Profil

Liza Marielly Djaprie: Terinspirasi Papa-Mama Membangun Komitmen Dalam Profesi dan Kehidupan

MajalahKebaya.com, Jakarta – Masa kecil penuh warna dan kenangan yang tak akan pernah terlupakan bersama kedua orang tua menjadi motivasi dalam membentuk karakter kepribadian Liza Marielly Djaprie menjadi sosok perempuan yang tidak hanya mandiri dan kuat, namun juga fleksibel. Kelahiran Jakarta, 10 November 1977 ini, tumbuh dewasa dengan pengalaman dari kedua orang tua yang penuh perjuangan. Ayahnya berasal dari Belitung, bagian pelosok, sembilan bersaudara dan berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah. Ayahnya anak keempat, tetapi merupakan laki-laki pertama, sehingga rasa tanggung jawab telah tertanam kuat di dalam diri Sang Ayah.

“Papa saya berasal dari keluarga sederhana. Sebelum sekolah beliau harus berjualan manggis naik sepeda dengan jarak seperti Jakarta ke Bogor. Jadi memang keras sekali. Setelah lulus SMA, beliau masuk kuliah dan pindah ke Jakarta lalu mendaftar ke Universitas Indonesia. Waktu itu Papa hanya membawa dua potong baju dan uang dalam jumlah yang sangat terbatas. Sampai sini uang habis, lalu Papa pergi ke keluarga salah seorang pejabat yang cukup dikenal saat itu, karena memang keluarga Papa bertetanggaan dengan pejabat tersebut.”

Ayah Liza rela bekerja serabutan di keluarga pejabat tersebut, demi bisa mendapatkan pinjaman dana dan bertekad sukses untuk membantu keluarga di kampung. Kerja keras yang tidak mudah, namun di tengah perjuangan yang menguras tenaga, ayahnya bertemu perempuan yang dicintainya.

“Mama itu anak satu-satunya perempuan. Beliau menikah dengan Papa dengan cara kawin lari. Mama mualaf diajak Papa. Mama sempat kabur dari rumah. Akhirnya punya anak. Papa didikannya keras sekali kepada anak-anaknya, tapi sekarang saya paham manfaatnya. Beliau punya tuntutan untuk anak-anak agar bisa sukses. Intinya jangan menyusahkan orang dan jangan membuat malu. Saya anak kedua, kakak cowok dan adik cewek selalu memegang teguh prinsip Papa sampai sekarang.”

Berkat didikan Ayah yang keras dan tegas, kakak dan adik Liza berhasil menjadi Dokter Spesialis. Abangnya berprofesi sebagai Dokter Bedah Urologi dan adiknya sebagai Dokter Bedah Plastik.
“Abangku waktu lulus Fakultas Kedokteran harus mengambil profesi. Dia ditawarin Farmasi dengan gaji yang tinggi. Papa bersikeras jika masuk ke Fakulktas Kedokteran untuk menjadi dokter, bukan berjualan obat. Jadi selesaikan sampai terakhir, jangan karena ada godaan uang.”

Dari pengalaman tersebut, Liza yang gemar membaca, menonton, travelling dan olahraga ini belajar untuk tumbuh berkomitmen mengembangkan bidang pekerjaan masing-masing. Abang dan adiknya berkomitmen menjadi dokter. Sedangkan Liza berkomitmen menjadi seorang Psikolog yang ilmunya dapat bermanfaat bagi orang lain. Kini ia telah menyandang gelar Pascasarjana Profesi Psikologi Klinis Dewasa, Sertifikasi Hipnoterapi Klinis, Sertifikasi Life Coach, Sertifikasi Grafologi (Ilmu Tulisan Tangan) dan Sertifikasi Behavior Analyst.

Selain fokus pada profesi utama, Liza tercatat aktif pada beragam kegiatan lain sebagai pembicara bertema psikologi untuk perusahaan, sekolah, universitas maupun komunitas, Expert Psychologist untuk Orami, platform parenting Indonesia dan Dosen Pembimbing untuk mahasiswa S2 Profesi Klinis Dewasa Universitas Atma Jaya.

“Papa pernah datang ke acara seminar dan saya sampai merasakan haru yang luar biasa melihat Papa dan Mama ada di deretan audiens yang hadir di seminar. Papa dan Mama adalah orang yang paling berjasa dan berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. Mereka selalu mendukung dan tidak pernah letih mendampingi anak-anaknya. Waktu kakak sekedar lari marathon saja ditunggu di garis finish. Jadi mereka selalu support.”

Penuh Eksperimen. Ibunda dari Taqi Hammam Ariza (Semester 6 Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia), Muhammad Raffi Aryadhiaputra (Kelas 2 SMP Tara Salvia), Keeva Dipankara Awaza (Kelas 4 SD Tara Salvia) dan Zene Pasifica Arieza (Kelas 1 SD Tara Salvia) ini, sangat menyukai tantangan. Ia suka bereksperimen dalam diri terutama eksperimen rambut. Di tahun 2009, Liza memutuskan untuk memangkas rambut menjadi botak plontos. Ia tidak merasa malu atau berbeda karena Liza menyadari bahwa ia mempunyai hak atas dirinya sendiri.

