Profil

Leny Maryouri, ST. MEngSc. PhD: Perempuan Merdeka Harus Mampu Bersaing

MajalahKebaya.com, Jakarta – Makna kemerdekaan yang paling utama bagi perempuan adalah kesempatan seluas-luasnya untuk mengekspresikan diri dalam semua aspek kehidupan, setara dengan pria. Dari sisi pekerjaan sudah sangat terbuka, perempuan bisa masuk pekerjaan ke mana saja, tidak ada batasan. Namun, menurut Leny Maryouri, yang akrab disapa Doktor Leny atau Jeng Leny, CEO PT Pembangunan Investasi Indonesia, kalau berbicara tentang feminisme, maka perempuan memang harus berani bersaing. Tidak bisa dipungkiri, sejauh ini kaum pria masih mendominasi dalam sektor-sektor formal.

“Kalau misal bersaing di formal dengan laki-laki agak susah, kita shifting ke informal, menjadi pengusaha ala kita, melakukan sales dari rumah dengan gadget yang lagi trend. Untuk pekerjaan formal akses itu masih keterbatasan juga, memang dalam kebijakan banyak mencantumkan bahwa proporsi wanita 30%, dan laki-laki 70%, di institusi mana aja. Misal beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman saat datang ke kantor cabang, walaupun sudah dibuka kesempatan tapi saat wawancara banyak pelamar wanita yang tidak lolos. Sudah dikasih kesempatan dan proporsi tapi yang lolos sampai akhir laki-laki semua, perempuan hanya satu di Bagian Administrasi. Karea kita juga harus tetap bersaing dengan laki-laki, yang dilihat kriteria kualitas pekerjaan,” ungkap Dr. Leny, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Forum Laut Masyarakat Transportasi Indonesia dan Masyarakat Infrastruktur Indonesia, Dewan Penasehat Teknik Sipil UGM, dan Dewan Pakar Bisnis Indonesia, juga Nasional Koordinator USAid pada IUWASH Program untuk Investasi pada Proyek Penyediaan Air Bersih.

Keunggulan yang paling utama perempuan adalah ketekunan dan kesabaran yang lebih tinggi. Menurut Dr. Leny, keunggulan ini agak susah diimbangi oleh laki-laki. Wanita lebih mampu menjaga emosi. Dan, impact ketekunan adalah hasil kerja yang lebih detail, kualitas kerja lebih tinggi. Selain itu, wanita juga memiliki jiwa seni yang tinggi karena memang menyukai keindahan. Sementara dari kualitas kerja, diakui Dr. Leny, laki-laki memiliki kecepatan, terutama kecepatan mengambil keputusan, dibanding perempuan yang terlalu menjaga perasaan, sehingga sedikit lebih lambat.

Maka dari itu, lanjut Dr. Leny, perempuan harus tepat memilih karier atau pun bisnis, yang sejalan dengan keunggulan-keunggulan tersebut. “Saya sempat mengikuti tokoh-tokoh internasional yang pernah saya baca, ahli trading Amazon, Google, yang lead chief-nya wanita yang saat itu mulai dari jualan biasa. Dan mereka jadi trainer di platform-nya, mengajarkan kepada traiders lain terutama ibu-ibu, apalagi perdagangan fashion dan kecantikan karena wanita punya naluri untuk terlihat cantik mulai dari baju sampai make-up. Jadi di situ kiprah wanita naik, tentu saja selama kualitas bagus dan harga terjangkau, seperti J.Lo dengan body lotion, Kylie Jenner dengan lips product.. produk internasional yang dijual dengan harga-harga yang moderat, bisa dijangkau oleh ibu-ibu,” tekan Dr. Leny.

Sudah Menjadi Passion, Apapun Tantangan Dihadapi

Tidak ada bisnis yang mulus tanpa tantangan dan rintangan. Khusus di Indonesia, menurut Dr. Leny, challenge atau tantangan bukan cuma persoalan gender, tapi sistem juga belum terlalu mendukung. Salah satu tantangan, misalnya, kebijakan Pemerintah yang tidak terlalu mendukung swasta untuk berkembang. Kebijakan mungkin cenderung mendukung swasta tapi secara langkah kebijakan, ternyata mempersulit swasta seperti dalam hal perizinan perusahaan dan perizinan proyek.

