bangsa, serta menjunjung tinggi keluhuran dalam keberagaman budaya, sebagaimana yang tercermin dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” jelas Anna penuh semangat.

PPTSI didirikan mempunyai misi dan visi yang wajib dilaksanakan oleh finalis Putra dan Putri Tenun Songket, sebagai upaya membantu pemerintah daerah atau pusat. Adapun visi dan misinya:

–  Mendorong pemerintah mengembalikan Kurikulum Sejarah dan Budaya bangsa Indonesia dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di seluruh  Indonesia .

– Mendorong pemerintah agar dapat memiliki pusat edukasi budaya, sebagai ajang dalam mempromosikan, menjual produk – produk yang berkwalitas terbaik bagi kearifan lokal yang berstandart international.

– Mendorong pemerintah pusat maupun daerah agar dapat membantu melindungi hak cipta pada motif – motif warisan budaya leluhur tak benda milik bangsa Indonesia , serta dapat membantu memfasilitasi  para perajin – perajin indonesia dari Sabang hingga Merauke ,

– Mendorong pemerintah Indonesia agar dapat mengatur secara resmi, melalui aturan dan regulasi yang mengikat, agar seluruh brand – brand luar yang berkembang membanjiri Indonesia, dapat diwajibkan menggunakan produk ke arifan lokal / lokal kontain tradisional Indonesia.

– Mendorong pemerintah daerah agar dapat terus secara konsisten mendorong serta membantu para perajin- perajin di setiap daerahnya, agar kemajuan bagi industri – industri kreatif tenun dan songket tradisional terus dapat berkembang lebih baik dan  meningkat maju.

Tahun lalu, ajang PPTSI 2023 baru saja digelar pada bulan Desember. Berbagai kegiatan dilakukan oleh finalis yang datang dari  berbagai daerah. Seperti menanam pohon rempah yang bermanfaat untuk bumbu masak dan obat herbal tradisional, serta dapat digunakan sebagai pewarna alam untuk tenun dan songket tradisional. Tanaman rempah tersebut ditanam di Kawasan Agro Wisata Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, bekerja sama dengan Dewan Rempah Kejayaan Indonesia.

Selain itu para peserta melakukan kunjungan ke miniaturnya Indonesia di seluruh anjungan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Juga selama masa karantina PPTSI 2023, peserta mendapat pembekalan dari ahli berbagai profesi dan bidang, seperti bidang Soul of Speaking, Politik, Kepribadian, Ekonomi Bisnis, Hukum Hak Cipta Kekayaan Intelektual, Wawasan Kebangsaan, Sejarah Budaya, Talent Show, hingga sampai  penjurian akhir pada malam Grand Final PPTSI di Taman Ismail Marzuki.

“Para Finalis akan menjadi Duta-Duta Budaya sebagai tumpuan harapan bangsa, yang akan terus membawa nama baik bangsa Indonesia di kancah nasional maupun internasional, Menuju generasi muda yang mumpuni, berdaya, berbudaya, tercapai tujuan menjadi generasi Emas 2045,” harap Anna.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top