Profil

Afriani, Dukung Karier dan Passion Anak, Sambil Terus Berkarya dan Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim

MajalahKebaya.com, Jakarta – Komitmen untuk mewujudkan karier yang diimpikan tidak akan pernah lepas dari perjuangan dan kerja keras. Bahkan untuk menuntaskan suatu tanggung jawab dibutuhkan keyakinan dan kepercayaan diri. Afriani, perempuan kelahiran Pare-pare yang namanya berjaya di bidang fashion dan kecantikan ini berhasil mememberikan kontribusi terbaik sebagai pengusaha sekaligus aktif menjalankan kegiatan sosial.

Awalnya Arfiani memulai karier karena hobi memperhatikan dunia perempuan. Ia senang melihat perempuan cantik, anggun dan santun, sehingga ia ingin memiliki usaha yang dapat mempercantik dan memanjakan perempuan tanpa harus meninggalkan syariat Islam.

Lewat karier yang dirintis, Arfiani termotivasi oleh diri sendiri yang merasa kurang percaya diri dengan penampilan sehingga timbul ide-ide brilian untuk karya-karyanya. Ia merasa bebas berekspresi sehingga hampir setiap hari di mana pun dan kapan pun ia sering mendapatkan ide-ide kreatif. Saat ini, Afriani masih terus fokus mengembangkan bisnisnya sembari mengurus anak-anak yatim. Ia juga menciptakan generasi baru dari anak-anaknya yang kebetulan tertarik di dunia fashion.

“Mungkin karena melihat Mama-nya dari kecil dan sehari-hari selalu bertemu dengan baju dan dia sendiri memang senangnya dengan fashion. Ternyata dia tertarik desain, tetapi alirannya lebih ke casual sesuai dengan umurnya sendiri, seperti baju untuk pesta dengan desain yang komersil.”

Memiliki anak-anak yang menjadi generasi penerus di bidang fashion tentu saja membuat Afriani bersyukur. Kayla, sang buah hati sudah menekuni dunia fashion selama satu tahun. Tepat di ulang tahun yang ke-19, ia meluncurkan labelnya sendiri. Sebagai seorang ibu, Afriani tak pernah berhenti memberikan motivasi agar anaknya dapat menciptakan karya terbaik.

“Saya selalu mendukung walaupun aliran saya berbeda. Mungkin karena beda generasi. Dia kan masih kuliah dan masih belajar, kadang buat event konser sama teman-temannya. Untuk desain itu dia tidak bisa seperti saya kalau senggang langsung gambar. Jadi dia desain selama dua atau tiga bulan karena kalau merancang itu butuh mood bagus.”

Berani Hadapi Tantangan. Berpengalaman dalam berkarier bukan berarti semua berjalan mulus. Afriani harus menghadapi kendala terutama Sumber Daya Manusia. Menurutnya menjadi tanggung jawab yang berat dalam menjaga kualitas dan mendampingi penjahit agar tidak kehilangan mood.

“Terkadang kalau ada masalah keluarga itu juga berpengaruh sama jahitan. Saya berusaha merangkulnya secara kekeluargaan. Saya berusaha mencari solusi atau membantu menyelesaikan semampu saya. Belum lagi masalah keuangan yang dihadapi mereka dan pasti akan berpengaruh sama pekerjaan yang sekarang.”

Sementara dalam menghadapi persaingan di industri fashion, Afriani melakukan upgrade diri terhadap teknologi dan media sosial. Ia memahami betul kekurangan yang dialami. Afriani berusaha merangkul anak-anak untuk saling melengkapi, tetapi ia tetap mempertahankan ciri khasnya.

“Saya konsisten menjaga kualitas dari segi bahan dan jahitan. Menjaga agar harga masih bisa terjangkau. Alhamdulillah kita masih bisa bertahan melewati pandemi dan hadir juga di FX. Kalau untuk penjualan busana muslim ini selalu padat dan berkembang pesat.”

Kegiatan Sosial. Menyeimbangkan hidup dengan kegiatan sosial, Arfiani memiliki anak yatim, duafa dan keluarga cacat yang diasuh dan disantuni dengan jumlah cukup banyak. Meskipun tidak ada waktu dan anggaran khusus, tetapi buat Arfiani keberadaan mereka adalah penting. Ia sama sekali tidak merasa terganggu dan terbebani dalam mengurus mereka, tidak pernah ragu dan tidak takut kekurangan.