“Saya juga mengalami kesulitan tapi tetap learning by doing. Kemudian masuk ke international player, melihat bagaimana mereka manage keuangan dan investasi. Dan swasta itu harus punya kemampuan untuk menjamin proyek investasi sendiri. Jadi, tantangan dari A sampai Z itu ada semua, dan semua sudah saya jalanin. Misalkan ketika mempersiapkan proyek, permasalahan mulai dari pembebasan lahan, belum lagi kita harus membuat kajian, master plan dan kajian teknis lainnya..yang semuanya tentu tidak mudah. Belum lagi kalau di lokasi proyek tidak ada instalasi infrastruktur dasar misalnya belum ada air, listrik, bahkan jalan. Jadi kita harus minta izin mendatangkan atau mengadakan semua itu, apalagi kalau sampai harus minta jaringan gas, jadi lebih kompleks lagi, tidak ada yang simple,” ujar Dr. Leny.

Tetapi karena passion Dr. Leny di situ, memang secara background pendidikan sudah mengarah ke large scale of investment yang impact-nya besar, semua tantangan dihadapi dan dijalani dengan gigih. Saat ini, selain tetap memiliki perusahaan sendiri untuk pembiayaan infrastruktur, dan perusahaan manajemen investasi, di waktu yang sama Dr. Leny juga bekerja pada multilateral agencies seperti ADB dan USAid.

Jiwa juang dan kerja keras yang terpatri dalam diri Dr. Leny sangat kuat terbentuk sejak ia kecil berkat gemblengan dan didikan orang tua, terutama Ibunda tercinta. “Ibunda sangat memberikan pengaruh positif pada karakter saya. Ibunda mengajarkan kasih sayang, mengajarkan kesabaran, mengajarkan ketekunan dan persistent (gigih), mengajarkan kerajinan untuk mampu memotivasi diri sendiri (self motivation driven) untuk terus menerus melakukan pekerjaan. Ibunda juga yang mengajarkan bersedekah terus menerus dengan keiklasan. Juga mengajarkan mempunyai kemampuan berpenghasilan sendiri (self financing driven) untuk tidak bergantung pada siapa pun. Insha Allah saya akan selalu menjalankan apa yang Ibunda ajarkan dan bisa membangun masjid atas nama Ibunda,” ungkapnya dengan bangga.

Dr. Leny juga sangat terinspirasi oleh Ayahanda tercinta terutama dalam hal networking dan makro social ekonomi. Juga tokoh panutan seperti Usman Bin Affan yang mengajarkan tentang berbagi dengan menyumbangkan asset untuk amalan jariah, dan Siti Khadijah yang mengajarkan sebagai wanita pengusaha mandiri sukses yang mampu mendukung suami dengan sepenuh hati.

Dengan seabrek kesibukan yang dijalankan setiap hari, Dr. Leny tetap bisa membagi waktu dengan baik sehingga semua urusan bisa berjalan bagus. “Kalau kemarin masa pandemic bekerja full time-nya cuma 1 atau 2 kali datang ke kantor, sekarang agak stressful juga karena harus full time pagi-sore di kantor tapi saya juga masih punya pasukan untuk perusahaan sendiri. Tapi saya memang menyukai karena bisa memperkaya jaringan saya sendiri, memperkaya pengalaman dan kapasitas. Tinggal time management saja. Sehingga harus bijak memanfaatkan dan mengatur waktu supaya tetap produktif di berbagai pekerjaan. Jadi kalau untuk team saya itu work from home saja, lebih efisien, paling seminggu 2 – 3 kali meet up sambil dinner misalnya,” ucar wanita smart dan cantik, kelahiran Solo, 06 Oktober ini.

Berkiprah hingga Mancanegara

Setelah menyelasikan kuliah Master dari UNSW Sydney Australia, Dr. Leny kembali ke Indonesia dan langsung mendirikan perusahaan konsultan. Reputasi dan track record Dr. Leny dalam menjalankan perusahaan sangat membanggakan, hingga ia mendapatkan kepercayaan dari Gubernur DKI Jakarta dalam mengoptimalkan asset-aset daerah yang dikerjasamakan dengan investor.