“Saya punya hak atas diri ini. Mau apapun diri ini, tetapi saya punya tanggung jawab sosial kepada lingkungan terutama tempat kerja. Intinya mari kita berkompromi. Saya bisa terserah saya, tetapi harus berkompromi dan punya tanggung jawab sosial. Seperti saat botak, saya selalu bertanya pada pihak penanggung jawab tempat bekerja atau dengan siapapun saya sedang bekerja bersama. Kalau mereka meminta saya pakai wig, maka saya tidak ada masalah pakai. Namun kalau pihak tersebut tidak masalah saya bekerja dengan kepala botak ya saya tidak pakai wig. Di jam bebas, seperti saat saya ke mall atau jalan-jalan, ya saya juga tidak pakai wig.”

Ungkapan Rasa Syukur. Keheningan untuk menyerahkan pikiran dan hati kepada Sang Pencipta dituangkan dalam ungkapan rasa syukur yang tak akan pernah usai. Sebagai seorang perempuan yang berhasil menuntaskan target-target gemilang, Liza selalu mengucapkan syukur untuk semua yang sudah didapatkan. Terkadang ia berpikir apa yang telah dilakukannya sejak lampau sampai saat ini, hingga bisa dapatkan limpahan begitu banyak berkah serta anugerah.
Liza tak henti memanjatkan doa agar diberikan kesehatan dan kebersihan hati serta dianugerahi rezeki agar dapat berbagi dengan uang hasil kerja kerasnya. Saat ini Liza sudah merasakan posisi terbaik untuk karier dan hidupnya, ia tinggal menjalani sepenuh hati. Selain itu, Liza berusaha untuk tidak menutup mata pada keadaan dengan berbagi dan aktif melaksanakan kegiatan sosial.

“Ada banyak cara untuk saya melakukan kegiatan sosial. Terkadang spontan secara pribadi dan anak-anak saya perkenalkan anytime. Baik di jalan ketemu orang yang membutuhkan, saya akan mengajari anak untuk berempati. Saya juga suka membuat acara sosial dengan melibatkan anak-anak.”

Panutan dan Inspirasi. Pencapaian yang telah diraih melalui proses panjang tak lepas dari dukungan orang-orang terkasih. Kedua orang tua tercinta menjadi sumber panutan dan inspirasi utama. Sosok orang tua, bagi Liza telah membawa dampak luar biasa pada anak-anak.

“Papa dan Mama menjadi panutan saya dan selalu membawa dampak luar biasa pada anak-anaknya. Dari Papa Mama saya banyak belajar tidak hanya tentang kehidupan namun juga tentang hubungan suami istri. Bagaimana saling menyayangi, saling mendukung, saling mendampingi dan saling menjaga.”

Liza mengungkapkan bahwa ia sering berargumen atau berantem kecil dengan ayahnya. Namun itu tidak mengurangi rasa cinta dan pengalaman belajar dari Sang Ayah. Kedekatan yang terjalin erat dan ikatan emosional yang tak tergantikan membuat ia bersyukur dibesarkan dan didampingi oleh kedua orang tuanya.

“Sampai sekarang Papa Mama masih ada dan Alhamdulillah sehat luar biasa. Kita selalu coba rutin setiap bulan memberi sedikit yang dirasa mampu, walaupun mungkin tidak ada artinya untuk Papa Mama. Karena Alhamdulillah mereka berkecukupan, tapi kita sekeluarga suka bercanda ngasih ini itu, nanti tiba-tiba Papa dan Mama kirim foto lagi makan di Soto Kudus Blok M dan pamer ini uang jajan dari Liza lho. Kalau kaya gini saya suka terharu karena menjadi anak yang dihargai oleh orang tuanya.”

Selain kedua orang tua, suami tercinta, Muhammad Arief Budiman, seorang pebisnis, tidak pernah berhenti mendukung Liza dengan penuh tanggung jawab. Liza bersyukur suaminya selalu ada untuk dirinya yang tidak bisa diam. Suami juga selalu bersikap terbuka, legowo dengan segala cerita masa lalu.

“Suami selalu mendukung penuh diri saya yang tidak bosan mengaktualisasi diri, selalu sigap menjadi partner luar biasa dalam berpasangan serta mendidik anak dan bertanggung jawab. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, namanya hubungan jika tidak pernah ada konflik justru tidak akan pernah berkembang, Suami menjadi pendukung terbaik di kehidupan saya untuk selalu menjadi perempuan yang lebih baik.”

Posisi Liza sebagai seorang istri dan ibu yang sejak 8 tahun lalu membina keluarga campur, paham betul bahwa keluarga tidak hanya yang sedarah sekandung. Namun ia bersama-sama suami dan 4 anaknya belajar bahwa kelekatan emosional yang erat dapat dipupuk dari kebersamaan untuk menumbuhkan respect dan rasa saling menyayangi.

Peran Perempuan Indonesia. Perempuan yang berkarya dan menjadi inspirasi bagi keluarga serta anak-anak membutuhkan keyakinan dan kepercayaan diri. Menurut Liza, sudah saatnya perempuan dapat berjalan bersama dengan para laki-laki. Tidak hanya untuk selalu jalan berdampingan, tetapi dapat berjalan beriringan atau memimpin di depan.
“Bisa saja kita yang dibimbing di belakang, namun bisa juga kita yang memimpin di depan. Hidup banyak sisi cerita. Berlatih saja untuk bisa take and give secara fleksibel. Tapi semua memang berakar dengan keyakinan dari dalam diri bahwa perempuan punya hak yang sama untuk tumbuh berkembang dan mengaktualisasi diri. Berani berdiri dengan tegak, mengasah ketangguhan dan menjalani semua takdir secara cerita kehidupan yang ditakdirkan Tuhan.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top