“Dulu saya dari rumah ke rumah, sekarang saya bangun kios yatim itu di kolong rel kereta Pangeran Jayakarta. Jadi di kolong rel itu kita izin dan kebetulan di bawah kolong rel itu ada Polsek. Awalnya kita hanya bangun seadanya. Setiap Jumat kita buka dan sampai sekarang sudah berjalan tiga tahun. Ini khusus untuk anak yatim yang ada di sekitar binaan kami. Benar-benar anak yatim karena semua ada surat kematian. Jadi tidak asal mengambil. Kebanyakan anak-anak itu korban pandemi. Ada sekitar 70% bapak dan ibunya yang meninggal serta harus mengalami perubahan kehidupan.”

Arfiani akrab melakukan kegiatan sosial sehari-hari karena semenjak kecil ia melihat orang tuanya. Setelah dewasa ia diberi kesempatan oleh Allah untuk berada di titik nol. Dari sana Arfiani harus melewati berbagai macam pengalaman hidup dan ia sangat paham dengan kesulitan hidup saat merasa kekurangan, ia mengerti dan mengetahui bagaimana kesulitan orang lain. Karena itu dalam perjalanannya memberikan kebahagiaan lewat kegiatan sosial yang dilakukan tentunya mendatangkan kebahagiaan dalam dirinya yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.

“Setiap hari Jumat kita buka semua jenis sembako. Boleh mengambil lima item yang mereka butuhkan. Ada gula, beras, telor, kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak belajar. Alhamdulillah kios yatim sekarang sudah banyak donatur. Sekarang sudah saya bangun beton karena kemarin pakai papan.”

Peran Seorang Ibu. Afriani merupakan sosok ibu yang tidak akan pernah melupakan ibunya yang sangat ia cintai. Meskipun Ibunda tercinta sudah meninggalkan dunia empat belas tahun lalu, tetapi ketika membahas peran seorang ibu tidak akan pernah ada habisnya. Ibunya merupakan sumber inspirasi dan selalu memberikan motivasi yang membangun.

“Saya belum bisa seperti Mama. Semua yang Mama pegang selalu berhasil dan saya banyak belajar dari Mama. Saya belajar bagaimana kita berbagi dan mengasihi orang lain. Antara karyawan dan anaknya sendiri tidak pernah dibedakan. Kenangan luar biasa sekali, makanya ketika Almarhumah meninggalkan kita, saya tidak pernah menyangka. Saya ingin seperti beliau.”

Sebagai seorang ibu, Afriani selalu berharap anak-anaknya harus berkembang lebih baik. Apapun yang dicita-citakan, ia tidak akan pernah berhenti untuk mendukung.

“Belajar dari pengalaman, terkadang orang tua menganggap itu salah padahal itu adalah passion mereka. Akhirnya mereka kurang berkembang, jadi mereka senangnya apa saya akan dukung selama itu positif. Jika ada hal yang negatif, saya akan langsung sampaikan.”

Harapan dan Rencana di Tahun 2024. Afriani memiliki rencana untuk menghadirkan satu toko dengan lokasi yang strategis. Selain itu, ia fokus mempersiapkan diri menuju 50 tahun. Semakin bertambah usia, Afriani mengungkapkan bahwa ia harus semakin dekat dengan Tuhan. Harapannya usahanya dapat berjalan lancar, tidak terlalu sibuk dan lebih fokus ibadah.

“Saya berharap bisa lebih maju, customer lebih banyak, jangkauan lebih meluas dan bisa ke luar Indonesia. Mungkin di Asia karena setelah habis pandemi sudah tidak pernah show di luar. Kemarin ada beberapa tawaran, tapi terbentur dengan suami yang sakit. Beliau kena stroke dan sekarang ternyata setelah DSA itu dari jantung. Saya lebih sibuk itu karena apa-apa harus saya kerjakan sendiri. Saya tidak mau melibatkan suami karena takut berdampak pada kesehatan.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top