Kesuksesan yang diukir Dr. Leny dalam membantu Pemprov DKI Jakarta antara lain dalam pengelolaan asset dan kerja sama pemerintah swasta pada pembangunan Grand Indonesia, Thamrin City, Jembatan Multi Guna Pondok Indah, Mal Kasablanca, Mangga Dua, dan juga lainnya. Juga membantu memformulasikan kenaikan Pendapatan Daerah Pemrov DKI Jakarta pada saat itu PAD 18 triliun per tahun menjadi 45 triliun, serta rencana penerbitan Municipal Bonds untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur di DKI Jakarta, namun penerbitan Municipal Bonds tidak dilanjutkan.

Kemudian Dr. Leny melanjutkan karier internasional di Singapore, menjadi anggota aktif PPP Promotor dan Asisten Professor di NTU, terlibat dalam perencanaan Pendanaan Pembangunan Marina Sand dan Marina Bay serta ekspansi perpanjangan MRT Singapore ke Marina Sand dan ke arah Tuas, West Jurong. Dan beberapa proyek dengan Commonwealth Secretariat untuk building capacity bagi para pejabat pemerintah negara-negara Commonwealth.

Selanjutnya Dr. Leny mengambil PhD di Curtin University, Perth Australia dan masih berlanjut dengan karier internasional, ikut terlibat dalam perencanaan pembangunan Ibukota Baru Kigamboni, Dares Salaam, Negara Tanzania, Africa. Selama menjadi mahasiswa PhD, ia juga membantu membentuk Kerja Sama Sister Province antara State of Western Australia dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Sister City antara Kota Fremantle dengan Kota Padang, sebagai bentuk hubungan bilateral Government to Government Australia dan Indonesia.

Begitu menyelesaikan PhD, di tahun 2018 Dr. Leny sudah kembali ke Indonesia untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia. Sempat bergabung dalam KPPIP Kemenko Ekonomi dan menjadi Staff Ahli di beberapa kementerian.  Sekarang ia lebih focus menjalankan perusahaan sendiri bekerja sama dengan para Investor Luar Negeri dan siap mendanai proyek-proyek infrastruktur pelabuhan. Saat ini ia tengah mempersiapan pendanaan untuk 6 ruas jalan tol dan pengembangan proyek air bersih dan sanitasi kota serta perumahan rakyat. Serta membantu multilateral agencies untuk philantrophy pada proyek-proyek yang memberikan impact kepada masyarakat yang luas dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Selalu Bersyukur

Bersedekah secara rutin, tidak pernah dilewati Dr. Leny setiap hari. Juga secara periodik menyalurkan sumbangan sebagai donatur kepada Yayasan Pesantren dan lainnya yang menyalurkan sumbangan ke daerah-daerah yang membutuhkan, serta ikut berdonasi membina beberapa Pesantren Hafiz Quran. Saat ini juga sedang dalam persiapan mendirikan Yayasan Keluarga dan Yayasan Perusahaan untuk bisa memberikan beasiswa dan menyalurkan CSR secara langsung. Semua itu, menurut Dr. Leny sebagai ungkapan rasa syukur atas semua yang telah dan akan diperolehnya dalam hidup dari Sang Pencipta.

Bagi Dr. Leny, rasa bersyukur itu harus dilakukan dari bangun pagi sampai nanti mau tidur lagi di malam hari. Secara tindakan juga melakukan hal-hal baik ke orang lain. “Saya sendiri, karena Ayah-Ibu sudah tidak ada, jadi rutin sedekah yang dulu istilahnya jatah bulanan Ayah-Ibu, sedekah ke mana saja, ke mereka yang lebih membutuhkan. Jadi setiap hari selalu saya distribusikan, kalau tidak sempet di hari itu saya tumpukkan nanti kalau sempet. Dan tidak harus ngasih yang banyak-banyak, yang penting berusaha mampu memberi makan pada fakir miskin setiap hari.”

Selain bersedekah dan berbagi. Dr. Leny juga selalu menjaga kebugaran tubuh dan pikiran dengan travelling ke kawasan wisata, seperti Bali atau Lombok dan luar kota sekitar Jakarta atau hiking ke daerah pinggiran kota Jakarta yang jaraknya 1-2 jam driving. Ia juga cukup aktif di Masyarakat Transportasi Indonesia, Masyarakat Infrastruktur Indonesia, dan Halal Trades. Selain itu, ia sering berolahraga bersama teman-teman, atau sekadar kumpul bersama untuk saling bercerita dan ngopi-ngopi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top